The Secound Choice

The Secound Choice
Enam Puluh


__ADS_3

Mulut yang membentuk huruf O dengan udara yang tidak terlihat keluar dari sana membuat yang melihat cukup tau, sipemilik telah menghela nafas. Tapi, arti dari helaan itu hanya sipemilik bibir yang mengetahuinya.


Setelah membuang nafas, laki-laki itu mencoba tersenyum sambil mengeratkan pegangan tangannya kepada stiur mobil yang akan ia kendalikan beberapa menit kedepan.


Eyang putri sudah menggunakan sabuk pengamannya, lalu mobil itu pun melaju meninggalkan sipemilik rumah yang masih berdiri mematung menatap kepergian mobil yang mereka tumpangi.


Sebelumnya Hafiz membuka kaca mobilnya dan memberikan salam perpisahan kepada ibu Marni dan juga suaminya.


"Kalau saja kamu tidak kalah cepat, Fiz. Pasti Eyang sudah punya cucu menantu sekarang." ucap perempuan sepuh itu, rasa kecewanya begitu terlihat dari wajahnya


"Tidak ada yang pasti, Eyang. Yang pasti itu hanya ketentuan Allah yang akan jauh lebih baik dari ini." jawabnya menatap lekat wanita yang telah mendedikasikan hidupnya untuk sang cucu kesayangan.


"Ck! Kamu ini." cebiknya,


Sebenarnya rasa kecewa juga dirasakan Hafiz, ia juga mengutuk dirinya yang bergerak lambat menjemput jodohnya yang sudah siap untuk dipinang.


Beberapa jam lalu saat Hafiz dan Eyangnya sampai di rumah ibu Marni.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!" ucap Eyang, dari dalam rumah yang pintunya terbuka itu pun terdengar sahutan menjawab salam


Seseorang dari dalam sana sedikit berlari menemui mereka.


"Ya Allah, Ummi! Wa'alaikumsalam warahmatullah ...." ucapnya terkejut melihat siapa yang bertamu kerumahnya. Perempuan paruhbaya itu mencium punggung tangan Ummi Ana dan menangkupkan kedua tangannya menyapa Hafiz ramah.


"Ayo ... Ayo silahkan masuk, Ummi." ucapnya


Hafiz dan Ummi Ana masuk kedalam rumah tersebut, rumah bercat putih dengan ukuran tidak terlalu besar itu tampak begitu bersih dan rapi. Beberapa figura menempel di sisi dinding dan beberapa ornamen lainnya.


"Kenapa nggak kabari saya dulu kalau mau datang, Ummi. Untung saja kami sudah dirumah, kalau tidak kasihan Ummi sudah jauh-jauh datang rumah kami kosong." ucap Marni. Eyang putri hanya tersenyum, matanya melirik Hafiz. Marni menangkap sinyal itu seketika wanita itu menelan ludahnya sendiri.


"Sebelumnya Marni minta maaf, Ummi." ucap Marni mengawali, dengan susah payah ia mengatur nafas dan mengumpulkan keberanian untuk berbicara


"Ada apa?" tanya Ummi Ana


"Sebenarnya ... Kami sedang menyiapkan resepsi pernikahan anak kami, Ummi. Setelah pertemuan kita di acara itu saya ceritakan semuanya ke anak saya ke ayahnya juga. Ayahnya sangat suka dan berharap Hafiz menjadi menantunya. Tapi sepertinya anak kami tidak sesenang ayahnya. Dia anak yang sangat penurut, Dina sama sekali tidak pernah menolak permintaan kami.

__ADS_1


Saya mengamati beberapa hari, akhirnya saya tau kalau ternyata Dina sudah memiliki calon sendiri tapi tidak berani bercerita ke kami. Setelah didesak akhirnya Dina jujur dan mengatakan kalau teman dekatnya sedang berada jauh di bagian Timur sana baru mulai bekerja. Dia takut kami tidak setuju karena Dina tau kami ingin menjodohkannya dengan nak Hafiz.


Tapi, setelah menunggu ... Ini sudah lebih satu bulan sejak pertemuan itu kan, Mi. Ummi dan Hafiz tidak juga datang. Dan kami juga rasanya malu untuk bertanya ...." terang Marni tertunduk


"Ya Allah, kamu tidak usah seperti ini. Tidak apa-apa, Nak. Kami yang terlambat ... Ini semua karena kami yang tidak bergerak cepat. Dina bukan jodohnya Hafiz." Ummi Anna bangkit dan pindah duduk disebelah ibu Marni dan memeluk perempuan itu.


"Maaf ya, Ummi ... Nak Hafiz."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hm ... 🥰


__ADS_2