
Sosok laki-laki berhidung mancung datang ke ruang tamu. Matanya seperti mencari keberadaan seseorang.
"Sudah mau dikeluarkan makanannya, Bang?" tanya Bibi Juni pada suaminya
"Eh, iya. Boleh Lah." jawabnya, bukan hanya wajahnya yang mirip dengan sosok ulama yang menetap di Indonesia, bahkan suara laki-laki itu pun persis syekh Ali Jaber.
"Abang cari siapa?" tanya bi Juni
"Abang kemana? Kok nggak datang-datang, tadi katanya sakit perut!" suami Bi Juni masih celingukan namun semuanya selesai karena sosok yang ia cari telah berdiri didepan pintu kamar mandi
"Nah!" ucapnya
"Abang kenapa?" tanyanya lanjut, sementara papa Adzka memegangi perutnya. Kini semua mata tertuju pada dokter berkacamata tersebut
"Sakit perut, Ka?" tanya bunda Cindy, mama Lia juga memperhatikan menantu satu-satunya itu
Papa Adzka mencoba tersenyum, dan mendekati mereka.
"Kok gini kali ya rasanya, Bun. Ma! Apa papa Rudi dulu mengalami seperti ini juga? Padahal Bab nya nggak bermasalah loh, normal. Tapi kok rasanya mau buang-buang terus!"
"Haha! Persis! Kamu itu seperti papanya mereka. Tapi, kalau mas sakit perutnya sewaktu kalian mau menikah saja!" terang bunda Cindy
"Haha ... Gitu amat, Bang. Dibawa santai coba!" suami Juni menimpali
"Hm ... Aku satu! Semoga kamu juga merasakannya nanti, Kamu dua lagi!!" ucap papa Adzka pada adik iparnya
"Ya sudah ayo, Bang. Temanku sudah datang itu nggak enak ditinggalin sendiri!"
"Loh, kok sendiri! Yang mau nikahin Syifa itu temanmu atau anaknya?"
"Mana aja boleh! Kalau Syifa mau sama teman saya ya ayo. Duda anak satu, masih tampan walau sudah seumur saya."
"Ih, paman Ih!!! Jangan ya Allah ... Syifa nggak mau." ucap Syifa mendengar penuturan pamannya, semuanya pun tertawa.
__ADS_1
Papa Adzka dan sang paman pun pergi menuju ruang pertemuan kembali membawa dua nampan berisi aneka makanan pembuka.
"Bisa, Bang?" tanya Bibi Juni
"Bisa." jawab Ali Jaber kw super.
Mereka berdua berjalan lambat, maklum lah. Mungkin semua laki-laki yang bukan berprofesi sebagai pramusaji pasti akan berjalan selambat mereka berdua.
Akhirnya pintu ruangan sudah didepan mata. Papa Adzka masuk paling akhir. Dia meletakkan nampan yang ia bawa di meja tanpa memperhatikan tamu yang sudah menunggu. Setelah meletakkannya laki-laki itu pun duduk.
"Loh!!" ucapnya begitu melihat laki-laki yang duduk di seberangnya.
Hal yang sama juga terjadi pada laki-laki teman kuliah adik iparnya itu.
"Maasya Allah!" ucapnya, mereka berdua berjabat tangan sejenak dan saling merangkul
Pintu ruangan itu diketuk dan laki-laki muda masuk mengucap salam. Wajahnya tampak sangat lelah namun tidak melunturkan ketampanannya sedikitpun. Laki-laki itu baru saja sampai dari lusuh dan wajah letihnya tampak kalau sudah melakukan perjalanan jauh.
"Jadi ini Ahmad?!" tanya papa Adzka pada adik iparnya, laki-laki itu mengangguk. Ia tidak berhenti terheran-heran dari tadi
"Pada kenal?!" tanyanya
"Ck!" papa Adzka geleng-geleng kepala
"Kamu bawa maskawin apa, Ahmad?" tanya papa Adzka
Laki-laki yang baru datang itu terkejut. Ia sama sekali belum ada persiapan. Yang ia bawa hanya sebuah cincin warisan kepunyaan ibunya yang ia sempan dengan baik spesial untuk calon istrinya nanti.
"Saya hanya membawa cincin milik Umma, Dok!" jawab laki-laki itu gugup
"Saya keluar sebentar! Silahkan dicicipi makanannya!" ucap papa Adzka meninggalkan mereka bertiga
Papa Adzka keluar dari ruangan tersebut dan tergesa-gesa menuju ruang tamu tempat dimana seluruh keluarga istrinya berkumpul.
__ADS_1
Ceklek!
Papa Adzka membuka knop pintu, yang ia cari hanya satu yaitu Syifa!
"Loh, mau Bab lagi, Mas?" tanya mama Juna yang sedang duduk bercengkrama dengan dua ibunya.
"Syifa mana?" tanyanya
"Itu!" tunjuk mama Juna, Syifa tampak duduk di sofa dengan kepala menengadah menatap langit-langit ruangan.
"Syifa! Kamu siap-siap! Malam ini juga kamu akan menikah dengan Ahmad!" ucap Papa Adzka tanpa ragu.
"Ha???! Langsung menikah, Ka?" suami mama Lia yang tak lain adalah mertua laki-lakinya yang sedang tiduran karena sakit kepala pun langsung bangun mendengar kepitusan menantunya tersebut
"Iya, Yah. Sekarang." jawab papa Adzka tetap yakin
"Loh, Mas. Bukannya lebih bagus mereka bertunangan saja dulu. Jadi, ada waktu saling mengenal dulu beberapa bulan. Kan Ahmad juga dari Indonesia kan, nanti menikahnya di Indonesia." ucap Mama Juna pula, sementara Syifa hanya terdiam
"Nggak usah! Saling mengenalnya nanti saja kalau sudah menikah." penolakan papa Adzka seolah tidak bisa dibantah oleh apapun
"Kamu siap kan, Fa?" tanya papa Adzka lagi
"Insya Allah, Pa." jawab Syifa menyeka airmatanya yang jatuh tanpa sengaja
"Mama ikut kesana!" mama Juna berdiri, Papa Juna menggandeng tangan istrinya sambil tersenyum
"Bunda dan Mama juga ayo! Biar Syifa bersama adiknya saja disini. Kata orang anak gadis pantang melihat pernikahan!" ucap mama Lia
"Kenapa, Nek?" tanya gadis bercadar yang sekarang duduk bersisian dengan kakak sepupunya, Syifa.
"Nanti kepengen!!" jawab suami Mama Lia sambil tertawa
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1