
Syifa membaringkan tubuhnya di kasur setelah selesai menunaikan shalat Dzuhur, gadis itu menolak untuk ikut shalat berjamaah di masjid, sayang sih rasanya ... Tapi, tubuh kurusnya benar-benar menginginkan istirahat.
Mukena ia letakkan diatas sajadah yang masih terbentang, sementara kain penutup kaki masih ia kenakan.
Sejenak nyawanya seolah pergi, namun seketika itu juga kembali lagi.
"Duh! Siapa sih!!" gerutunya meraba telpon genggam yang terletak di meja samping tempat tidur itu.
Matanya mendelik, kantuknya hilang. Syifa menyembunyikan wajahnya di bantal. Bingung!
"Kenapa nelpon terus ini bapak tentoro!" ucapnya
Dering hp berhenti sejenak, lalu kembali berbunyi membuat Syifa harus segera membuat keputusan, kasihan juga dia. Dari tadi malam sampai saat mereka diperjalanan pun Fauzi terus menghubunginya.
Akhirnya Syifa menyerah, mungkin dengan mengangkat panggilan itu, Fauzi tidak akan pernah menelponnya lagi, pikirnya.
"Iya, Zi. Assalamu'alaikum" ucap Syifa ragu
"Fa! Wa'alaikum salam. Kamu apa kabar, Fa? Tadi malam Bunda ngabarin kalau kamu ... menikah." Fauzi langsung bicara ke sumbernya, sebab kenapa ia menghubungi kembali mantan pacarnya itu
"Suami mu itu siapa, Fa? Apa pekerjaannya. Kenapa dia tidak menghargai mu. Mahar yang dia berikan murah sekali, Fa. Kamu di hargai segitu?" Fauzi tak henti bicara
"Ziiii ...." panggil Syifa panjang, agar laki-laki itu memberikan ruang untuk mendengarkan jawaban dari lawan bicaranya
"Suami ku dokter, saat ini bekerja di rumah sakit di Malang. Masalah mahar yang suamiku berikan aku sama sekali tidak mempermasalahkannya, bukam berarti kalau mahar ku segitu aku jadi tidak berharga kan! Maaf ... Kita sudah tidak ada hubungan apa pun, Zi. Kita sudah masing-masing. Rasanya komentarmu ini sudah kelewatan! Kau tidak berhak menilai suamiku, kau tidak mengenalnya!"
__ADS_1
"Dokter? Apa kau berselingkuh saat kita masih pacaran? Kalian satu almamater?"
"Ya Allah, Fauzi! Kau bahkan belum memberikan doa untuk ku, malah membahas masa lalu yang sudah nggak perlu!
Zi ... Saat kita masih sama-sama bahkan saat kita belum ada apa-apa dulu, aku akan setia pada laki-laki yang aku berkomitmen dengannya. Sama sekali tidak pernah terpikir untuk mendua, walaupun sebenarnya itu hanya hal konyol yang menjadi doktrin anak SMA."
"Konyol, Fa?"
"Ya! Masih pacaran juga. Yang harus setia pada pasangan itu ya saat sudah menikah, ada konsekuensinya, ada hukumnya! Itu baru harus di jaga! Jangan sudah menikah tapi tetap memikirkan wanita atau laki-laki lain!!!"
"Ck! Kau menyindir ku, Fa. Haha ... Aku sudah bahagia sekarang! Pernikahan ku baik-baik saja, bahkan sekarang Yoli sedang mengandung."
"Maasya Allah, Alhamdulillah. Aku sangat senang mendengarnya, Zi. Semoga mba Yoli dan bayinya sehat selamat sampai lahiran nanti."
"Aamiin, terimakasih. Kau malah senang, Fa? Ku pikir ... Ah, sudahlah!"
"Tadinya aku ingin menghapusnya, tapi untuk apa! Bahkan saat nomor mu tidak ada namanya pun, aku masih tetap hafal! Jadi, untuk apa aku menghapusnya!"
"Haha ... Iya, iya. Aku lupa kalau kau hapal mati nomor ini."
Suasana yang tadinya tegang mulai mencair oleh keadaan, hampir setengah jam mereka bicara tanpa Syifa sadari, ada laki-laki yang duduk diam di sofa kamar hotel tersebut.
"Kau dimana? Mana istrimu? Boleh aku bicara?"
"Aku di kantor, baru saja sampai!"
__ADS_1
"Piket malam?"
"Iya, kau masih sangat paham ya, Fa!"
"Jangan mulai deh! Sudah lah ... Baik-baik kerja! Kenapa suami ku belum pulang-pulang ya!" Syifa melihat waktu di telpon genggamnya
"Mungkin dia sadar dan menyesal telah menikahi gadis seperti mu!"
"Eh! Mulutnya! Sopan sekali anda!"
"Hahaha" keduanya kembali tertawa
"Ya sudah, aku absen dulu! Jaga kesehatan mu, Fa. Tetap bahagia."
"Aamiin, kau juga ya. Jadi suami siaga untuk istrimu."
.
.
.
.
Entah lah 😊
__ADS_1
Terkadang, kalau bicara dengan mantan sering lupa ma tetangga ya 🤣