
Langkah kaki itu tampak sangat tergesa-gesa. Adam tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalana berlawanan arah dengannya.
"Ops! Sorry." ucapnya tanpa memperhatikan, pandangannya menyapu gedung yang berukuran sangat luas tersebut berharap sosok yang ia cari ada disana
"Kenapa sibuk sih!" Adam mencoba menelpon, namun nomor yang ia hubungi sedang sibuk.
Adam terus berjalan, hanya satu tujuannya. Dimana hanya itu saja jalan yang akan dilalui oleh pemegang tiket pesawat yang akan terbang meninggalkan negara Jerman.
Kedua tangannya bertumpu pada lutut, nafasnya memburu. Keringatnya jatuh berkejaran.
"Dam!" seseorang memanggilnya, laki-laki itu langsung menoleh
"Akhirnya ...." laki-laki itu kembali berlari menghampiri perempuan yang ia cari
"Syukurlah aku belum terlambat." ucapnya,
"Minum dulu. Ayo kita duduk disana." Syifa memberikan sebotol air mineral.
"Duduk dulu baru minum!" tegurnya melihat Adam yang minum sambil berjalan
"Haus." jawab laki-laki tersenyum
Beberapa menit yang lalu
Syifa yang sedang duduk membaca buku di ruang tunggu meletakkan bukunya karena handphonenya berdering.
Hafidzh yang pergi membeli sesuatu menelponnya.
"Ya, Mas. Ada apa?"
"Adam mencarimu. Apa aku harus mengusirnya?"
"Dimana, Mas?"
"Di bawah. Sepertinya dia akan ke naik tu." ucap Hafidzh sambil memandang laki-laki yang tadi menabraknya
"Mas ke atas ya. Nanti dia macam-macam lagi sama kamu."
__ADS_1
"Hm ... katanya Mas masih mau beli sesuatu. Belum kebeli kan? ya sudah mas selesaikan urusan mas saja dulu. Adam biar Syifa yang tangani, Insya Allah nggak apa-apa, Mas. Nih ... Syifa sudah lihat dia. Adam nggak akan berani berbuat macam-macam di tempat seperti ini."
"Ya sudah, Mas akan cepat selesai. Hati-hati." tutup Hafidzh
Syifa memegang dadanya, ada rasa yang tidak biasa. "Kenapa aku merasa senang dapat perhatian seperti itu dari dia!" gumamnya
\=\=\=\=
"Ini!" Adam memberikan sesuatu yang ia ambil dari saku jasnya.
"Apa ini?" Syifa heran melihat banyaknya uang tunai yang ada didalam amplop tersebut
"Itu uang ganti rugi." tatap Adam, Syifa semakin mengerutkan alisnya
"Kau kira semuanya selesai dengan ini?" Syifa mengangkat amploo tersebut
"Bukan gitu maksudnya. Dengar dulu ....
Sewaktu Papa mu menjamin aku sewaktu di penjara. Aku sudah mengatakan kepadanya bahwa, semua biaya perawatan mu selama di rumah sakit aku yang bertanggung jawab. Awalnya Papamu mengiyakan, mungkin agar aku tidak terlalu banyak bertanya kepadanya. Dan kami langsung berangkat ke rumah sakit. Ternyata setelah kau sadar, Papa mu menolak pemberian ku. Beliau mengatakan 'Kesadaran anakku sekarang sudah melunaskan semua biaya yang kau anggap hutang itu, Terimakasih karena sudah membantu menjaganya', Saat itu aku melihat seorang laki-laki menangis di hadapanku. Aku merasakan sekali begitu berharganya kau untuknya." Adam teringat pertemuannya di penjara waktu itu dengan Papa Adzka
Tapi lama kelamaan, ah ... kau tau lah. Perasaan itu datang lagi. Aku jadi hilang kendali, aku jadi menginginkan hibungan kita menjadi lebih.
Hah ... benar kata dokter Ehren, aku memang laki-laki yang tidak tau diuntung" Adam tertunduk, wajahnya memang benar-benar tampak menyesal
"Aku benar-benar minta maaf, Fa. Ku pikir setelah apa yang aku lakukan kau membenciku. Tapi ternyata kau malah menyuruh suster untuk mengobati luka ku. Kau benar-benar baik, Fa." Adam menatap Syifa dengan mata berkaca-kaca. Ucapan juru rawat yang membersihkan lukanya tempo hari kembali terputar di server ingatannya.
"Orang baik sepertimu harus mendapatkan orang yang lebih baik. Bukan aku." Adam tersenyum. Syifa mendengarkan dengan tersenyum. Hatinya benar-benar bersyukur melihat Adam benar-benar berubah.
"Aamiin. Alhamdulillah ... kau sudah jauh lebih baik sekarang, Dam. Suatu saat nanti kau akan menemukan perempuan yang benar-benar kau inginkan. Dan ingat! jangan pernah mendendam dan tekan terus egoismu. Jangan sampai melampaui sisi baikmu." jawab Syifa sambil menyisipkan nasehat dan motifasi
"Maafin aku ya, Fa." ucap Adam lagi
"Aku sudah memaafkan mu, Dam." senyum Syifa menunjukkan barisan gigi putihnya
"Kalau begitu selamat jalan. Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupakan aku." Adam berdiri dan mengulurkan tangannya
"Terimakasih, senang berkenalan dengan mu." Syifa menyambut uluran tangan Adam
__ADS_1
"Boleh aku minta tolong, Dam? untuk yang terakhir kalinya." ucap Syifa serius
"Apa itu?"
"Tolong berikan ini kepada yang membutuhkan." Syifa mengeluarkan uang yang ada dalam amplop yang tadu Adam berikan.
"Kau tidak menerimanya?" tanya Adam kecewa
"Hey ... jangan salah. Ini uang ku. Aku sudah menerimanya dari mu. Dan aku ingin menambah kebaikan dengan memberikan ini kepada orang yang membutuhkan melalui kamu." terang Syifa pula
"Oh ... Tuhan, apa kau punya adik perempuan Syifa?" pertanyaan Adam bisa dibaca Syifa kemana arahnya
"Seandainya aku punya aku akan mengatakan kepadanya jauhi laki-laki yang bernama Adam Abizard!" jawab Syifa sambil tertawa
"Bye Adam." Syifa melambaikan tangannya, kembali gadis itu masuk kedalam ruang tunggu
Adam masih berdiri memandanginya, laki-laki itu seperti tidak ingin meninggalkan tempat itu.
Setelah Syifa hilang dari pandangannya, Akhirnya laki-laki itu pun pulang.
Semantara Hafidzh yang duduk tidak jauh dari mereka pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruang tunggu pula.
"Alhamdulillah ...." ucapnya.
.
.
.
.
.
Yok di koment. Kasi saya saran agar novel ini jadi keren dan bisa panjang episodenya.
Terimakasih yang sudah rela membaca sampai episode ini. Dan terimakasih juga buat yang like dan komentar ya mantenan. 🙏🙏
__ADS_1