
Satu persatu baju, celana beserta perlengkapan lainnya yang berada dalam koper, kini sudah berpindah kedalam lemari yang lebar dan tingginya memenuhi satu bagian dinding kamar.
Syifa menyeka peluh yang tidak seberapa itu, rambutnya ia cepol ke atas menampakkan leher jenjang bak mini jerapah.
"Rajin kali, Fa! Biar Bibi saja yang bereskan sisanya!!" Mama Juna masuk kedalam kamar tersebut. Tubuhnya mendarat diatas tempat tidur king size yang sudah lama tidak dihuni itu
"Nggak ada sisanya, Ma. Beres!!" Syifa menepuk-nepuk kan kedua tangannya
"Sudah biasa mengerjakan semuanya sendiri, Ma. Nggak perlu asisten." ucapnya sombong. Syifa kini sudah berada disamping mama Juna. Keduanya duduk bersisian
"Iya, kamu nggak perlu asisten tapi perlu suami!!" ucapan mama Juna menjatuhkan kesongongan anak gadis satu-satunya tersebut
"Ck! Belum ada jodohnya, Ma ...." elak Syifa
"Ya belum ada lah, nggak ada usahanya gimana mau ada!
Jangan sampe keluarga mereka tuh mikirnya kamu nunggu Fauzi jadi duda ya!!" sambung Juna lagi
"Ya Allah, Mama ... Kalau ngomong tuh suka bener deh." jawab Syifa menatap lekat wajah sang ibunda
"Apa!!!
Jangan macam-macam kamu!" raut wajah Mama Juna berubah serius, sebaliknya Syifa malah berusaha menahan tawanya yang akhirnya pecah juga
Tubuh itu bergetar mengikuti ritme tawanya yang kian tidak berhenti.
"Mama ... Syifa nggak sekejam itu, Ma. Udah ah ... Nggak usah cerita jodoh napa." Syifa memegang perutnya menahan tawa melihat mimik muka Mama Juna yang nggak mengerti kalau dia hanya bercanda
__ADS_1
"Nggak cerita jodoh gimana!" mama Juna menjeda kalimatnya
" Mama itu khawatir, Fa. Mamanya Fauzi itu sering telpon Mama. Dia benar-benar merasa berdosa karena sudah memisahkan kalian. Mama takut apa yang mama pikirkan kejadian. Mama nggak mau kamu menjadi madu istri pertama Fauzi!!" ucap Mama Juna dalam hati
"Ma!! Mama!!" Syifa mengelus pipi mama Juna yang melamun
"Mama kenapa? Kok jadi sedih gitu"
"Hm ... Nggak kok. Mama hanya memikirkan sesuatu." jawab Mama Juna
"Jangan sedih-sedih lagi ya, Ma. Syifa nggak suka lihat Mama sedih,nanti mama sakit lagi." kini Syifa sudah berada dalam pelukan Mama Juna, gadis itu benar-benar bersikap manja dengan wanita yang telah melahirkannya itu
"Mama kok rasanya kepengen sekali lihat kamu menikah, Fa." ucap mama Juna sambil mengelus pucuk kepala anaknya
"Lah ... Jodoh maning." ucap Syifa pula
"Teman Mama kuliah di Makassar atau anaknya mantan Mama ...." Syifa yang kepalanya sedang berpangku itu memutar arah wajahnya agar dapat menatap lekat-lekat wajah mama Juna
"Maksud Mama anaknya Om Marchel kan?!" tatapnya. Mama Juna menyeringai, tidak menyangka kalau Syifa tau storynya dengan laki-laki bernama Marchel.
"Hm ... Kalau Syifa menikah sama anaknya, beeeugh, bisa gawat Papa jagain Mama. Bisa-bisa Papa jadi manusia posesif sepenjuru dunia. Mama pasti di buntutin terus sama Papa, takut mama CLBK sama Om Marchel."
"Ah ... Kamu ini ada-ada saja! Kami kan sudah tua. Nggak mungkin lah Mama aneh-aneh. Papa kamu itu udah laki-laki pilihan Mama satu-satunya. Kalau mama mau sama Om Marchel nggak mungkin mama nikah sama Papa kamu!"
"Ya siapa tau mama khilaf ya kan, Fa." jawab seseorang yang ternyata sudah berada di dekat mereka berdua
Entah sudah berapa lama dokter Adzka ada di kamar tersebut. Keadaan pintu kamar yang terbuka membuatnya langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Nggak usah mau sama calon yang itu ya, Fa. Nanti papa yang cariin!" papa Adzka ikut duduk bersama mereka
"Memangnya calon papa ada lagi? Bukannya dia sudah di ...." mama Juna menggantung kata
"Iya, Ma. Syifa sudah nolak mas Hafidzh dua kali." jawab Syifa, nada suara menyisakan kekecewaan
"Tuh! Mama dengar sendiri kan. Dua kali, Ma. Dua kali!!" terang papa Adzka
"Kan belum tiga kali, Pa. Mungkin kalau Hafidzh melamar untuk yang ketiga kalinya nggak ditolak, Pa. Iya kan, Nak?!" ucap mama Juna, suami istri itu saling bertatapan.
Kekosongan terjadi beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Mungkin, ketiganya sibuk dalam pikiran masing-masing.
"Gimana Papa bilangnya ke Hafidzh ya, Ma?" akhirnya suami istri itu saling adu argumen, tanpa perduli tanggapan Syifa bagaimana seolah Syifa hanya pelengkap penderita disana. Atau mungkin ... Mereka tau apa yang ada dalam hati Syifa sesungguhnya
"Nggak ah, Pa. Malu dong! Ih ... Ntar mas Hafidzh mikirnya apa lagi!" jawab Syifa
.
.
.
.
691 kata, lumayan lah ya gaes. Kali aja ada yang kangen soalnya beberapa hari nggak up cerita, alhamdulillah lihat statistik yang baca ada 80an lebih 🥰🥰🥰🥰
Makasi ya, tapi kalau di like makin syeneng deh akunya 😁 ngelunjak yak 🤭🤭
__ADS_1