
Syifa menatap keluar jendela, hanya hamparan putih yang terbentang sejauh mata memandang. Bibirnya tak henti mengutas senyum begitu pun saat pandangannya beralih kepada laki-laki yang ada disebelahnya.
"Hm ... Imut banget sih tidurnya." ia bergumam melihat Hafiz yang tertidur sambil meminjam bahu kanannya
Ia pandangi wajah itu lekat-lekat. Memindai setiap bagian yang Syifa rasa selalu memancarkan aura positif meskipun laki-laki itu sedang marah.
"Apapun untuk mu, Mas." ucapnya dalam hati
Flashback
"Zi!"
"Ya!"
"Aku sudah sangat yakin sekarang, kalau kau disana benar-benar bahagia. Takdir yang kita jalani tidak salah, memang diawal-awal sangat pahit tapi berakhir manis kan?!Sekarang kalian sudah menjadi keluarga yang lengkap dengan kehadiran anak.
Zi ... mungkin tidak seperti Yoli, aku rasa suami ku sedang marah tentang hubungan kita sekarang ini, Zi."
"Ah ... Kenapa dia ke kanak-kanakan begitu!!?"
"Ck ...ini bukan salahnya, ini salahku. Mungkin ... Kalau kau ada diposisinya, kau juga akan merasakan hal yang sama."
"Zi ... Jaga anak, istrimu dan juga dirimu baik-baik ya. Aku harap ini adalah telepon terakhir kita. Jangan pernah hubungi aku lagi, Zi. Aku tidak mau suamiku terluka karena ini."
Flashback End
"Jangan pernah menganggap remeh masalah sekecil apapun, Nak. Secepat mungkin harus segera diselesaikan. Agar tidak menjadi masalah besar.
Ada kalanya, mengalah itu lebih baik dari pada mencari pembenaran tentang apa yang kita lakukan yang ternyata suami kita tidak menyukainya."
"Kalau suami menjadi api, kita harus menjadi air. Begitupun sebaliknya. Perceraian akan menimbulkan sesal, Nak. Meskipun keduanya tidak mau mengakuinya. Karena segala sesuatu yang pertama itu adalah sebuah pengalaman berharga dan istimewa."
"Hafiz mencintaimu kamu, Fauzi juga. Tapi yang menjadi suamimu adalah Hafiz. Hafiz yang seharusnya kau dahulukan. Perasaan Hafiz yang seharusnya selalu Syifa jaga. Bukan Fauzi, dia sekarang hanya teman lamamu saja."
Syifa teringat nasehat dari sang mama, yang akan ia rindukan tiga tahun ke depan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Mobil hitam melaju dengan kecepatan sedang keluar dari area bandara. Syifa dan Hafiz menghirup kembali udara Eropa.
"Pakai syalnya jangan dilepas, nanti flu." Hafiz memperbaiki syal yang hampir lepas dari leher Syifa
"Nggak apa-apa, Mas. Syifa kan pakai jilbab!"
"Ini bukan Indonesia, Sayang." ucap Hafiz membesarkan bola matanya
"Oke, oke!"
Dalam percakapan mereka, dering handphone menjedanya. Hafiz memgangkat panggilan tersebut, tidak berapa lama telepon genggamnya ia berikan kepada Syifa.
"Ini Akmal. Handphone kamu mati?" ucap Hafiz memadukan pernyataan dengan pertanyaan sekaligus.
"Eh ...." Syifa memeriksa ponsel di dalam tasnya, lalu menyeringai. Gadis itu lupa mengaktifkan kembali ponselnya setelah turun dari pesawat
Syifa mengangkat telpon itu dan seketika menjauhkannya dari telinganya.
"Mau buat pecah gendang telinga kau, Kamal! Apa??!"
"Dimana kalian?"
"Hm ... Dijalan. Sekarang menuju Hamburg. Kenapa? Kau mau menyusul kesini? Membawakan kado pernikahan untuk kami? Ah ... Tidak usah repot-repot."
"Ngapai ke Hamburg! Bukannya kata Papa kalian mau ke Koln? mau melanjutkan study mu?"
"Iya, tapi kan mau ketemu bunda Corla dulu, Coy! Haha"
"Apa??! memang bandit kau ya! Haha"
"Kadonya nanti saja lah ku kasi kalau kau sudah pulang ke Indonesia."
"Busuk la nanti, lama kali aku lo disini."
__ADS_1
"Kau pikir kado ku apa rupanya? Kue!"
"Ya, bisa jadi kan. Kau kan pelit, mana mau kasi aku kado mahal!"
Kakau Akmal dan Syifa sudah terkoneksikan maka para tetangga yang bersebalahan duduk dengan mereka akan merasakan seperti menumpang di rumahnya sendiri.
"Kak, aku sudah menikah!" ucap Akmal, membuat Syifa yang terus menceracau terdiam
"Apa???! Serius, Dek?"
"Iya, Aku sudah jadi suami sekarang!" jawab Akmal bangga
"Eh, Vc ... Vc! Aku mau lihat istrimu.
"Ooo ... Tidak bisa, ipeh. Kau boleh melihatnya nanti setelah kau pulang ke Indonesia."
"Ya Allah, lamaaa kali lah itu, Kamal!! Aku penasaran sama istrimu. Betulan bule? kok mau dia sama kau! Jelek pasti dia itu!" Hafiz geleng-geleng kepala melihat istrinya.
"Selamat ya, Mal. Semoga menjadi keluarga samara. Jadi kapan pulang ke Indonesia?" Hafiz mengambil alih pembicaraan
"Aamiin ya Allah. Insya allah setelah tugas istri selesai, Bang. Tiga bulan lagi." jelas Akmal pula
"Apa pekerjaan istrimu? Tentara juga?" sambung Syifa
"Dokter, Kak." jawab Akmal singkat
"Haaaa!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.