
Syifa berjalan menuju food court. Rasa rindu memakan jenis pasta berkuah dengan potongan-potongan ayam semur menjadi pilihannya setelah menempuh perjalanan berjam-jam lamanya.
Hanya tinggal beberapa langkah menuju tempat tersebut, Syifa terpaksa berputar arah. Tangannya refleks menutup wajahnya dengan siku.
"Syifa!!" panggil wanita paruhbaya bersama seorang laki-laki yang seumuran dengannya.
Terpaksa Syifa menghentikan langkahnya, dan memasang wajah riang tanpa beban.
"Tu ... Kan, Yah. Beneran Syifa." ucap perempuan itu kepada suaminya
"Kamu apa kabar, Sayang?" peluk wanita itu pula, Syifa membalas pelukan tersebut sambil bertanya-tanya. Laki-laki yang ada diantara mereka berbicara dengan tanpa menghidupkan vokalnya alias tidak bersuara
"Kenapa, Yah?" tanya Syifa juga dengan melafalkan vokal kata namun tanpa bunyi
Namun bahasa bisu laki-laki yang ia panggil ayah itu tidak juga ia mengerti. Semuanya berhenti begitu perempuan yang memeluk Syifa menangis
"Bunda kenapa, kok nangis?" tanya Syifa
"Ayah! Bunda kenapa ini?!" tanya Syifa yang benar-benar tidak mengerti kenapa wanita yang tidak lain adalah orangtua Fauzi itu tiba-tiba menangis.
"Ayo kita duduk dulu deh!" Ayah Fauzi membimbing istrinya dan Syifa menuju jejeran kursi yang ada di ruangan luas tersebut
"Bunda sakit lagi?" cecar Syifa yang benar-benar penasaran
"Maafin bunda, Sayang. Bunda benar-benar bodoh! Bunda sama sekali nggak nyangka kalau sebenarkan kamu dan Fauzi itu bukan hanya sekedar sahabat." ucap Bunda di sela-sela isaknya.
Akhirnya Syifa paham apa maksud dari parodi yang dilakukan Ayah tadi. Mulutnya membulat menatap ayah yang juga menatapnya seolah berkata 'itu'
"Bunda ... Semuanya sudah lewat, Bun. Sudah lama. Fauzi sudah menemukan jodoh yang sangat baik. Syifa kenal dengan Yoli." terang Syifa, Bunda mengangkat wajahnya
"Kamu kenal Yoli, Nak?" tanya wanita paruhbaya itu. Syifa mengangguk
"Waktu pengabdian dulu kebetulan ketemu sama bu guru Yoli, Bun. Bawa nenek berobat. Hm ... Nenek apa kabarnya sekarang ya." tiba-tiba Syifa mengingat moment pertemuan mereka dan sinenek yang tidak bisa berpantang makan
"Nenek sudah meninggal, Fa. Belum lama juga." ucap Ayah yang sedari tadi hanya membiarkan Syifa dan istrinya bicara
__ADS_1
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un." Syifa sedih
"Yoli pasti sangat sedih, Nenek itu sudah seperti orangtua kandungnya."
"Kenapa Syifa nggak pernah cerita ke Bunda, kalau kalian pacaran bahkan sudah ingin menikah?" Bunda kembali ke topik utama
"Bunda! kita nggak usah bahas ini ya, Bun. Syifa baik-baik saja sekarang. Syifa juga masih mau berkarier kok, Bun. Ini Syifa lagi ambil spesialis." terang Syifa
"Iya, tapi Bunda merasa bersalah dengan kalian berdua. Apalagi Fauzi sepertinya ...." Bunda menjeda
"Sudah lah, Bun. Semuanya sudah terjadi. Syifa juga baik-baik saja. Malah semakin bahagia lagi! Iya kan, Nak?" potong Ayah.
Sesuatu yang sudah terjadi, walau menyesal seperti apa juga, waktu tidak akan pernah terulang kembali.
Syifa memegang tangan Bunda, menggenggam keduanya. Memberikan energi positif dan membuktikan bahwa dia baik-baik saja.
Bunda masih saja terlihat sedih, tapi kecerian Syifa yang berbicara dengan semangat kepada Ayah Fauzi membuatnya tersenyum juga akhirnya.
"Jadi kamu lagi libur, Nak?" tanya Bunda
"Iya, Ayah juga dengar Mamamu sudah pasang ring juga kan?" tanya Ayah
"Iya, Yah. Mohon doanya Ayah ... Bunda."
Syifa bolak-balik melihat jam dipergelangan tangannya.
"Sudah akan berangkat, Nak?" tanya Ayah
"Sepertinya begitu, Yah. Bunda ... Ayah. Syifa pergi ya." Syifa mencium punggung tangan kedua orangtua itu. Waktu transit pesawatnya mungkin hanya menyisakan sedikit waktu saja. Syifa berjalan menuju ruang tunggu bandara lagi.
\=\=\=\=
Hafidzh berbicara dengan seseorang yang lebih tinggi darinya. Wajah laki-laki itu khas otang timur tengah dengan pakaian yang semakin menguatkan identitasnya.
Mereka tampak berbincang santai. Sesekali diselingi dengan tawa dari keduanya.
__ADS_1
Disebuah rumah yang sederhana untuk seorang pengajar Al-qur'an di kota Madinah.
Perempuan berpakaian serba hitam dengan jilbab berukuran besar datang membawa nampan.
"Silahkan di minum, Ustadz Hafidzh. Kalau minum teh ini pasti teringat kampung halaman." ucap wanita yang rentang usianya tampak jauh beda dari suaminya
"Dari Indonesia, Ummi?" tanya Hafidzh, ia terkejut mendengar perempuan itu menggunakan bahasa Indonesia
"Ya. Saya juga dari Medan. Kita hanya beda kota." jawab perempuan yang memang dipanggi dengan sebutan Ummi itu
"Sudah pernah ke Indonesia, Ustadzh?" tanya Hafidzh kepada laki-laki yang baru dijumpainya dua kali saja itu.
Ustadzh berjubah tersebut adalah teman Abi Dzaki. Karena sesuatu hal yang di anggap penting. Abi Dzaki menyuruh Hafidzh untuk menemui Ustadzh tersebut.
"Sudah beberapa kali lah." jawabnya
"Bisa bahasa Indonesia dong, Ustadzh?" tanya Hafidzh pula
"Nggak terlalu lancar, Ustadzh." jawabnya
"Masih bisa lah diceritain langsung didepan orangnya!" ucap Ummi tersenyum selera humor wanita itu cukup lumayan tidak kaku seperti istri ustadzh-ustadzh lain.
"Sudah bilang belum, Abi?" tanya Ummi kepada suaminya
"Sabar. Baru juga sampai Hafidzhnya."
"Nggak sabar Ummi, Bi." ucap wanita itu pula. Hafidzh menangkap percakapan mereka dengan penuh tanya. Menerka-nerka apa sebenarnya tujuan Abi Dzaki mengutusnya menemui keluarga tersebut.
.
.
.
.
__ADS_1
Eng ...ing Eng. Perjodohan kah? 🤔