The Secound Choice

The Secound Choice
Empat puluh Empat


__ADS_3

"Belum tidur, Fa?" Langkah Syifa terhenti mendengar seseorang menyapanya dari ruang tv


"Loh, Papa belum tidur?! Papa nonton apa?" Bukannya menjawab gadis itu malah balik bertanya, keinginannya untuk mengambil buah dalam lemari pendingin pun ia urungkan dan berjalan mendekati papa Adzka


"Tuh!" Tunjuk papa Adzka pada layar berukuran lebar yang menampilkan luasnya lapangan hijau dengan ramainya orang memenuhi lapangan tersebut


"Sejak kapan Papa suka menonton bola?" Syifa mengernyitkan dahinya, sepengetahuannya papanya bukan termasuk laki-laki penggila bola yang merelakan jam istirahatnya demi melihat pertandingan itu


"Sejak kamu dekat dengan Adam." jawab papa serius


"Duduk sini! Papa memang mau bicara serius sama kamu. Mumpung mama mu sudah tidur." Papa Adzka menepuk bagian sofa disebelahnya, Syifa pun menurut


"Dari awal Papa memang tidak suka kamu dekat-dekat dengan Adam. Tapi papa tidak bisa menunjukkannya secara langsung karena mama-mu, papa lihat senang kau dekat dengan laki-laki, Mama mu berfikir kalau itu adalah tanda baik kau akan membuka dirimu untuk laki-laki selain Fauzi.


Syifa tau sendiri, Papa bukan tipe orangtua kolot yang suka memaksakan kehendaknya kepada anak kan?! Papa mencoba menerima semuanya jika itu yang terbaik buat kamu


Papa hanya bisa mengadu kepada Allah. Ternyata doa itu secepatnya Allah kabulkan. Allah membukakan matamu, akhirnya kau tau keburukan sifat Adam!" ucap papa Adzka panjang lebar


"Papa tau kalau Adam ...." ucapan Syifa terpotong


"Papa tau semua. Bahkan kepulanganmu ke Indonesia Papa juga sudah tau."


"Kamu nggak diapa-apain Adam kan?" Syifa menggeleng


"Pertemuan kedua saat di kantor polisi tempo hari, Papa bisa melihat kalau anak itu tidak bisa mengontrol emosinya. Waktu itu, Papa melihat dia marah-marah dengan seorang perempuan, sepertinya itu Ibunya. Papa paling tidak suka dengan laki-laki yang bersikap tidak sopan dengan perempuan. Terlebih lagi ini ibunya sendiri. Bagaimana papa bisa tenang membiarkan mu dekat dengan laki-laki seperti itu. Papa takut lama kelamaan Syifa akan jatuh cinta juga kepadanya." ucap papa Adzka panjang lebar


"Makanya papa bersyukur sekali kamu memutuskan untuk pulang. Walau sebenarnya papa menyayangkan pendidikan yang sudah setengah jalan Syifa jalani." Papa Adzka membelai rambut anaknya penuh kasih sayang.


"Tapi sekarang sepertinya kita punya satu masalah yang nggak bisa diremehin!"


"Apa, Pa?"


"Kamu mau jadi istri kedua?"


"Idih ... Papa mau punya anak istri simpanan?"


"Ya enggak lah, kalau bisa!"

__ADS_1


"Kalau nggak bisa?"


"Ya pasrah saja."


"Aaa, Papa!!"


"Mama kamu itu takut, Bunda nya Fauzi mau menikahkan kalian!"


"Ada-ada saja. Fauzi kan sudah menikah."


"Ya itu dia masalahnya. Bundanya itu sering telpon mama kamu. Dia merasa bersalah sudah misahin kalian. Ini lagi dia ketemu sama kamu kemaren di bandara kan. Apa nggak buat mamamu jadi kepikiran!"


"Iya sih, Bunda kemarin juga bilang gitu. Nangis lagi, Pa. Pelukin Syifa." jawab perempuan itu.


Suasana hening sejenak.


"Mas Hafidzh yang kasi tau, Papa?" Syifa menebak siapa yang memberitahukan semua nya kepada papa Adzka. Laki-laki paruhbaya itu mengangguk


"Papa salut dengan anak itu. Walau dia mengatas namakan rasa kemanusiaan tapi papa masih yakin kalau dia sebenarnya masih berharap kau mau menikah dengannya."


"Kemarin-kemarin katanya Hafidzh itu manusia es, dingin ... Nggak seru diajak ngobrol!"


"Emang iya, waktu itu ya begitu. Kalau nggak ditanya ya nggak ngomong. Gimana Syifa mau sama laki-laki begitu." jawab Syifa berapi-api mengingat pertemuan pertama dan beberapa kali pertemuannya dengan Hafidzh yang sangat irit bicara, berbeda dengan pertemuan terakhirnya waktu itu


"Trus?!" cecar papa Adzka


"Kemarin waktu Mas Adzka ke Koln, beda."


"Nyesel?!"


"Dikit!"


"Haha ... Kamu pasti akan mendapatkan laki-laki terbaik yang Allah berikan sebagai hadiah untuk papa."


"Maksud, Papa?


"Papa selalu berdoa kamu mendapatkan laki-laki yang mencintai kamu seperti Papa mencintai Mama-mu. Atau lebih dari itu."

__ADS_1


"Aamiin ya Allah." jawab Syifa


"Kuliahmu lanjutkan disini saja ya, Nak. Biar Papa urus!" Lanjut papa Adzka


"Hm ... Nanti sajalah, Pa. Syifa lagi pengen sama mama terus. Nggak tau deh kenapa, kok rasanya pengen manja-manja sama Mama. Ternyata tinggal dirumah kayak anak gadis itu menyenangkan ya, Pa.


Mau makan tinggal makan. Nggak perlu capek-capek kerja! Haha"


"Haha ... Kalau Papa sih nggak keberatan, kamu itu tanggung jawab Papa. Selagi papa masih mampu dan papa masih boleh ya tidak masalah."


"Masih boleh?"


"Iya, nanti kalau kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu kan beda ceritanya, Nak."


"Iya, ya Pa. Hm ... Tapi masih boleh minta duit ke Papa kan?"


"Haha kamu ini!"


\=\=\=\=


Didepan bangunan teristimewa yang berdiri kokoh dalam balutan kain yang disebut kiswah, Hafidzh bermunajat. Memohon kepada sang pencipta, agar mendapatkan ke ikhlasan untuk menerima usaha yang tengah dilakukan Abinya.


"Ya Allah, jika perempuan yang akan dikenalkan oleh teman Abi itu adalah pilihan yang terbaik untuk hamba berikan hamba ruang hati untuk menerimanya dan hadirkan cinta itu karena-Mu."


Hafidzh kini berada di makam Baqi. Mengucap doa tulus untuk wanita yang paling ia rindukan. Air matanya tidak pernah tidak tumpah ditempat itu. Walau bibirnya tersenyum.


Ziarah kali ini agak berbeda, karena mungkin untuk yang pertama kalinya Hafidzh merasa, dirinya tidak bisa mengabulkan permintaan atau keinginan Umanya.


"Uma, maafkan Hafidzh. Hafidzh sudah berusaha untuk mengabulkan keinginan Uma yang itu. Tapi, Hafidzh tidak mungkin memaksakan kehendak kita." ucapnya dalam hati


.


.


.


Saran dan kritik please 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2