
Perempuan yang biasanya selalu berbicara itu kini diam seribu bahasa, bahkan tubuhnya seolah kaku tanpa pergerakan.
"Ma ...." rengek Syifa, gadis itu memeluk tubuh perempuan yang melahirkannya itu
"Maaf ya, Ma. Syifa nggak bisa wujudkan keinginan, Mama! Nggak bisa dipaksain juga kan, Ma. Giandra sudah punya pilihan sendiri." ucap gadis itu tanpa melonggarkan sedikitpun pelukannya
Mama Juna masih diam tanpa ekspresi, pun tidak melihat kepada anaknya yang manja tersebut.
"Mama!" rengek Syifa semakin kuat, dipaksanya wajah itu menghadap kepadanya.
Mama Juna membalas pelukan itu, airmatanya tumpah juga.
"Mama kasian sama kamu, Nak. Kenapa susah sekali kamu menemukan pasangan hidup." ucap mama Juna dalam isaknya. Sementara papa Adzka yang membiarkan mereka berdua berbicara akhirnya ikut juga.
"Sudah! Sudah! Syifa sendiri tidak mempermasalahkannya, kenapa kamu yang cengeng begini!" laki-laki itu mengusap punggung istrinya
"Maaass ...." rengeknya pula yang kini beralih memeluk sang suami. Rengekan itu terdengar mesra untuk sepasang suami istri seusia mereka. Sebutan yang biasa digunakan mama Juna dengan 'bang' saat memanggil suaminya akhirnya berubah beberapa tahun setelah pernikahan mereka.
"Hm ... Jangan seperti ini. Aku malu melihatnya." ucap Adzka disertai lenguhan karena cubitan kecil mendarat diperut laki-laki itu.
"Ayo, kita pulang!" ajaknya pula
\=\=\=\=\=
Perempuan berhijab putih terlihat begitu bahagia berbicara dengan seorang ibu paruhbaya dengan pakaian yang senada dengannya. Seperti membicarakan sesuatu yang penting yang sangat menggembirakan sehingga mereka lupa dengan waktu.
Para jamaah tabligh akbar yang eyang putri kunjungi hanya tersisa beberapa orang saja yang duduk diteras masjid sama sepertinya, mungkin semuanya bernasib sama dengannya yaitu menunggu jemputan.
"Eyang!" sesorang menggunakan jasko hitam menghampirinya.
"Mau pulang sekarang atau nanti?" tanyanya, melihat eyang putrinya masih saja mengobrol. Eyang putri menaikkan sebelah tangannya, Hafiz pun tersenyum kepada perempuan disebelahnya dan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Hafiz duduk menjauh, mengambil handphone disaku celananya dan mulai khusuk melihat layar.
Mencari nomor kontak seseorang yang sudah lama ia tidak hubungi. Beberapa saat sambungan telepon pun tersambung, Hafiz pun saling bertukar kabar dengan sahabat seprofesinya, Ehren.
Sedang asik berbual, pundaknya ditepuk dari belakang. Spontan Hafiz menoleh.
"Kenalkan, ini ibu Marni teman satu pengajian Eyang." ucap Eyang putri, Hafiz mengatupkan kedua belahtangannya sambil tersenyum.
"Saya Hafiz, Tante." ucapnya, perempuan bernama Marni pun tersenyum
"Praktek dimana, pak dokter?" tanya wanita itu pula
"Di rumah sakit umum, Tante."
"Oh, masih muda sudah jadi dokter spesialis. Saya suka salut sama anak muda seperti kamu, Nak." ucap Marni, kali ini gantian Hafiz yang tersenyum bingung mau jawab apa.
"Kalau begitu saya duluan ya, Ummi, Hafiz." pamit Marni pula, begitu melihat mobil putih berhenti tidak jauh dari mereka.
"Yang jemput anak saya yang laki-laki, Ummi. Itu!" tunjuk Marni, laki-laki yang usia sekitar 18 tahun-an turun dari mobil tersebut
Eyang putri tampak sedikit kecewa, tapi kembali mencoba tersenyum.
"Padahal jarang-jarang kan cucu ku punya waktu luang seperti ini. Ah ... Belum rezeki. Apa aku ajak Hafiz mampir ke rumahnya saja ya, kapan-kapan!" batin eyang putri pula
"Mau lihatin bu Marni sampai tekongan sana, Eyang?" suara Hafiz membuyarkan lamunan wanita kesayangannya itu
"Hm ... Kamu ini! Ayo, kita pulang." ajaknya
Mobil Hafiz pun melaju dengan kecepatan sedang,
"Anaknya Marni ada yang baru lulus kuliah. Siapa tadi nama anaknya ya ... Ya Allah, Eyang lupa! Padahal tadi Eyang sudah ingat-ingat loh."
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Eyang?"
"Dia itu cantik, solehah, sarjana pendidikan. Nanti kalau kamu ada waktu kita silaturahim ke rumah Marni ya, Fiz."
"Hm ... Boleh. Insya Allah nanti kalau Hafiz libur kerja." ucap Hafiz, laki-laki sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini bermuara
"Oh iya, Eyang. Oktober nanti Eyang ikut kan?"
"Insya Allah kalau Eyang sehat. Abi kamu bisa pergi?"
"Kalau nggak ada halangan Abi pasti pergi lah, Eyang. Seumur Hafiz, Hafiz nggak pernah tau Abi melewatkan hari ulangtahun Umma." ucap Hafiz, pandangannya tetap menatap kedepan
"Apa ya amalan yang dilakukan Umma mu, kok sepertinya cinta Dzaki nggak pernah berkurang sedikit pun untuk Mila. Eyang heran. Biasanya laki-laki kalau istrinya meninggal nggak berapa lama sudah menikah lagi, lah Dzaki ...."
"Hm ... Abi mau Umma jadi bidadari surganya, Eyang."
"Loh kan nanti juga insya Allah ketemu kalau sama-sama masuk surga. Bareng istri barunya juga kan nggak apa-apa."
"Iya, Insya Allah. Tapi Abi mau Umma bidadari satu-satunya mungkin."
"Ah ... Dikasi banyak kok nggak mau." oceh eyang. Hafiz justru tertawa
"Kamu lagi! Sudah punya calon sendiri belum?"
.
.
.
.
__ADS_1
Like, komen, vote 😊🙏