The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh Lima


__ADS_3

Selain menghilangkan dahaga, Air juga berfungsi mengurangi tingkat kepenatan.


"Hah! segarnya ...." Syifa beberapa kali mengusapkan air yang ia tampung dengan kedua telapak tangan ke wajahnya


Tisu wajah yang selalu ada dalam tasnya pun ia gunakan untuk mengeringkan sisa-sisa air.


Gadis itu memakai bedak tipis dan membingkai bibirnya dengan pelembab bibir. Menyisir rambut panjangnya dan ia kuncir tinggi ala Ariana Grande.


"Saya duluan ya!" sapanya setelah keluar dari toilet menyapa beberapa perawat yang juga berada dalam toilet tersebut.


"Mau ke kampus, Dok?" tanya salah seorang dari mereka


"Iya. Kalian pulangnya hati-hati ya." balasnya ramah. Para juru rawat juga telah selesai jam kerjanya sama sepertinya


Melewati salah satu ruang inap pasien Syifa melihat Si Ibu tua. Masih sama seperti kemarin, Ibu tersebut masih menggendong bayi yang usianya masih hitungan bulan tersebut.


Syifa pun merelakan waktunya sebentar sekedar untuk menyapa.


"Selamat sore, Ibu. Bagaimana kabar si Ibunya bayi cantik ini!" Syifa menyibak sedikit kain yang menutup wajah si bayi


"Ibunya sedang tidur, Dok. Katanya kakinya sakit kalau bergerak walau sedikit saja. Tapi sudah jauh lebih baik dari kemarin kok, Dok."


"Oo begitu, Alhamdulillah. Si adek masih Asi kan ya, Bu."


"Iya, Dok. Agak kesulitan sih Ibunya."


"Ya ... ya saya paham. Saran saya lebih baik di pompa saja, Bu. Si adek juga kasian berada di rumah sakit terus."


"Terimakasih sarannya, Dokter. Dokter sudah selesai tugasnya? Ini sudah mau pulang?"


"Sudah, Bu. Sekarang mau ke kampus."


"Kuliah lagi atau jadi dosen, Dok?"


"Saya masih kuliah, Bu. Ambil spesialis. Kalau begitu saya permisi, Ibu. Adek cantik ... bu dokter pergi dulu ya "


"Iya bu dokter cantik. Yang semangat kuliahnya." jawab si ibu tersebut sambil mengangkat tangan si bayi mungil


Syifa pun berjalan keluar dari rumah sakit. Telpon genggamnya berdering. Dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut karena telponnya dari tadi ada di genggamannya


"Hallo, Selamat sore."


"Ini baru keluar dari rumah sakit. Makan malam dimana? boleh deh. Jemput di kampus saja deh. Oke!" Syifa memasukkan benda pipih itu kedalam tasnya. Gadis itu pun berjalan cepat menuju kampusnya.


\=\=\=\=


"Sejak kapan kamu suka makan-makanan Indonesia?"


"Sejak ketemu kamu!"


"Paling suka makanan apa?"


"Ini! Randang!"


"Nggak pedas?"


"Tidak. Ini enak. Kamu nggak suka?"


"Aku nggak suka pedas. Aku sukanya makanan yang manis."


"Semanis kecap yang kamu bawa-bawa setiap hari itu!" tunjuk Adam, kecap berukuran mini itu selalu menjadi penengah kalau Adam dan Syifa sedang berdua

__ADS_1


"Oow ... tentu!" jawab Syifa mengangkat botol mini tersebut dan menciumnya.


"Aku bukan hanya sekedar menyukai rasanya. Tapi dengan ini aku menjadi merasa sangat dekat dengan Mama ku." Adam mengerutkan keningnya


"Mama juga seperti ini! selalu membawa kecap kemana-mana. Kalau nggak ada kecap nggak makan, sekalipun lauknya itu semur kecap!" jelas Syifa


"Semur?!"


"Ya ... ini! Ini namanya semur Ayam! mau coba? Sini sendokmu!" Syifa mengambil sendok makan yang dipegang Adam dan mengambil semur ayam yang ada di piringnya


"Cobain deh! bentar ... bentar, aku tambahin kecap dulu." Syifa menuangkan sedikit kecap diatas secuil daging ayam yang ada disendok, lalu hendak meletakkan sendok tersebut kembali diatas piring Adam, tapi urung karena laki-laki itu membuka mulutnya


"Aaaa!"


"Aaaa apa?!"


"Suapin!" rengek Adam manja, Syifa pun menurut


"Ini manis sekali!" Adam cepat-cepat mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya kemudian meminum setengah gelas air putih


"Enak kan!" tanya Syifa


"Sepertinya aku lebih baik memakan permen saja." jawab Adam melap mulutnya dengan tissue


"Oh iya. Aku mau Vc Mama aku sebentar ya."


"Oke" Adam kembali menuang air kedalam gelasnya yang sudah kosong


"Assalamu'alaikum, Ma. Mama gimana kabarnya? Eh ... sudah dirumah ya, Ma. Alhamdulillah." Syifa sangat bahagia melihat sang Mama sudah berada di dalam kamarnya


"Wa'alaikumsalam. Iya, Fa. Mama sudah dirumah. Kamu lagi apa itu? sama siapa?"


"Syifa lagi makan di restoran Indonesia, Ma. sama Adam nih. Dam ... Adam! say Hai!"


"Alhamdulillah, Baik. Kamu apa kabar?"


"Baik juga Tante. Ini saya sedang makan Randang." Adam menunjukkan piring rendangnya yang hanya menyisakan bumbunya saja


"Wow ... dia suka Rendang?"


"Iya, Ma. Randang bilangnya! kayak orang Padang betul logatnya kan, Ma. haha" Syifa tertawa sementara Adam hanya diam tidak mengerti apa yang dibicarakan ibu dan anak itu.


"Sudah mau malam disana kan, Fa! pulang cepat! jangan lama-lama diluar!" suara papa Adzka terdengar. Laki-laki yang tadinya sudah tidur itu sebenarnya sudah terbangun sejak awal anaknya menelpon.


"Iya, Fa. Mama juga mau istirahat. Disini kan sudah hampir tengah malam."


"Iya, Maaf ganggu istirahatnya Mama. Tapi, Syifa telpon karena tadi lihat Mama lagi online."


"Ya sudah, Mama tidur dulu ya, Nak. Jaga diri baik-baik disana. Jangan terlalu sering merepotkan Adam. Nanti dia suka lo sama kamu!"


"Ih Mama ... kayak cenayang aja!"


"Eh ... betul? Adam suka sama kamu?"


"Iya, Ma."


"Terus kalian pacaran?"


"Belum, Ma."


"Kamu mau sama dia?"

__ADS_1


"Memangnya nggak boleh ya, Ma?" tanya Syifa


"Sayang sudah! tidur! Fa ... pulang!" Papa Adzka duduk dan mengambil handphone yang dipegang istrinya. Panggilan video itu langsung dimatikan oleh dokter senior itu


"Dih ... Papa kenapa tu ...." Syifa bergumam


"Sudah selesai telponannya?" Adam yang baru selesai dari toilet kembali duduk di kursinya


"Pulang yok, Dam."


"Loh, makanan mu belum habis."


"Kenyang. Yuk!"


"Ya sudah, aku bayar dulu."


Syifa berjalan lebih dulu, gadis itu berhenti di depan mobil berwarna lemon.


"Ayo!" Adam membukakan pintu mobil


"Terimakasih!" Senyum Syifa


"Mobilmu ganti, Dam?"


"Ini mobil temanku. Mobilku lagu di bengkel. Kenapa?"


"Oo, nggak. Tanya saja."


"Kita langsung pulang?"


"Iya deh. Aku capek banget nih. Besok juga pagi-pagi sudah harus ke rumah sakit kan."


"Ya sudah. Kalau ngantuk tidur saja


Nanti kalau sudah sampai rumah aku bangunkan."


"Hm" Syifa menutup matanya, tempat mereka makan memang agak jauh dari rumah Syifa.


"Eh!!! ada yang lupa!" ucap Syifa, Adam langsung menghentikan mobilnya.


"Apa?!" tanya Adam yang terkejut


"Kecap ku!"


"Astaga!! aku pikir apa. Ya sudah aku ambilkan, tunggu disini." Adam berlari menuju restoran, masih untung mereka batu saja memutar mobil dan masih berada dalam lingkungan restoran


"Kok bisa sampe lupa sih! Papa kenapa lagi tadi ekspresi wajahnya begitu. Apa Papa nggak suka Adam ya? Salah Adam apa??" Syifa bicara sendiri


"Hah! Kamu beruntung. Kecapmu masih belum mereka buang!" ucap Adam begitu masuk kedalam mobilnya


"Enak aja main buang!! Mana sini-in. Terimakasih."


"Kembali Kasih ...." jawab Adam pula


.


.


.


.

__ADS_1


Ada yang masih ingat tentang kecap? 😁


__ADS_2