
"Huuuuaaaaa!!!!!" teriak Syifa, penyatuan antara sedih, kesal, marah berbaur menjadi satu
Tempat tidur yang biasanya rapi bahkan saat bangun tidurpun kini seperti sedang diterpa gelombang kekacauan yang membuatnya bukan seperti tempat tinggal lagi.
Syifa menjadi sering uring-uringan, menjadi perawan tua seolah menjadi mimpi buruk yang akan ia songsong beberapa bulan kedepan, andai adiknya Akmal memang benar-benar nekad menikah tanpa persetujuan darinya.
Telpon genggamnya berdering nyaring, dengan malas gadis itu bangun dari tidurnya yang sudah berubah-ubah arah 360 derjat.
"Apa sih!" handphonenya kembali ia letakkan ketempatnya dengan rasa kesal setelah melihat siapa yang melakukan panggilan telpon tersebut.
"Nggak tau apa orang galaw gara-gara dia!!!" ucapnya membuka pintu kamar yang menyatukannya kebagian balkon kamar
Syifa menghirup aroma pagi dalam-dalam, hm ... Sebenarnya bukan pagi lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih limabelas menit, hanya saja cuaca sedang mendung, sehingga waktu seolah masih jam tujuh pagi.
Syifa merentangkan kedua tangannya, menampung rintik gerimis yang mulai turun. Tetasan air yang menyentuh kulitnya seperti pengobatan akupuntur yang membuat ketegangannya mengendur.
"Kakak! Jangan main hujan!!" suara dari bawah sana membuatnya kembali tersadar dan menatap ke asal suara
"Mama!" ucapnya tersenyum paksa, melihat mama Juna dan Papa Adzka duduk di gazebo.
"Sarapan sini, Sayang!" ajak mama Juna, Syifa mengangguk dan masuk kedalam kamarnya kembali
Namun bukannya gadis itu langsung turun bergabung dengan kedua orangtuanya, tapi Syifa malah duduk kembali ke kasurnya yang seperti kapal pecah.
"Oh ... Iya, hari ini mau pergi ya." gumamnya mengingat sesuatu.
__ADS_1
Syifa pun berkemas mengambil mini ransel kesayangannya dari dalam lemari.
"Eh!" Syifa terkejut saat beberapa kunci yang diikat menyatu jatuh tepat diatas kakinya. Ternyata ranselnya tidak terkunci.
"Ya Allah! Iya, Ini kunci rumahnya mas Hafiz!! Bukannya kemarin sudah aku kembalikan ya ...." gadis itu memukul-mukul jidatnya
"Haduuuuuuuh ...." keluhnya.
"Kamu lagi!! Buat aku tambah galau aja! Bilang sana ke tuan mu, kalau lamar aku ke tiga kalinya aku nggak nolak deh. Sueeer!!" Syifa berbicara kepada tumpukan kunci yang ada dilengan kanannya.
Kewarasannya benar-benar sudah diambang batas.
\=\=\=\=
"Apanya?!" mama Juna mengikuti kemana ekor mata suaminya berpusat
"Kakak! Jangan main hujan!!" ucap mama Juna melihat Syifa yang sedang menangkap turunnya gerimis
"Stress dia, Mas. Akmal sih ada-ada saja! Tapi ... Mau dilarang juga kasian kan dia." jelas Mama Juna, Papa Adzka mengangguk
"Haidnya jadi nggak lancar. Persis seperti aku dulu. Sebenarnya nggak dibawa baper sih, tapi kebawa aja sendiri. Otomatis kepikiran gitu, Mas."
"Ya mau gimana lagi. Akmal juga nggak bisa disalahkan kan. Dia juga sudah wajar loh berkeluarga"
"Hah ... Semoga saja calon yang bunda bilang cocok deh sama si kakak nanti."
__ADS_1
"Aamiin!"
"Sudah sana liatin anaknya, kita jadi belanja kan?!"
"Jadi dong, Mas. Sekalian belanja oleh-oleh buat bunda ya, Mas!"
"Iya,Boleh!"
"Tapi nggak usah bawa sambel-sambel teri segala ya, Ma. Ntar cuman ngasi avisec aja!"
"Iya, ntar kita paketin saja teri medannya ke Bunda. Biar bunda yang sambel sendiri."
.
.
.
.
Maaf ya, sudah beberapa hari nggak update ceritanya soalnya saya dan keluarga serumah pada sakit ðŸ˜
Ini sedang pemulihan mohon doanya ya teman-teman,
Jaga kesehatan 🥰
__ADS_1