The Secound Choice

The Secound Choice
Tiga puluh Tujuh


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" Hafidzh mengucap salam begitu turun dari mobil. Istri Ehren bersama dengan anaknya dan Syifa menjawab salam tersebut bersamaan


Sejenak pandangan Hafidzh tertuju kepada Syifa, tapi secepatnya Hafidzh mengendalikan pandangannya


"Dokter Hafidzh apa kabar?"


"Alhamdulillah saya baik" memperlihatkan lesung dipipinya,


"Hai, Sayang. Kok sudah gede aja!" Hafidzh menyubit gemas pipi bayi yang ada digendongan ibunya.


"Iya dokter, Alhamdulillah." Ehren yang memberikan jawaban


"Nggak mau gendong nih!" tawar Ehren


"Latihan! sekalian aku mau lihat sudah pantas atau belum?" tambah Ehren pula


"Boleh?! Oke ... Sini sini! Sama Om!" Istri Ehren memberikan anaknya dengan hati-hati. Hafidzh menggendongnya dengan hati-hati pula.


"Kebetulan ada kamu, saya titip deh. Baba! bisa antar Ummi kan?" istri Ehren mentap suaminya


"Oh ... iya iya." Ehren tampak paham, kunci mobil yang masih ada dalam sakunya kembali ia keluarkan


"Mau kemana? nggak lama kan? Aku mau ke travel loh!!" ucap Hafidzh agak keras karena Ehren dan istrinya itu sudah menjauh


"Ck ... ke travelnya nanti aku antar, aman!" Ehren dan istrinya pun meninggalkan mereka


"Waduh ... gimana ini? kalau dia nangis gimana?" tanya Hafidzh

__ADS_1


"Ya ... kalau nangis di hibur lah, Mas. Babynya nggak cengeng kok. Iya kan, Sayang. Cak!" Syifa bermain cilukba dengan bayi yang menggemaskan itu. Si baby kecil pun tertawa menambah gemas orang yang mendengarnya


"Mm ... mari masuk, Mas. Syifa juga mau bersih-bersih dulu." ajak Syifa, gadis itu menunggu Hafidzh menyusulnya untuk masuk kedalam rumah


"Mas baru sampai langsung kesini?" tanya Syifa sambil membukakan pintu, setelah Hafidzh masuk ke dalam pintu bermaterial kayu itu ia tutup kembali


"Iya, tadi minta tolong Ehren antar ke travel malah dibawa ke sini. Kamu apa kabar?" Hafidzh masih tetap berdiri mengayun-ayun tubuh mungil si baby


"Alhamdulillah, Mas. Baik. Mas capek ya? Sebentar ya, Syifa tarok barang dulu ke kamar. Lima belas menit aja


Jangan nangis dulu ya, Sayang. Aunty ganti pakaian dulu baru kita main. Kasian tuh om dokternya capek." ucap Syifa, lalu berlari menuju kamar tamu


"Hati-hati kakinya, Fa! Mas nggak capek kok."


\=\=\=\=


"Dasar bodoh! memangnya kamu siapanya Hafidzh haah!" Syifa berbicara pada pantulan wajahnya di cermin


Begitu melihat Hafidzh berada di dalam mobil Ehren tadi, Syifa berpikir ... Hafidzh sengaja datang untuknya, mengkhawatirkannya. Ternyata dokter tampan itu datang ke kota Koln karena ada urusan lain.


Nasib baik dia bisa membuat alasan karena kotak berukuran sedang yang sedari tadi ia bawa menjadi alasannya untuk meninggalkan Hafidzh sementara bersama dengan baby Ehren.


"Oke, Fa. Masih untung laki-laki itu bersikap biasa sama kamu. Secara ... dua kali lamarannya kamu tolak!" Syifa masih saja berbicara pada dirinya sendiri


Suara tangisan dari luar terdengar, Syifa kembali kealam sadarnya. Rambutnya yang masih di cepol karena tadi memakai jilbab belum sempat ia sisir.


"Sayang! Sayangnya Aunty ... kenapa, Nak?" lagi-lagi Syifa berlari agar cepat menenangkan bayi yang sedang menangis itu

__ADS_1


Hafidzh tampak bingung, si baby kecil masih tetap ia gendong.


"Kenapa, Mas?" tanya Syifa, Hafidzh menggeleng


"Padahal tadi baik-baik aja loh. Lapar mungkin ya." ucapnya


"Kenapa, Nak. Yok sama Aunty yuk. Uuu cep ...cep ...cep." Syifa menepuk-nepuk punggung bayi mungil itu


"Ih ... adek bau! Pup ya?" Syifa mengintip bokong bayi itu senyuman terbit di wajahnya


"Ooo ... dia Bab, Mas." terang Syifa


"Mas istirahat dulu deh. Fa gantiin popoknya dulu." tanpa menunggu jawaban Hafidzh Syifa pergi ke kamar bayi


Hafidzh duduk menyandarkan punggungnya, melihat jam di pergelangan tangannya. Laki-laki itu mengambil ponselnya tatapannya sedikit membulat melihat ponselnya yang hanya mode silent itu banyak panggilan tidak terjawab.


"Assalamu'alaikum, Abi. Hafidzh sudah sampai di Koln. Ada yang mau Hafidzh urus beberapa hari. Nanti setelah selesai disini, Hafidzh langsung kesana." ucap Hafidzh begitu sambungan telepon tersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Dikit aja ya, mak othor lelah 🤭🤭


__ADS_2