The Secound Choice

The Secound Choice
Sembilan Belas


__ADS_3

"Maaf Ustadz. Sepertinya saya tidak bisa menerima lamaran-lamaran itu." ucap Syifa tertunduk takut.


"Kenapa? tidak ada satu pun yang ingin lanjut ketahap perkenalan?" cecar ustadz yang usianya kira-kira sudah lebih dari 50 tahun tersebut


Syifa menggeleng. Kepalanya masih terus menunduk. Takut bahkan segan nya sangat luar biasa kepada laki-laki itu.


"Syifa mau konsentrasi ke pendidikan Syifa dulu saja, Ustadz."


Pak Ustadz manggut-manggut, lalu mengambil beberapa amplop-amplop berukuran besar di depannya.


"Ya sudah kalau begitu saya bisa memberikan kepastian kepada mereka-mereka ini untuk melanjutkan hidup mereka. Semoga nanti jika sudah tiba waktunya, Nak Syifa mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah."


"Aamiin. Terimakasih, Ustadz. Kami mohon izin."


Setelah mengucap salam, Syifa yang ditemani Anna meninggalkan masjid.


"Jantung aman, Fa?!"


"Huuft ... aman-aman! sumpah ... berasa kayak ujian ngambil gelar jilid dua tau nggak, An." Syifa mengusap-usap dadanya, sementara Anna justru malah tertawa


"Btw ... kenapa sih semuanya di tolak? apa salah satu dari cv yang di kasi ke kamu itu nggak ada yang menarik atau yang wow gitu?" tanya Anna, Syifa hanya mengendikkan bahunya


"Nggak tau!" ucapnya sambil lalu


"Nggak tau gimana?" kejar Anna


"Jangan bilang kamu belum baca satu pun biodata mereka!"


"Hehe ...." tawa Syifa dan tatapannya membiat Anna dapat menjawab pertanyaannya sendiri.


"Ya Allah, Syifa! sebegitu nggak pentingnya para lelaki di hidup mu!"


"Ya nggak gitu juga! papa ... adik aku, berarti banget buat ku. Kalau mikirin suami ntar-ntar aja deh."


"Aku kenal mereka loh, Fa. Kamu itu orang yang paling beruntung tau nggak. Banyak loh ukhti-ukhti lain yang mengharapkan mereka."


"Udah ah, jangan ngomongin itu. Ayo kita bahas pernikahan kamu saja." Syifa menggamit tangan Anna dan mereka berdua pun kini sudah sampai ke kamar wudhu


Setelah selesai shalat Maghrib Anna dan Syifa berpisah, Syifa sudah di tunggu oleh Adam di parkiran masjid


"Kalau saja kamu mau lihat salah satu cv para lelaki itu, aku berani jamin, pandanganmu nggak akan pernah ke Adam!" bisik Anna sebelum Syifa meninggalkannya


"Ih ... apa sih. Aku sama Adam cuma teman. Nggak ada apa-apa." jawab Syifa kemudian benar-benar pergi menghampiri Adam yang bersandar di mobil.


"Hai! udah shalat?" sapa Syifa


"Ah ... gampang! ayo jalan." jawab Adam, pintu mobil pun ia bukakan untuk Syifa


\=\=\=\=\=


"Oh begitu ya, Ustadz. Terimakasih" seorang laki-laki duduk sambil memegang telepon genggamnya. Memutar-mutar benda pintar itu seperti tengah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Laki-laki itu mengelus dada dengan tangan kirinya, bibirnya terlihat komat-kamit melafadzkan sesuatu berulang-ulang.


Ia lalu kembali duduk diatas kursi yang ada di hadapannya, dan kembali disibukkan dengan membaca layar monitor yang masih menyala.


Sebuah icon bersimbol amplop putih mengganggu perhatiannya, tidak berjarak waktu ia langsung membukanya. Serasa mendapatkan durian runtuh, raut wajahnya yang tadinya tegang kini mulai berangsur terurai.


Jemarinya pun dengan lihai menari diatas kypad yang menghasilkan banyak kata dalam monitor.


"Pakai saja dulu. Semoga suatu saat nanti itu bisa menjadi milikmu juga." gumamnya, kembali lagi bibirnya komat-kamit seperti mengucap mantra sambil mengelus dadanya.


Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Laki-laki itu mematikan laptopnya dan membersihkan mejanya dari remahan-remahan roti kering yang menjadi temannya hampir setiap malam.


"Assalamu'alaikum!" pintu terbuka dan ucapan salam dari luar terdengar sangat jelas.


"Wa'alaikum salam warahmatullah."


"Loh ... begadang, Nak?" pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan dan senyun dari laki-laki bertubuh tinggi tersebut.


"Sidak ya, Bi?" lanjutnya


"Iya."


"Aman, Bi?"


"Alhamdulillah ... tidak ada yang menambah fikiran Abi -lah. Jadi besok berangkat?" laki-laki paruh baya itu duduk di kursi menyandarkan punggungnya


"Insya Allah, pesawat jam tiga sore, Bi."


"Kalau disini saja kan bagus, Nak. Kamu bisa ikut mengawasi santri-santri disini."


"Ya kuliah lagi saja biar jadi dosen."


"Kuliah terus ...."


"Ya kalau nggak mau kuliah terus nikah saja lah! Eh, sudah ada jawaban belum?"


"Sudah, Bi. Setengah jam yang lalu ustadz telpon." Hafidzh menjeda kalimatnya


"Ditolak?!" Abi Dzaki bisa menebak ekspresi anaknya


"Sabar ya, Nak. Jangan lupa shalawat. Kalau masih rezeki mu pasti Allah akan kasi disaat yang tepat. Kalau sudah tidak boleh diharapkan baru lepaskan. Nanti biar abi yang pilihkan. Mau dari mana? santri sini? atau dari daerah nenek mu?"


"Terimakasih, Abi. Kalau Abi mau pilihkan Hafidzh akan pilihkan untuk Abi juga nanti." jawaban Hafidzh membuat Abinya tidak berkata apa-apa lagi


"Hafidzh tidur dulu ya, Bi."


\=\=\=\=


"Aku mau hubungan kita ini berubah, Fa. Bukan hanya sekedar teman." suara Adam begitu tegas seperti tidak ada keragu-raguan


Syifa menghentikan makannya, makanan yang tadinya begitu enak menjadi hambar seketika.

__ADS_1


Gadis itu sama sekali tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi.


"Maaf ... aku membuatmu jadi nggak nafsu makan begitu." Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Laki-laki itu jadi merasa nggak enak hati karena Syifa yang tadinya bersemangat sekali makan kini jadi hanya memainkan sendok dan garpu saja.


"Eh ... nggak apa-apa kok, Dam. Aku kaget saja." Syifa menatap laki-laki dihadapannya


"Kamu masih mau makan sesuatu?" tanya Syifa


"Tidak! aku sudah kenyang." jawab Adam, suasana jadi berubah canggung


Syifa menghabiskan jus jeruk hangatnya.


"Boleh kita pulang sekarang?"


"Makanannya belum dihabiskan, Fa." tidak biasanya Syifa menyisakan makanan dipiringnya, pikir Adam.


"Sudah kenyang. Syifa mau pulang!" ucap Syifa dengan mata berkaca-kaca


"Oke ... oke, kita pulang." Adam langsung berdiri


Seolah semua bisu, bahkan mobil yang ketika mereka berdua didalamnya selalu mendengarkan musik klasik pun kali ini ikut membisu.


"Maaf kan aku, Fa." Adam baru berani bicara setelah sampai ke rumah yang kini Syifa tinggali


"Tidak apa-apa. Nggak ada yang perlu di maafkan. Aku hanya terkejut saja. Nggak nyangka. Waktunya sangat singkat, Dam."


"Rasanya satu hari mengenalmu saja, aku sudah tidak ragu untuk jatuh cinta." tegas Adam


"Aku masih ingin sendiri. Aku juga takut berkomitmen. Kau tau apa yang terjadi padaku kan, Dam."


"Terimakasih untuk hari ini. Syifa masuk dulu ya" Syifa membuka pintu mobil


"Fa!"


"Ya" Syifa menghentikan langkahnya untuk turun


"Kita masih tetap berteman kan?" tanya Adam menghiba


Seulas senyum manis tersungging diwajah sendu Syifa, "Tentu saja! kita akan tetap menjadi teman."


"Hati-hati ya!" gadis itu melambaikan tangan lalu bergegas masuk ke dalam rumah


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hari minggu update, keren nggak tuh 🤭


Terimakasih yang sudah mau baca 🙏


__ADS_2