
"Bisa jadi yang akan ku temui beberapa hari lagi adalah jodoh dari Allah, sebaiknya aku tidak menceritakan ini dulu ke Eyang. Nanti Eyang berharap banyak dan ujung-ujungnya kecewa lagi." batin Hafiz menatap Ummi Anna yang selalu membuang nafas kasar. Kekecawaan perempuan sepuh itu tidak bisa ia sembunyikan terlebih lagi ia pernah bertemu beberapa kali dengan anak gadis bu Marni yang sudah pasti gagal menjadi cucu menantunya.
"Eyang kok jadi susah senyum begitu?" ucap Hafiz
Mobil mereka kini telah menepi disebuah warung makan yang menjual berbagai olahan ayam.
"Ngapai kesini, Nak?" tanya Eyang putri
"Hafiz lapar, Eyang. Belum makan."
"Ya Allah ... Kenapa nggak bilang dari tadi! Ya sudah ayo cepat turun! Jangan dibiasakan seperti itu. Nanti kalau kamu sakit bagaimana mau menyembuhkan orang sakit! Kesehatan kamu itu harus dijaga to, Le. Haduuh ... Karuan kamu itu puasa saja sekalian!" ocehnya tidak berhenti, Hafiz hanya bisa tersenyum saja sambil sesekali menyahut 'Iya, Eyang'
Sejenak fokus Ummi Ana hanya untuk Hafiz, dia memang selalu seperti itu untuk cucu kesayangannya.
Ummi Ana membuka sabuk pengamannya kemudian turun dan lebih dulu berjalan menuju tempat makan tersebut meninggalakan Hafiz dibelakang.
"Lah ... Yang lapar siapa ini?!"
\=\=\=\=\=
Mama Juna dan Papa Adzka sedang menikmati makan siang mereka, bekal yang khusus dimasak dengan penuh cinta yang mama Juna bawa hampir habis.
"Kenapa tuh anak gadisnya?" tanya papa Adzka pada istrinya menunjuk kearah Syifa yang sedari tadi manyun sambil melamun didepan mereka namun agak berjarak.
"Oo ... Itu! Biasalah berantem sama adeknya!" jawab mama Juna enteng mencomot buah potong
__ADS_1
"Nggak ketemu, nggak dekat berantem terus. Heran!" sambungnya lagi. Papa Adzka tersenyum
"Biasanya kalau berantem nggak sampai selama itu kan manyunnya. Memangnya berantem kenapa, Ma?"
"Mama nggak tau, tadi mereka vc-an waktu mama di dapur. Papa coba tanya lah, sepanjang jalan kesini mama tadi sudah tanya, Syifa jawabnya nggak ada apa-apa." terang wanita paruh baya tersebut.
Sebenarnya alasan untuk checkup hanya kamuflasi dari Mama Juna yang merasa kasian pada putrinya yang hanya diam dirumah menjaganya saja.
Mungkin dengan berkunjung ke rumah sakit yang notabene adalah lingkungan suami dan anaknya yang sudah mendarah daging itu akan membuat Syifa menjadi senang seperti mengobati kerinduan karena ia kembali ke habitatnya.
Ternyata malah justru sebaliknya. Mood Syifa sudah jelek sebelum berangkat ke rumah sakit.
*Tok!
Tok!
"Permisi, Dokter. Dokter memanggil saya?" laki-laki berpakaian coklat khas perawat dirumah sakit itu masuk.
"Iya. Saya hanya ingin memastikan apa ada pasien lagi?"
"Dokter mau pergi ya?" perawat itu malah balik bertanya, melihat keluarga sang dokter berkumpul diruangan itu, dijawab anggukan oleh dokter Adzka.
"Masih ada dua pasien lagi, Dokter!"
"Selesaikan dulu lah, Pa. Waktunya masih panjang kok. Menunggu juga nggak masalah kok! Iya kan, Fa!" tanya mama Juna kepada Syifa yang sudah duduk cantik nan anggun di kursinya, tidak seperti tadi.
__ADS_1
"Hah! Iya, Ma. Nggak apa-apa." jawab gadis itu
"Ya sudah, pergi ke ruangan. Saya akan datang sepuluh menit lagi!" titah dokter Adzka kepada perawat tersebut.
Setelah laki-laki berkulit putih tersebut meninggalkan ruangan, Syifa duduk mendekati sang Papa.
"Apa?!" tanya Papa Adzka menatap anaknya intens
"Nggak lihat tangannya tadi? Inainya masih merah!" ucap laki-laki itu lagi
"Baru meried, Pa?!" mata Syifa membola
"Hm ...." Papa Adzka membersihkan tangan dan mulutnya, lalu meninggalkan dua orang yang paling ia sayangi itu.
"Yaaa ...." Syifa menyandarkan tubuhnya malas
Entah sejak kapan dia bertingkah seolah menjadi gadis ganjen yang begitu jelalatan melihat laki-laki tampan.
"Tertarik sama yang tadi?!" tanya mama Juna. Namun putrinya bertambah manyun mengutuk diri kenapa susah sekali mendapat jodoh.
.
.
.
__ADS_1
Jodoh lagi jodoh lagi, mang kalau ditunggu pasti rasanya lama ya gaes 😁