The Secound Choice

The Secound Choice
Dua Puluh


__ADS_3

Satu persatu jarum pengait yang bertugas menyatukan antara satu sudut kain ke kain yang lainnya dilepaskan. Gadis itu membuka penutup kepalanya yang tanpa sadar masih ia kenakan saat keluar dari masjid setelah shalat maghrib tadi.


"Nggak berasa pake ini lama" ucapnya menyengir didepan kaca.


Kedua telapak tangan yang sudah penuh dengan busa pembersih wajah itu ia usapkan merata keseluruh wajahnya. Kemudian air hangat ia gunakan untuk bilasan.


Rasanya ingin berlama-lama berada dalam kamar mandi yang ukurannya lumayan besar dibandingkan dengan kosannya dulu.


Dering telepon genggamnya membuatnya harus menjeda kegiatan untuk memanjakan diri itu.


"Privet, spokoynoy nochi ... konechno, ty skuchayeshʹ po mne pravilʹno." ucapnya begitu layar ditelpon genggamnya sudah menampilkan sosok wanita berhidung mancung


"Jangan membuat mu menjadi bingung sendiri! Bahasa Rusiamu sungguh mengerikan!" ucap gadis itu pula, disusul tawa keduanya


"Hahaha ... aku belajar dari Masha and the bear. Apa kabar mu? bagaimana pekerjaan mu menyenangkan kah?"


"Hooh, sangat menyenangkan. Membuat aku jadi kepingin cepat-cepat menikah hahaha"


"Haha ... siapa yang sudi menikahimu?" ledekan Syifa diselingi dengan tawa ejekan.


"Kau tunggu saja ya ...." keduanya kini saling tertawa bersama


"Btw ... hari ini aku membuat patah hati beberapa lelaki, Sha!" pembicaraan mereka berubah serius, apalagi intonasi suara Syifa seperti sedang sedih atau mungkin menyesal


"Tunggu! tunggu!" Natasha menjeda


"Kau menolak profosal yang diberikan ustadz di kajian?"


"Apa kau sudah membaca satu persatu profil mereka?" Syifa menggeleng, seperti melihatnya Natasha langsung meninggikan suaranya


"Kenapa! yang melamarmu itu bukan orang-orang sembarangan, Fa. Banyak yang menginginkan mereka!!"


"Profesi mereka juga mendukung!"


"Dokter! pengusaha!"


"Oh ... ada yang dokter ya?" ucap Syifa polos


"Jangan bilang kau belum membaca satu pun dari itu!" Natasha curiga


"Hehe ... memang tidak ...."


"Astaga ... Syifa! apa kita tidak boleh tukar tempat?"


"Boleh juga tuh idenya hahaha, Sha ... ada satu lagi yang aku tolak hari ini!"


"Siapa?"


"Adam!" dari seberang sana Syifa mendengar Natasha seperti tersedak


"Hey ... Are you Ok?"


"Hahaha ... iam Oke!"


"Kenapa ketawa?"


"Haha ... lucu aja, Fa. Tiga laki-laki yang melamarmu ... yang baru saja kau tolak itu semuanya best! apalagi si Adam tengil itu hahaha ... berani-beraninya dia ya!"

__ADS_1


"Apa sih! aku nggak pernah diskriminasi gitu kok." jawab Syifa, namun Natasha makin tertawa


"Nggak boleh ketawa begitu ah, Sha."


"Lucu aja rasanya! trus! terus! gimana ekspresinya?"


"Hm ... ya, kelihatan beda sih wajahnya. Nggak seperti biasanya. Tapi dia tetap ngantar aku sampai rumah kok."


"Duh ... kasian ya. Kenapa ditolak sih? alasannya apa? masih belum move on juga?"


"Bukan itu! kalau yang dari ustadz kan memang sudah lama. Kasian mereka menunggu kepastian terlalu lama kan, jadi ya ... lepaskan saja lah."


"Kalau Adam?"


"Nggak tau deh, Sha. Belum mau saja punya komitmen lagi."


"Masuk dalam catatan sejarah ni, tanggal 21 seorang Syifa menolak empat laki-laki sekaligus! ih ... kereen!" ucap Natasha


"Eh, tanggal 21 ya?"


"Iya, 21 Juli! Kenapa?"


"Ini hari ulang tahunnya dia ...." Lagi-lagi Syifa sedih


"Hah!" Natasha membuang nafas malas


\=\=\=\=\=


"Sebelumnya saya mohon maaf, Mas. Karena pergi meninggalkan rumah sebelum mas pulang dinas. Nenek sedang sakit, Mas. Yoli kerumah nenek dulu ya, Mas. Kali ini nenek sedang membutuhkan Yoli. Nanti kalau nenek sudah baik-baik saja, Yoli akan pulang. Mohon doanya juga ya, Mas."


Beberapa baris kalimat tertulis diatas kertas hvs yang diletakkan di atas tudung saji.


Telepon genggam yang ada dalam saku celananya ia keluarkan. Laki-laki itu bermaksud ingin menghubungi seseorang.


"Lah ... mati!" ucapnya, lalu berdiri menunda makan sejenak untuk mengisi daya handphonenya


Setelah telpon pintar itu terisi daya, Fauzi langsung menghidupkannya. Sepersekian detik suara notifikasi tidak berhenti berbunyi.


"Brisik!" umpatnya, lalu kembali melanjutkan makan


"Sempat-sempatnya masak seenak ini." ucapnya sendiri seolah memuji masakan istrinya


"Kamu beruntung punya istri seperti Yoli!" tiba-tiba ucapan wanita yang paling ia sayang terlintas dibenaknya


Setelah selesai mengamankan pasukan perut yang membuat kericuhan, Fauzi membersihkan meja makan dan mencuci piring yang kotor.


Dering handphone membuatnya segera menyelesaikan kegiatannya.


"Halo, Pa!" ucapnya setelah panggilan itu tersambung


"Apa? kapan?"


"Iya, iya. Oh ... papa dan mama sudah otw kesana?"


"Oke, Fauzi ke kantor dulu sebentar setelah itu langsung ke stasiun. Ketemu disana saja ya, Pa. Assalamu'alaikum!"


Fauzi menyambar kontak motornya lalu memacunya secepat mungkin.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Wanita paruh baya tampak sedang berbicara kearah kamera, walaupun usianya tak lagi muda tapi wanita itu terlihat sangat manja.


"Mama datanglah kesini! sudah lama kan enggak ketemu cucu!" ucapnya


"Cucu yang mana? apa mama sudah mau punya cucu baru?"


"Mama ini ada-ada saja!" cebiknya


"Kau ini tidak sopan! mama ini sudah sepuh, seharusnya kau yang datang kesini!" ucap perempuan berkerudung hitam itu


"Apa, Ma? sepuh! akhirnya mama sadar juga!" ucap wanita itu yang tak lain adalah mama Juna


"Kau ini! mama sudah 7 tahun pensiun! Mama sudah tua, kau juga! teman-temanmu bahkan sudah banyak yang punya cucu kan?"


"Iya"


"Mama akam datang kesana nanti kalau Syifa atau Akmal menikah. Insya Allah, kalau Allah masih kasi mama umur."


"Jangan ngomong gitu lah, Ma." mama Juna teringat papanya yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka


"Kabar bundamu bagaimana, Nak?"


"Alhamdulillah Bunda sehat."


"Beruntung sekali dia. Mama juga kepengen bisa meninggal di tanah suci nanti."


"Mama jangan ngomongin itu ah. Juna nggaj suka! Mama dan bunda selalu Juna doakan panjang umur." cebik mama Juna


"Aamiin ya Allah ...."


"Akmal dan Syifa mana yang lebih dulu ni? umur mereka sudah matang loh, Nak. Jangan ngejar karier terus lah."


"Akmal sih udah mau, tapi kakaknya nggak mau dilangkahi, Ma."


"Ya, nikahkan saja kalau begitu. Mama ada calon nih disini. Bibit bebet bobotnya juga bagus!"


"Syifa mana mau!"


"Mau nunggu mantannya jadi duda?"


"Dih, amit-amit! jangan ya Allah. Dekatkan jodoh anak hamba ya Allah." Mama Juna mengetuk jidatnya kemudian mengetuk kursi yang ia duduki dengan kepalan tangannya


"Sebenarnya sudah ada yang melamarnya melalui mas Adzka, tapi kelanjutannya Juna nggak tau. Kalau sekarang Syifa cuma mau konsentrasi ke pendidikannya dulu saja, Ma. Biar cepat selesai katanya."


"Iya, tapi kasian Akmal juga kan. Keburu ngebuntingin anak orang dia!"


"Ya Allah, Mama!! doanya itu loh!"


.


.


.


.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2