
Hari yang melelahkan. Syifa pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit. Kini waktunya untuk pulang. Ransel mini menggantung di punggungnya, gadis itu pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Dari arah berlawanan, Syifa melihat sosok perempuan yang tidak asing baginya. Syifa menajamkan penglihatannya. Benar saja ... perempuan tersebut pernah ia temui sebelumnya.
Gadis itu menyunggingkan senyuman manisnya begitu berpapasan dengan perempuan tersebut.
"Dokter Syifa?!" tanya perempuan itu, Syifa pun menghentikan langkahnya
"Ya, Saya Dokter Syifa. Ada apa, Ibu?" tanya Syifa penuh selidik
"Saya Veronika, Ibunya Adam. Adam Abizard." jawabnya sambil mengulurkan tangan, Syifa menyambutnya dengan sikap sopan.
"Boleh saya minta waktu dokter sebentar?"
"Oh, boleh ... boleh, Bu. Jam saya juga sudah selesai."
"Kita ngobrol sambil makan malam?!" ajak perempuan yang sudah mulai tampak keriput diwajahnya
"Hm ... maaf, Bu. Boleh kita bicara disana saja." Syifa menunjuk bangku kosong yang tidak jauh dari mereka. Kebetulan sekeliling juga tidak terlalu ramai orang yang melintas.
"Baiklah, mari!" Veronika dan Syifa pun berjalan kesana
"Ada apa, Ibu?" tanya Syifa, mereka duduk bersisian tanpa jarak. Syifa tidak memperlakukan Veronika seperti orang asing
"Adam itu tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya. Dia lahir tidak bernasab ke ayahnya." Veronika menatap Syifa dengan mata berkaca-kaca. Syifa bisa menyimpulkan kemana arah ucapan perempuan tua tersebut
"Karena itu ... tidak banyak orang yang memandangnya dengan sopan. Walau di negara modern sekalipun. Dia jadi sangat tertutup dan ... kasar. Adam selalu menyalahkan saya, memang saya yang salah ....
Perbuatan kami yang salah. Tapi, kenapa harus anak yang tidak tau apa-apa itu menanggung akibatnya!
Tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, membuat saya selalu mengiyakan apa yang Adam inginkan. Apapun itu!
__ADS_1
Saya selalu menyetujui setiap keputusan dan permintaan yang ia ajukan. Ya ... setiap dia melakukan sesuatu, dia selalu bilang ke saya. Walaupun akhirnya keputusan dia sendiri yang ia ambil.
Sekalipun saya tidak pernah marah kepadanya, Saya benar-benar menyayanginya meskipun dia berbuat salah sekalipun. Rasa berdosa saya membuat semuanya menjadi benar, semua tindakannya ... saya selalu membenarkannya.
Tadinya saya berpikir begitulah cara saya membayar semua kesalahan saya." Veronika terdiam sesaat
"Saya tidak tau, dari mana awalnya. Adam menjadi begitu posesif jika sudah menyayangi seseorang, seolah-olah dirinya tidak mau ditinggalkan.
Mena, mereka pacaran sudah sangat lama bahkan sampai bertunangan. Ternyata Mena meninggalkannya di ujung hari pernikahan mereka sudah ditetapkan. Dia sangat terpukul dia marah!
Sebenarnya saya sudah tau perselingkuhan Mena. Bahkan Mena sendiri mengakuinya. Sebenarnya dia sudah tidak tahan dengan ke posesipan Adam bahkan tidak jarang dia main tangan. Mena benar-benar merasa terkekang."
"Sekarang Adam merasakan jatuh cinta lagi, saya melihat cinta dimatanya begitu ia menceritakan seorang gadis muda, dokter dari Indonesia. Ia benar-benar sangat bahagia.
Tapi, dokter itu menolak cintanya karena alasan yang ... ck! Dokter sendiri pasti tau kan. Karena orangnya itu kamu." Veronika memegang pundak Syifa. Syifa yang sedari tadi menjadi pendengar budiman terus menebak-nebak kemana inti pembicaraan ini
"Dia memang salah! Rasa sakit hatinya membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Beruntungnya Mena selamat.
"Yang salah, seharusnya tetap salah. Tidak akan baik sesuatu yang salah dibenarkan begitu pula sebaliknya. Orangtua saya mengajarkan saya seperti itu.
Begini, Bu. Adam itu sudah melakukan tindak kejahatan. Bersyukur Mena dan suaminya tidak melaporkannya kepolisi. Dan sikap kasarnya ke ibu. Itu tidak pantas dilakukan oleh seorang anak kepada ibunya, Bu." Syifa memegang kedua tangan Veronika, tapi perempuan itu melepaskannya
"Biarlah itu menjadi hak kami. Saya sudah bilang saya ikhlas diperlakukan seperti itu."
Syifa tersenyum kecut, dokter itu menarik nafas sejenak sembari berpikir menyusun kalimat untuk menjaga perasaan perempuan tersebut
"Sebagai seorang ibu, sudah sepantasnya kebahagiaan anak diatas segalanya. Begitupula dengan Papa dan Mama saya. Kebahagiaan saya juga diatas kepentingan mereka. Karena itu saya menolak Adam walau seandainya tidak ada alasan sekalipun untuk menolaknya.
Papa saya tidak pernah mengekang saya, tidak pernah menentang apapun keinginan dan keputusan saya selama saya hidup selama hampir 28 tahun ini
Karena itu saya akan segera pulang ke Indonesia, Bu." Veronika terkejut
__ADS_1
"Bukannya pendidikan Dokter masih belum selesai?" tanya Veronika, Syifa tersenyum mengangguk
"Seperti Ibu yang rela diperlakukan tidak baik oleh anak ibu sendiri, ibu ikhlas dan rela menerimanya. Begitu juga dengan saya, saya iklas mengubur cita-cita saya demi kebahagiaan orangtua saya. Saat ini Mama saya membutuhkan saya dan saya juga ingin selalu berada di dekat beliau." senyum Syifa, dokter itu tampak begitu lega mengucapkan seluruh kata-kata yang baru keluar dari bibirnya dan berharap tidak ada hati yang tersakiti.
Entah ini kebetulan atau sesuatu yang disengaja, Atau bahkan kedatangan Veronika ke rumah sakit adalah atas permintaan Adam yang tidak bisa ia tolak. Karena setelah pertemuan terakhir mereka waktu itu, Syifa terus mencari-cari alasan untuk tidak bertemu dengan Adam. Yang pasti Syifa bersyukur, keputusannya tidak salah.
\=\=\=\=
Sepertiga malam terakhir, Hafidzh tampak khusuk diatas sajadahanya. Memohon ampun atas segala salah dan khilafnya kepada sang maha pencipta.
Rangkaian doa dengan harapan tulus ia untai kata perkata, serta mengharap pengobat rindu untuk kerinduannya yang tidak berujung kepada satu-satunya wanita yang tidak bisa ia jangkau untuk memeluk meski rindu sudah lebih luas dari samudra.
Foto wanita berhijab biru muda yang berada di atas nakas dekat kasurnya ia pandang sekilas.
"Hafidzh rindu, Umma!" ucapnya
Notifikasi handphonenya berbunyi, setelah menyelesaikan doanya Hafidzh membaca pesan singkat dari Abi Dzaki.
Laki-laki tampan itu tersenyum, kedua jempolnya pun berselancar diatas keypad layar datar tersebut
"Engkau memang maha baik ya Allah. Alhamdulillah." gumamnya
.
.
.
.
.
__ADS_1