
Perempuan paruhbaya memperhatikan gerak-gerik anak gadisnya dari kejauhan, garis senyumnya kian terang. Sambil menggeleng perempuan itu berbicara pada asisten rumah tangga mereka.
"Nggaaak pernah akur." ucapnya
"Iya, Bu. Tapi pasti sering kangen." jawab si bibi
"Tolong bereskan semuanya ya, Bi." perintah mama Juna, wanita itu mengangguk membawa rantang makanan berwarna-warni ke meja yang sudah berisi lauk pauk yang sudah mereka masak tadi.
"Nasinya mau ditambah lagi, Bu?" tanya bibi
"Tidak usah, Bi. Nasinya di dua tempat itu saja. Sayur dan lauknya masing-masing satu." jelas mama Juna pula
"Ntar nggak kenyang, Bu."
"Oh iya! Itu selada, kol sama timunnya masih dalam kulkas, Bi. Saya lupa. Wortelnya sekalian deh, Bi. Kukus sebentar saja." perintahnya lagi
Setelah itu mama Juna meninggalkan dapur dan berjalan menemui Syifa yang sedang bermalas-malasan sambil menonton tv.
Remote control yang ia pegang berulang-ulang ia tekan dengan penuh tenaga.
"Kalau nggak mau nonton tv nya dimatikan saja, Fa. Kasian itu remote dari tadi kamu siksa." ucap sang Mama
"Kenapa? Akmal ada salah ngomong?" tanya mama Juna. Syifa menghampiri mamanya dan memeluknya dengan manja
__ADS_1
"Itu, Ma. Si Kamal! Terus-terusan bahas nikah aja. Syifa jadi kesel!!"
"Hm ... Salahnya adik kamu itu dimana? Mama malah nggak suka kalau tiba-tiba dia datang sudah bawa istri!" mata Syifa membola, dirinya sama sekali tidak pernah terpikir soal itu. Syifa melepas pelukannya
"Pulang sudah bawa istri, Ma?" ucapnya, berharap hal yang menakutkan itu tidak pernah terjadi. Sementara mama Juna tersenyum sambil mengangguk
"Akmal kan tidak perlu wali untuk menikah, beda dengan kamu!" Mama Juna menyubit hidung Syifa
"Ayo, antarkan mama ke rumah sakit!" ucapnya pula meninggalkan Syifa yang masih bermain dengan pikirannya sendiri.
"Faa!!" panggil Mama Juna dengan intonasi yang mulai berbeda
"I-Iya, Ma. Syifa ganti baju dulu."
\=\=\=\=\=
Membuat Eyang putri sangat bahagia.
"Semoga Allah meridhoi perjalanan kita dan mendapatkan hasil sesuai dengan yang kita inginkan." ucapnya, Hafiz yang mengemudi tersenyum dan mengaminkan doa tersebut
"Kenapa tiba-tiba, Nak?"
"Hm ... Sebenarnya ini bukan tiba-tiba, Eyang. Segala sesuatunya kan harus dipikirkan matang-matang. Keputusan ini konsekwensinya bukan hanya sehari dua hari kan, tapi seumur hidup.
__ADS_1
Yang sangat jadi pertimbangan Hafiz adalah, anaknya tante Marni itu sama seperti Umma." jelas Hafiz, membuat eyang mengernyitkan keningnya yang sudah keriput
"Sarjana pendidikan, Eyang!" ucap Hafiz
"Ooo ... Itu! Eyang pikir kamu sudah kenal dengan anaknya Marni. Ternyata karena itu to. Kenapa sih, Fiz? semua selalu ada kaitannya dengan Mila. Eyang jadi iri!" Hafiz tersenyum mendengar ucapan sang Eyang.
"Eyang pernah dengarkan, kalau cinta pertama seorang perempuan itu adalah ayahnya ...." Eyang putri mengangguk
"Seperti itu pula dengan anak laki-laki. Menurut Hafiz, Umma adalah sosok yang paling istimewa dan Hafiz ingin punya pendamping seistimewa Umma." jelasnya lagi
"Tapi, Nak. Bukankah dalam agama kita melarang suami yang menyamakan istrinya seperti ibunya?" tanya sang nenek
"Iya, Eyang. Hafiz tau. Tapi, bukan seperti itu yang Hafiz maksudkan."
"Hm ... Eyang percayakan semua padamu. Eyang rasa ilmu mu juga jauh lebih banyak dibanding Eyang!" perempuan sepuh itu menepuk pundak cucunya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Komen please, kasi kritik dan saran kalian 😊🙏