The Secound Choice

The Secound Choice
Tiga puluh Tiga


__ADS_3

Derap langkah sepatu yang bertemu lantai membuat beberapa pasang mata tertuju kepada sipemilik kaki jenjang yang berjalan tergesa-gesa menuju ruangan yang ada beberapa meter lagi didepannya.


Sebelum Syifa mengetuk pintu, Pintu yang bertuliskan nama seorang dokter itu pun terbuka.


"Selamat pagi, Dokter." sapa Syifa begitu melihat Ehren


"Selamat pagi. Sudah saya bilang jangan terlalu membuat kakimu bekerja ekstra."


"Maaf, Dok. Saya takut dokter sudah mulai praktek. Sebenarnya tadi saya lupa, bahkan sudah mau sampai ke kampus." ucap Syifa cengengesan. Dokter Ehren begitu care padanya


"Kamu yakin, Fa? nggak semua orang punya kesempatan seperti kamu ini. Sudah setengah jalan pula." Ehren bertanya, Syifa menjawab dengan tegas tanpa ragu


"Iya, Dokter. Saya harus pulang. Kalau ada kesempatan lagi saya akan melanjutkan study saya di Indonesia saja. Terimakasih sudah banyak membantu saya selama saya disini, Dokter." ucap Syifa


Syifa dan dokter Ehren sering bertemu di rumah sakit. Selain pernah menangani Syifa sewaktu sakit, laki-laki itu terkadang juga menjadi tumpuan pertanyaan-pertanyaan seputar pendidikan mereka karena kesamaan profesi.


"Kapan kamu berangkat? surat kesehatan kamu mungkin bisa diambil sore ini."


"Minggu depan, Dokter. Terimakasih atas bantuannya. Sampaikan salam saya untuk istri dokter dan si baby kecil."


"Oh, tentu. Nanti akan saya sampaikan." Ehren sedikit tertawa mengingat jenis bantuan apa yang diminta oleh gadis yang ada dihadapannya tersebut.


"Lucu ya, Dok. Haha ... memang rada aneh sih. Tapi, daripada sampai di Indonesia saya langsung diseret ke dokter tulang lagi, lebih baik saya bawa surat kesehatan yang sudah dokter tanda tangani hehe. Orangtua saya kadang suka berlebihan memang, Dok. Tapi, saya justru merindukan itu."


"Apa kau tidak kembali lagi kesini suatu saat nanti? mungkin bertemu dengan Adam?" Ehren juga mengenal Adam, karena saat terapi dulu Adam selalu menemani Syifa


"Hm ... Adam ya, Dok. Enggak lah! maksudnya nggak tau ... tapi sepertinya nggak mungkin kesini dengan alasan mau ketemu Adam kan." jawab Syifa, tapi tatapan Ehren mengisyaratkan bahwa dokter tersebut tidak percaya


"Cuma teman kok, Dok!"


"Kalau begitu saya ke kampus sekarang, Dokter. Sekali lagi terimakasih." Syifa mengulurkan tangan.


Syifa pun putar arah, beberapa pasien yang sudah mulai tampak mengantri diberikannya senyuman indah. Rambutnya yang di kuncir kuda bergerak sesuai ritme langkahnya


"Kamu mau meninggalkan aku, Fa!" Tiba-tiba saja seseorang menarik lengannya, hampir gadis itu kehilangan keseimbangan


"Adam!" Syifa melepaskan lengannya dari cengkraman Adam


"Kenapa kau mau meninggalkan aku, kenapa semua orang meninggalkan aku!" wajah Adam merah, namun matanya berkaca-kaca

__ADS_1


"Dam! Aku memang harus pulang." Syifa berucap sambil melihat sekeliling. Ia malu kalau mereka menjadi pusat perhatian.


"Kita bisa membicarakan ini baik-baik. Ikut aku!" Syifa berjalan lebih dulu sementara Adam masih diam terpaku. Syifa menghentikan langkahnya menatap Adam. Akhirnya laki-laki itu pun mengikutinya


Sebuah taman berukuran tidak cukup luas dengan beberapa pohon besar berdiri dibeberapa sudutnya.


"Duduk sini!" Syifa menepuk kursi panjang bermaterial kayu dan besi itu agar Adam yang masih berdiri mematung duduk disebelahnya


"Masih ingat tempat ini kan! Dulu kedekatan kita di mulai dari sini. Aku yang kesepian menjadi punya teman baru, yang sama-sama mempunyai riwayat patah hati" Syifa tersenyum


"Saat aku masih tidak bisa menggunakan kedua kakiki, kau yang menjadi tumpuan ku. Kau rela memberikan waktumu untuk ku. Disamping rasa bersalahmu, aku merasa kau memang laki-laki yang baik. Terimakasih ya, Dam." Syifa menatap nanar


"Aku mau persahabatan kita tetap terjalin meskipun kita sudah tidak bisa lagi sering bertemu" ucap Syifa menatap Adam dengan tenang tanpa rasa takut


"Aku benar-benar mencintaimu, Fa. Aku akan berubah. Aku akan menjadi laki-laki seperti yang kau harapkan" Adam tidak pernah memindah pandangannya. Laki-laki itu benar-benar mengemis cinta


"Jangan tinggalkan aku, Fa" Adam kini merengek


"Kau akan menemukan wanita yang mencintaimu suatu hari nanti, Dam. Asal kau benar-benar merubah sifat burukmu itu. Berubahlah untuk dirimu sendiri jangan karena orang lain." Syifa seperti seorang kakak yang berbicara kepada adiknya


"Aku hanya mau kamu." Adam mencengkram lengan Syifa sehingga gadis itu kesakitan


"Aw! sakit!" Syifa mencoba melepaskan namun sia-sia


"Apanya yang mau berubah! kendalikan dirimu!!" suara Syifa meninggi, Adam kembali sadar akan apa yang sudah ia lakukan. Laki-laki itu selalu bertindak diluar kendali


"Kau sakit, Dam! Kau sakit!!" Syifa berdiri menatap Adam dengan pandangan benci.


"Keputusan tidak salah!!" Syifa pun berlari meninggalkan Adam yang juga siap untuk mengejarnya.


Namun Syifa hilang dari pandangannya, "Kemana dia? cepat sekali larinya!" ucap laki-laki itu begitu berada dipersimpangan lorong.


"Jangan ganggu Syifa lagi. Dia tidak ingin bertemu dengan mu!" ucap seseorang yang tiba-tiba sudah ada di samping Adam, gadis yang ia cari ada dibelakang laki-laki berjas putih itu


"Kau tidak perlu ikut campur, Dokter. Kami hanya salah paham. Biarkan aku berbicara dengan pacarku." sombong Adam


"Aku tidak pernah berpacaran dengan mu!!" Syifa tak kalah galak


"Kau dengar sendiri kan, Mr.Adam Abizard! Sekarang silahkan pergi dari sini! atau saya akan panggil security karena kamu telah mengganggu dokter Syifa!!" ancam Ehren

__ADS_1


"Fa! Dengar kan aku dulu ...." wajah Adam yang tadinya penuh amarah kini kembali sendu. Laki-laki itu menatap Syifa dengan tatapan membutuhkan belas kasihan.


Syifa menyembunyikan tubuhnya dibalik dokter Ehren.


"Dokter ... saya tidak mau. Tolong saya." bisik Syifa


"Fa!" Adam ingin menarik tangan Syifa tapi Ehren menghalanginya


Bug!


Darah segar mengalir dari ujung bibir Ehren, laki-laki itu menghentikan darah yang mengalir dengan jempolnya. Adam menghadiahi Ehren bogem mentah karena tidak terima ada yang ikut campur dalam urusan mereka


Bug!


"Kau pikir hanya kau yang bisa memukul? Dasar laki-laki tidak tau di untung! Kau seharusnya malu berharap lebih pada Syifa! Beruntung kau di maafkan oleh keluarganya! Syifa ... perempuan yang kau tabrak dan merelakan waktunya terbuang lama diatas kursi roda juga memaafkan mu. Lantas sekarang kau malah memaksakan kehendakmu untuknya?!!"


Bug! Bug!


Ehren memukul Adam lagi, ia benar-benar merasa berang. Adam kalah telak. Laki-laki itu beringsut diatas lantai rumah sakit.


"Jangan perdulikan dia, Syifa. Ayo kita pergi!" ajak Ehren.


Adam menatap mereka berdua, Adam hanya bisa melihat Syifa semakin menjauh. Sesekali Syifa juga melihat kebelakang. Entah untuk apa.


Dua orang security datang menghampiri Adam yang masih berada tetap diposisinya.


"Sebaiknya bapak segera meninggalkan tempat ini!" ucap salah seorang security berseragam. Adam hanya diam menatap mereka bergantian


Dari kejauhan tampak seorang juru rawat mendekati mereka.


"Mari saya obati lukanya, Pak Adam. Pak ... tolong bantu pak Adam untuk bangun!" perintah perawat itu pada security


.


.


.


.

__ADS_1


.


Berasa kek sinetron ya, 😁


__ADS_2