
Adam dan Syifa masih asik dalam cerita mereka, sebelum kejadian waktu itu keduanya memang sangat akrab sekali, tak heran jika saat kembali bertemu mereka jadi melupakan apa yang menjadi prioritas mereka.
Hafiz tetap berdiri mematung memperhatikan istrinya, wajahnya menunjukkan kecemburuan yang amat besar.
Seketika mata Syifa menangkap posisi suaminya tersebut, sambil menahan tawa Syifa menjeda pembicaraannya dengan Adam.
"Astaghfirullah ... Aku lupa!" Syifa memukul jidatnya sendiri
"Ada apa? Apa kau masih ada kelas?" tanya Adam
"Mas!" Panggil Syifa, akhirnya Hafiz mendekat
"Dam, Mas Hafiz! Suami ku!" ucap Syifa menatap penuh netra Adam yang seolah sedang menscan tubuh tinggi yang berada dihadapannya sekarang
"Kau sudah menikah, Fa. Dia kan ...." kening Adam berkerut, memutar keras ingatannya.
"Hafiz." Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke Adam dengan senyum yang sangat irit
"Ini kan ... Dokter Hafiz! Waktu kamu koma tempo hari ...." Adam menyambut uluran tangan Hafiz sambil terus mengingat dimana dia bertemu dengan laki-laki tersebut
"Hehe ... Iya, Mas Hafiz ikut jagain waktu Syifa sakit tempo hari." jawab Syifa malu-malu
"Aku ikut bahagia, Fa. Dokter! Tolong jaga Syifa baik-baik." ucap Adam dengan wajah yang kembali sumringah, reaksi itu sama sekali tidak Syifa dan Hafiz prediksi
"Tentu saja!" jawab Hafiz sangat yakin, dia sangat yakin ... Atau itu jawaban dengan menekan segala rasa cemburu
"Insya Allah ...." ucapnya lagi setelah sadar diri
"Oh ...iya, ku dengan Ibu mu sedang dirawat dirumah sakit?" tanya Hafiz
"Iya, Dok. Belakangan ini dia sering sakit-sakitan, kelelahan menjaga cucu, haha ...." Adam tertawa
"Cucu?! Kau juga sudah menikah?" Syifa membulatkan mata seketika disusul senyuman yang benar-benar sangat bahagia
\=\=\=\=
Alarm dari ponsel Syifa berdering nyaring, tubuh langsingnya bangun dengan malas.
"Aaaaaa" Syifa mengangkat kedua lengannya, merenggangkan otot-otot yang kaku setelah tidur lagi sehabis shalat subuh.
Tidak ada keberadaan orang lain di kamar itu, Syifa turun dari kasur dan duduk selonjoran sambil memainkan ponselnya.
"Pagi, Ma. Assalamu'alaikum!" ucapnya setelah panggilan teleponnya tersambung dengan wanita yang sangat ia rindukan.
"Tidak apa-apa, Ma. Syifa kan nggak sendiri. Nanti selesai acara kami akan langsung pulang. Tapi, nanti Syifa mampir ke Akmal dulu boleh kan, Ma. Syifa nggak sabar pengen ketemu si gembul sama Mamanya juga. Syifa penasaran sama istri Akmal yang sok cantik itu!" cicit Syifa
"Kok gitu ngomongnya, Fa." sahut Mama Juna dari seberang sana
"Habisnya ... Kalau Vc nggak pernah mau nunjukin wajahnya, Ma. Cuman liatin si gembul doang. Apa Nisa terlalu jelek untuk terlihat di layar hape, Ma? Haha ...."
"Kamu ini! Mana ada bule yang jelek. Kalau kau melihat Nisa pasti kau akan langsung suka. Dia baik, sopan. Ah ... Terlalu sempurna lah untuk Akmal."
"Oh ... Ternyata mama sudah punya pengganti ku"
"Hush! Kamu itu nggak bisa di gantikan oleh siapapun, Nak. Hafiz mana?"
"Nggak tau ... di dapur mungkin, Ma."
"Kamu ini! Enak banget hidupnya punya suami seperti itu."
"Haha ... Alhamdulillah, Mama juga gitu kan! Papa juga seperti mas Hafiz."
"Ya sudah sana bantuin buat sarapannya, Mama juga mau sambung tidur."
"Ih, Mama ...Buatin Papa sarapan dong."
__ADS_1
"Siapa yang mau sarapan jam dua pagi begini, Syifa!"
"Haha ... Iya, maaf mengganggu Mama ku Sayang."
\=\=\=\=\=
Gadis itu menghentikan langkahnya. Memandang kebelakang seolah mengucapkan salam perpisahan kepada burung besi yang membawa- nya kembali ke negara mereka.
"Kenapa?" Hafiz memegang pundak Syifa, Hafiz kembali kebelakang setelah menyadari tidak ada Syifa dibelakangnya
"Tidak apa-apa. Hanya melow sedikit. Rasanya baru kemarin kita berangkat dan sekarang Syifa pulang dengan status yang sudah berbeda."
"Hm ... Padahal mas masih ingat ada yang bilang kalau sehari disana seperti setahun, kangen ... Pengen pulang."
"Hehe ...." Syifa nyengir dan memeluk suaminya
"Ayo! Nanti Akmal menunggu lama." ajak Hafiz pula
Keduanya kembali berjalan melewati Garbarata, pintu kaca pun terbuka. Beberapa orang dikeramaian terlihat menatap pasangan suami istri itu dengan senyum penuh kerinduan.
"Kakak!" panggilnya, Syifa dan Hafiz kompak menoleh ke asal suara
"Kamal!!!" Syifa memeluk tubuh tinggi itu
"Mana si gembul?"
"Kau ini! Tanya kabar ku dulu kek, Peh!"
"Untuk apa?! Aku kan sudah melihat mu."
Hafiz tersenyum melihat kedua kakak beradik itu, lalu menghampiri adik iparnya.
"Apa kabar, Mal. Sendirian aja?"
Perempuan berjilbab itu menatap kearah mereka, menyunggingkan senyum manisnya. Syifa memperhatikan sosok itu, kakinya sepontan bergerak maju, dekat ... Semakin dekat.
Air matanya jatuh walau bibirnya tersungging senyum merekah sampai terlihat barisan gigi putihnya.
"Aku pernah berpikir kalau Nisa itu kamu. Tapi ... mungkin itu suatu hal yang mustahil!" Syifa menyeka airmatanya lagi
"Ternyata nggak ada yang nggak mungkin kalau Allah mau ...." Syifa memeluk perempuan yang juga ikut menangis itu.
"Huhu ... Hiks ... Hiks, aku rindu kamu, Sya. Aku rindu sahabat ku." isak Syifa dalam pelukan Natasha. Baby gembul yang tadinya ia gendong diambil alih oleh Akmal
"Namaku bukan lagi Natasha, Aku Nisa istrinya Akmal." ucap perempuan itu, Dokter Natasha teman seangkatan Hafiz namun bersahabat dengan Syifa yang hilang kontak itu kembali dengan status baru.
Nisa ... Nama itu ia dapatkan setelah mantap memeluk Islam, hidayah itu ia dapatkan setelah bergabung pada tim medis di Palestina dan berlanjut ke Libanon. Disana lah ia bertemu dengan Akmal.
Dalam kebahagiaan itu, sosok laki-laki dan perempuan mendekat. Salah satunya membawa buket bunga dan memberikannya kepada Syifa.
"Happy graduation. Semoga berkah ilmunya dan menjadi yang terbaik!" ucap laki-laki itu
Syifa masih ingat suara itu, pandangannya langsung menuju ke asal suara. Laki-laki itu tersenyum dan memberikan buket bunga tersebut.
"Zi!" Syifa mengambil pemberian Fauzi itu
"Terimakasih, bagaimana kau bisa disini?" tanya Syifa heran
"Saya pasien Dokter Anastasia, Bu Dokter." jawab seorang wanita berhijab lebar
"Bu guru Yoli!" Syifa memeluk perempuan itu
"Wah ... Sudah berapa bulan?" Syifa memegang perut buncit Yoli
"Sudah 7 bulan, Bu Dokter." jawab Yoli
__ADS_1
"Kembar ya?"
"Alhamdulillah ...." Senyum Yoli mengembang membuat senyuman itu menular kepada dua wanita yang ada disana
"Kembar laki-laki dan perempuan." jawab Natasha
"Waaah ... Senangnya. Anak kalian yang pertama mana?" tanya Syifa lagi
"Itu disana!" tunjuk Yoli
"Syifa!!!" Fauzi memanggil
"Ya!" jawab Syifa kembali menoleh ke arah Fauzi
"Kenapa sekeras itu memanggil ku, aku kan tidak jauh!" gerutu Syifa dalam hati
"Iya, Bi." gadis kecil berjilbab datang menghampiri Fauzi
"Syifa disini, Abi." jawab gadis kecil itu
\=\=\=\=
Adam sudah menemukan pasangan hidupnya, cinta yang dulu pernah pudar bersemi kembali setelah waktu mempertemukan Adam dengan mantan tunangannya. Bagaimana ceritanya biarlah itu menjadi memori dikehidupan mereka.
Syifa, walaupun Fauzi dan Syifa tidak bisa bersama. Tidak dapat mewujudkan impian mereka tapi laki-laki itu akhirnya mempunyai Syifa sendiri. Ya ...gadis kecilnya, Syifa Aulia.
Pilihan pertama, bukan berarti yang terbaik untuk kita. Masih ada pilihan lain atau opsi cadangan yang tidak buruk, atau bahkan itu yang lebih baik.
\=\=\=\=\=
Cahaya Matahari mulai menyengat kulit, pasangan yang sedang mendinginkan tubuh di bawah pohon terlihat saling bercanda.
Mereka berdua bukan pasangan baru tapi keduanya membuktikan bahwa jatuh cinta setiap hari itu bisa saja terjadi kalau keduanya saling memberi dan merasa saling membutuhkan.
Syifa menyeka keringat Hafiz, Minggu pagi adalah kegiatan rutin mereka olahraga pagi di taman dekat rumah sakit.
Dering ponsel Syifa membuat Hafiz menghela nafas.
"Sayang ... Kenapa bawa handphone sih."
"Kebawa tadi, Mas." Syifa ngeles
"Sebentar ya, Mas." Syifa pun mengangkat telpon tersebut
"Oh ... Oke. Saya sedang di taman. Tangani dulu, saya akan segera kesana!" ucap Syifa
"Kenapa, Sayang?" tanya Hafiz
"Ayo kita pulang. Pasien saya mau lahiran."
"Hm ... Ya sudahlah. Ayo."
Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju gedung hijau yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Rumah sakit Green Healty.
Mereka berjalan semakin menjauh hanya terdengar sayup pembicaraan mereka berdua yang membuat geleng kepala.
"Nanti kalau Mas dapat dokter Obgin, kamu nggak usah kerja ya." ucap Hafiz
"Loh ... Kok gitu!"
"Iya ... Kamu jadi nggak ada waktu buat Mas."
\=\=\=The End\=\=\=
__ADS_1