The Secound Choice

The Secound Choice
Tujuh Puluh


__ADS_3

Syifa sedang membereskan kopernya, beberapa baju milik Hafiz ia pindah juga ke dalam kopernya tersebut agar ransel yang Hafiz bawa hanya berisi jas kerjanya saja.


"Muat, Sayang?"


"Muat kok, Mas. Syifa bajunya nggak banyak." jelasnya sambil tersenyum kepada Hafiz yang sedang duduk di tepi kasur sambil bermain handphone.


"Mas duluan keluar deh. Nggak enak sama yang lain."


"Ya bareng, Ayo."


"Ck ... Nanti lah, Mas. Belum kering." Syifa memegang handuk yang melilit rambutnya.


"Mau pinjam hairdryer malu, Mas?" ucap Syifa, Hafiz pun tersenyum. Lalu berjalan mendekati istrinya.


"Ya sudah, Mas pinjamin dulu!" ucapnya sambil memeluk Syifa


"Eh ... jangan, Mas. Malu ...." rengek Syifa


"Hehe, becanda." Hafiz memeluk dan mencium pucuk kepala Syifa lekat-lekat.


"Mas keluar duluan ya! Mas juga sudah lapar ini." Hafiz memegang perutnya


"Astaghfirullah, Mas. Syifa lupa. Mas keluar duluan deh. Lima menit lagi Syifa nyusul!"


"Rambutnya? Jangan pakai hijab dalam keadaan rambut basah ya. Nanti kepalanya pusing loh."


\=\=\=\=


Para lelaki berkumpul diruangan depan, tempat pemilik rumah menerima tamu, tempat yang menjadi saksi bisu proses ijab qabul yang terjadi tadi malam.


"Assalamu'alaikum!" ucap Hafiz


"Wa'alaikumsalam warahmatullah." jawab semuanya serempak


"Wah, betah ya Fiz dikamar!" ucap kakek suami nek Lia


"Ayah kayak nggak tau saja." jawab Papa Adzka

__ADS_1


"Jadi ziarah ke Umma, Nak?" tanya Abi Dzaki pula


"Insya Allah, Abi. Syifa lagi beberes." jawab Hafiz mendudukkan tubuhnya disebelah Abi nya.


"Lalu balik ke Malangnya kapan, Fiz?"


"Insya Allah ... Besok, Pa. Nggak apa-apa, Pa, Syifa ... Hafiz bawa?"


"Loh, jadi. Apa boleh Papa melarangnya? Boleh, Tadzh?" tanya papa Adzka pada besannya, Abi Dzaki hanya tertawa mendengar pertanyaan itu


"Seandainya boleh, Papa juga nggak akan tega misahin kalian! Titip jagain Syifa ya, Fiz. Usahakan berikan kebahagiaan kepada nya, jaga dia melebihi Papa menjaga nya, kalau Hafiz sudah tidak menginginkan anak Papa lagi, Kembalikan Syifa ke Papa." mata papa Adzka berkaca-kaca


"Insya Allah, Pa. Hafiz akan berusaha semampu Hafiz untuk memberikan kebahagiaan dan menjaga Syifa dengan baik. Semoga Allah menjaga hati ini untuk selamanya menginginkan Syifa menjadi istri saya dan tidak akan pernah mengembalikan Syifa ke Papa lagi."


\=\=\=\=\=


Syifa melambaikan tangannya kepada keluarganya, airmatanya jatuh satu-satu meski dengan cepat ia hapus namun mata suaminya menangkap kejadian itu.


Hafiz menggenggam erat dan menautkan jemari mereka, memberikan kekuatan kepada gadis itu melalui kontak fisik.


"Insya Allah nanti kalau Mas libur kita akan ketemu Papa dan mama lagi. Tapi saat ini Syifa ikut Mas dulu ya." ucap Hafiz lembut


"Mas ... kita nggak jadi Ziarah?"


"Jadi dong! Mas mau ngenalkan Syifa ke Umma." jawab Hafiz dengan senyum yang tidak pernah pudar


"Umma! Umma itu seperti apa sih, Mas? Syifa pengen kenal Umma juga."


Dan sepanjang perjalanan Madinah- Mekkah pun dihiasi dengan cerita tentang seorang wanita yang paling di cintai oleh sang dokter spesialis.


"Umma, Hafiz sudah mewujudkan impian Umma yang lainnya. Umma sekarang berbesan dengan sahabat Umma, Ma. Dan Hafiz juga sekarang punya Mama" ucap Hafiz dalam hati, sesekali menatap keluar melihat bukit bebatuan dan rumah-rumah dengan warna yang hampir sama semuanya.


"Tidur lah. Nyamannya gimana? Mau mas pinjamin pundak? Atau mas pangku saja sini?" ucap Hafiz melihat mata istrinya yang merah


"Pusing, Mas."


"Loh, tu kan! Ini pasti karena rambutnya masih basah ni. Kita beli hairdryer dulu deh. Harus di keringin dulu rambutnya."

__ADS_1


"Terus Syifa boleh buka hijabnya?" Syifa memegang jarum yang menyatukan antara kain di bawah dagunya


"Eh, jangan!!!" Hafiz terkejut dan langsung memposisikan tubuhnya ke depan menutupi Syifa agar tidak terlihat dari kaca spion pengemudi taksi.


\=\=\=\=


Tidur Syifa sangat lelap meski tertidur dalam posisi duduk. Ponselnya bergetar, Hafiz melihat ponsel yang Syifa letakkan dibangku penumpang tepat disebelahnya. Hafiz melihat nama yang tertera di layar.


Meski panggilan itu sudah kali ke tiga, Hafiz tidak mengangakatnya ataupun membangunkan Syifa. Ia bersikap seolah tidak tau apa-apa dan tidak mendengar getar handphone tersebut.


Beberapa menit setelahnya akhirnya Syifa terbangun dengan tersenyum menatap Hafiz lekat-lekat.


"Kenapa kok senyum-senyum?" Hafiz balas menatap


"Enggak apa-apa. Seneng aja!"


"Tadi handphonenya bergetar terus tuh."


"Mas nggak angkat? Papa atau Mama? Atau Akmal?"


"Enggak, lihat saja sendiri"


Syifa pun mengambil telepon genggamnya dan melihat panggilan yang tidak terjawab. Degup jantungnya mengencang, bukan karena nama yang tertera dalam panggilan itu melainkan timbulnya rasa takut suaminya akan salah paham.


Syifa melirik ke arah Hafiz yang sedang menatap keluar jendela.


"Mas ...." panggil Syifa ragu


"Telpon balik saja, siapa tau penting."


"Hm ... Enggak kok, Mas. Nanti kalau di hubungi lagi boleh Syifa angkat?" tanya Syifa hati-hati


.


.


.

__ADS_1


Like, komen, dan berikan rate ya. 😊🙏


__ADS_2