The Secound Choice

The Secound Choice
Empat puluh Delapan


__ADS_3

"Kalau ibu dokter pernah berkorban untuk bunda, kenapa aku yang sekarang sudah menjadi anaknya justru tidak melakukan apapun! Ya ... Aku harus kuat. Ini yang terbaik!" ucap Yoli menatap wajahnya dicermin westafel.


Gadis itu menatap ponselnya yang tergeletak diatas kasur, Yoli ingin mengambilnya mengaktifkan kembali ponselnya yang sudah dari kemarin tidak ia gunakan.


"Ck! Kalau nyala mungkin saja mas telpon." Yoli meletakkan kembali ponselnya disembarang tempat. Dan meninggalkan kamar tempat almarhumah sang nenek menghabiskan waktu malamnya dulu.


Perempuan muda datang dari arah dapur setengah berlari menemui Yoli.


"Mba Yoli, makan ya. Dari sampai disini mba belum ada makan apa-apa loh." ucap perempuan muda tersebut


"Ya, ini mba mau makan. Kamu sudah maka, Dek?" balas Yoli bertanya. Perempuan muda bernama sari itu bekerja dirumah nenek sejak ia menikah dengan Fauzi. Sari-lah yang selalu menemani nenek selama wanita itu ikut dengan suaminya


"Sari buatkan susu ya, Mba?" ucap gadis itu dari belakang Yoli


"Nggak usah, Dek. Mba buat sendiri saja, mba sedang tidak ingin minum susu. Eneg! Lagi pengen minum teh saja."


"Loh ... Biasanya mba kan minum susu, kok bisa tiba-tiba eneg. Mba mulai ya?" tanya sari kepo


Yoli mengehentikan langkahnya, perempuan itu teringat sesuatu. Lalu kembali masuk kedalam kamar.


"Loh ... Mba mau kemana?"


"Ambil dompet! Kunci motor cariin ya, Dek. Mba mau keluar sebentar!!" ucap Yoli dari dalam kamarnya, Sari pun melaksanakan perintah.


\=\=\=\=

__ADS_1


Syifa membiarkan kakinya yang dipenuhi pasir pantai mengering dengan sendirinya. Gadis itu menatap sekeliling. Suasana pantai itu begitu ramai mungkin karena weekand.


Beberapa sulur rambutnya tertiup angin membuatnya tidak berhenti menjinakkan mahkota setiap wanita itu. Syifa membuka pengikat rambutnya dan membenarkan rambutnya dengan menyepol tinggi menampakkan leher jenjangnya dengan ngedumel.


"Ribet banget sih!" umpatnya sendiri


"Makanya kalau nggak mau ribet itu pakai hijab!!" ucap laki-laki yang berdiri disamping Syifa, gadis itu menatapnya dengan heran


"Hai! Aku Giandra!" laki-laki itu mengulurkan tangan masih tetap berdiri, Syifa ingin menyambutnya namun ia tetap pada posisi selonjorannya


"Nggak nyampek!" ucap gadis itu, laki-laki yang bernama Giandara tadi pun akhirnya ikut duduk diatas pasir dan kembali mengulurkan tangannya


"Giandra!" ucapnya lagi


"Maaf bukan muhrim!" jawab Syifa lagi, laki-laki itu meninju bahu Syifa


"Hahaha, Jayen ... Jayen!" ucap permpuan itu


"Haha, kita belum pernah berkenalan langsung kan!" jawab laki-laki itu yang kini juga tertawa


"Hm ... Benar juga ya. Aku Syifa!" akhirnya Syifa mengulurkan tangannya, keduanya berjabat tangan lama


"Susah banget sih minta waktu bapak pengusaha ini!" umpat Syifa


"Iyalah, aku kan sibuk. Eh, gimana ... Gimana?! Jadi kan?!" tanya laki-laki itu yang tampak tidak sabar menunggu jawaba Syifa

__ADS_1


"Jadi lah. Misi kita mulai! Janji loh jangan naksir!" Syifa mewanti-wanti


"Siap!!" jawab Giandra pula, keduanya kini bangun dari tempat mereka dan berjalan menemui Mama Juna dan papa Adzka yang sepertinya memperhatikan mereka dari kejauhan.


Mama Juna menatap Giandra dalam-dalam, wajahnya mengingatkannya dengan seseorang dimasa lalunya.


"Halo tante, apa kabar?!" laki-laki berkemeja coklat itu mengulurkan tangannya, Mama Juna menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Tante pasti lupa ya sama saya. Saya Giandra tante, anaknya papa Marchel!" ucap laki-laki pula.


Mata mama Juna membola diikut senyumnya yang sangat sumringah


"Ya Allah, kamu Giandra! kok jadi tinggi begini, Nak. Dulu kan kamu pendek!" ucap mama Juna


"Haha, udah pendek jelek lagi ya, Tan." sambung Giandra


"Iya ... iya, kamu sendiri sadarkan." tambah wanita paruhbaya itu lagi sambil tertawa


"Om!" sapa Giandra pula, Papa Adzka yang sedari tadi tidak berhenti menatap Syifa mengalihkan pandangannya


.


.


.

__ADS_1


.


Like, komen, vote juga yak 😊🙏


__ADS_2