The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh Tiga


__ADS_3

"Kalau saya tidak salah ingat, beberapa kali ikut kajian di masjid Ali Ibrahim yang menjadi calon suaminya temanmu itu kan juga ingin meng-khitbahmu, Syifa."


"Beberapa hari yang lalu Syifa sudah memberikan jawaban kepada pak Ustadz, Syifa mau konsentrasi ke pendidikan dulu, Mas. Masih belum siap untuk di khitbah. Dan rasanya belum pantas saja. Mereka orang-orang soleh, sementara Syifa shalatnya saja masih belum tertib."


"O, sampai kapan?"


"Apanya, Mas?"


"Sampai kapan baru merasa pantas di khitbah?"


Saling berbalas pesan yang tadinya secepat mengobrol kini berjarak waktu.


"Maaf!"


"Tidak apa-apa, Mas."


Jawaban itu menjadi jawaban terakhir karena perempuan yang sedang menuntut ilmu di negara yang sama tempat presiden Habibie belajar sudah tidak lagi online.


***


Syifa Pov


Kenapa aku merasa laki-laki ini begitu banyak tau tentang aku, tapi aku malah sebaliknya.


Laki-laki ini benar-benar aneh, atau aku yang terlalu berlebihan. Kalau bertemu kata yang ia ucapkan itu bahkan bisa dihitung dengan jari. Tapi, menurut cerita Mama, Papa, dan Natasha dia benar-benar menjaga ku saat aku di rumah sakit waktu itu.


Ini!


Saat saling bertukar pesan seperti ini dia seolah-seolah seperti orang yang sangat friendly, humble. Lumayan banyak tanya lagi.


Ah ... kenapa malah mikirin mas Hafidzh sih! Mama, Fa. Mama!


\=\=\=\=


Suara musik yang memekak-kan telinga membuat beberapa orang terbawa suasana. Menggerakkan badannya mengikut irama musik. Bau alkohol begitu menyeruak hidung


"Hei ... sudah lama nggak kesini!" seorang laki-laki bertato menghampiri laki-laki yang sedang duduk memegang segelas minuman tidak berwarna.


"Hei!" balasnya dengan senyum masam


"Mina mana? bukannya biasanya Mina bersamamu?"

__ADS_1


"Mina?! sudah kelaut dia!"


"Di putusin?" ucap laki-laki tadi menertawakan


"Ah! sudahlah. Nggak usah di bahas!"


"Santai, Bro! Bawa happy aja. Masih banyak perempuan yang jauh lebih cantik daripada dia. Tuh! aku kenalin nih." Laki-laki bertato itu melambaikan tangannya. Perempuan berambut sebahu pun datang.


"Kenalin nih. Teman lama ku." perempuan tersebut mengulurkan tangannya.


"Temanin ya! kasian lagi galau!"


"Siap!"


\=\=\=\=


"Mama ... kalau Syifa pulang liburan ini, terus balik lagi boleh kan, Ma?"


"Tanggung! nggak lama kok, Ma. Tinggal beberapa tahun lagi saja. Syifa usahakan semampu Syifa deh biar lebih cepat selesai." rayu gadis itu


"Maaf ya, Nak. Mama juga nggak tau. Dari dulu kalian juga sekolah jauh-jauh, kok. Mama sama sekali nggak masalah. Tapi, nggak tau kenapa sekarang rasanya Mama pengen kamu itu disana ada yang jaga. Atau kalau tidak ya ... kamu disini. Kalau Syifa disini Mama bisa lihat Syifa terus dan rasanya Syifa akan aman kalau dekat dengan Mama dan Papa."


"Mungkin rasa cemas itu, efek kesehatan Mama yang sedang nggak baik, Ma. Syifa kesini juga dulu Mama izinin kan."


"Iya, Ma. Akmal mana, Ma?"


"Akmal sudah balik lah! dia pulang cuma mau izin saja kok."


"Izin kemana, Ma?"


"Akmal bulan depan mau ke Libanon."


"Dih ... ngapain?"


"Pasukan perdamaian lah! kok ngapain"


"Terus Mama kasi izin gitu saja?"


"Adik mu itu tentara, Sayang. Bukan anak Smp yang kamu boncengin motor dulu!"


"Iya, tapi pastikan lama disana, Ma."

__ADS_1


"Iya, dia serba salah katanya. Mau nikah ... kakaknya nggak mau di langkahin katanya. Jadi, ya lebih baik pergi kesana saja katanya begitu. Siapa tau disana ketemu jodoh yang mau menunggu dia sampai kakaknya menikah dulu ...."


"Ih ... tuh anak jodoh terus yang di pikirin!"


"Loh ... kan sudah sewajarnya, Nak. Ingat! usia kalian berapa? teman-teman sekolahmu bahkan anaknya sudah ada yang sekolah!"


"Mereka kan nggak sekolah lagi, Ma. Syifa kan masih!"


"Ada terus jawaban mu. Nikah saja ya, Fa. Mama carikan yang sesuai kriteria mu deh."


"Mama iiih ... Syifa mau kuliah dulu."


"Ck! Semoga umur Mama sampai ya, Nak. Mama mau lihat kamu pakai baju pengantin."


"Jangan gitu dong, Ma"


Pembicaraan anak dan Ibu itu berhenti saat seseorang masuk ke dalam kamar.


"Siapa?" tanyanya


"Syifa, Mas." Papa Adzka melihat jam dipergelangan tangannya


"Sudah telponannya. Disana sudah tengah malam kan, Fa. Tidur!"


"Iya, Pa. Titip Mama ya, Pa."


\=\=\=\=


Rasa kantuk sama sekali tidak menghampiri gadis itu sedikit pun. Banyak pikiran berkecamuk, rasanya seperti benang kusut yang sangat susah untuk di urai.


"Pacaran saja lah. Siapa tau kalau sudah punya pacar dan mengenalkan ke Mama. Mama jadi tenang disana, nggak kepikiran lagi." ucapnya sendiri


"Ya ... di coba lah. Adam juga baik kok!"


.


.


.


.

__ADS_1


Ada yang setuju Adam dan Syifa jadian? 🤔


__ADS_2