
Seharian Syifa mengurung diri di kamarnya, perasaannya masih kacau. Beberapa kali sang asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar untuk menanyakan kabar gadis tersebut. Sepertinya wanita tua itu cemas karena sejak pagi Syifa belum juga makan.
"Nanti saja, Bi. Syifa belum lapar. Bibi makan duluan saja ya ...." ucap Syifa tanpa membuka pintu. Sudah menjadi kebiasaan mereka setelah Eyang putri kembali ke Sumatera, Syifa selalu mengajak bibi untuk makan bersama.
Sementara di Rumah sakit, Hafiz sedang sibuk mengurus pasien. Qadarullah mungkin karena hari ini hari Senin, pesakit seolah menyerbu rumah sakit tersebut untuk memeriksakan penyakit mereka. Kesibukannya membuat Hafiz melupakan rasa kesal yang ia rasakan sejak pagi. Kesal? atau cemburu? Entah lah, hanya Hafiz yang tau.
\=\=\=\=\=
Jam lima sore, Mobil yang Hafiz kendarai sudah terparkir di depan rumahnya. Laki-laki itu keluar dan menurup pagar rumah tersebut lalu duduk sejenak di kursi yang ada diteras rumah sambil membuka sepatunya.
Bi Minah yang sedang menyiram tanaman menghampiri majikannya tersebut.
"Den! Bibi sudah masak untuk makan malam. Tapi kalau Aden dan Neng makannya sehabis maghrib, lebih enak kalau dipanaskan lagi makanannya. Bibi minta izin mau pulang, Den. Si mamang masih demam."
"Loh, kalau mamang masih sakit kenapa Bibi kerja, bi. Ya Allah, kasian sekali si Mamang sendirian."
"Hm ... Enggak kok, Den. Anak saya yang jaga kebetulan anak dan mantu saya datang sejak kemarin.
Oh iya, Den. Neng Syifa dari tadi pagi belum makan. Bibi mau antarkan makanannya ke kemar, tapi neng Syifa bilang masih kenyang." mata Hafiz membola terkejut mendengar apa yang dikatakan bibinya itu
__ADS_1
"Maaf ya, Den. Berumah tangga itu memang tidak selamanya indah. Pasti ada masalah-masalah di dalamnya. Apa lagi di awal-awal pernikahan seperti ini"
"Hm ... Iya, Bi. Makasi ya, Bi."
Sepertinya, suaminya masih sakit adalah alasan bi Minah untuk memberikan ruang kepada Syifa dan Hafiz untuk berdua. Wanita itu ingin mendamaikan keduanya tapi ia tau siapa dia dirumah itu.
Setelah bi Minah pulang, Hafiz pun naik menuju kamarnya. Tanpa salam seperti biasa, Hafiz membuka knop pintu yang ternyata tidak di kunci. Hafiz mendapati istrinya sedang berbaring membelakanginya.
Hafiz meletakkan tas dan jasnya ketempat yang semestinya dan berlalu ke kemar mandi tanpa menyapa Syifa.
Perempuan itu memejamkan matanya, tepatnya memaksa matanya untuk terus terpejam.Tubuhnya tergoncang, ada tubuh lain yang naik ke atas tempat tidur itu.
"Syifa!" Hafiz sedikit memaksa, ingin membalikkan tubuh itu agar menghadapnya tapi Syifa mengelak
"Ck! Perutnya nggak sakit?" tanya Hafiz yang kini hanya berbaring di sebelah Syifa
"Kata bibi Syifa belum makan dari pagi, kenapa? Menyiksa diri sendiri itu dosa loh.
Lusa kita kan mau pulang, kalau kamu sakit gimana? masak iya resepsinya minta di undur lagi. Nanti mama dan papa marah loh."
__ADS_1
Syifa tidak mengeluarkan sepatah katapun, jangankan kata ... Berganti posisi pun tidak. Gadis itu tetap memunggungi suaminya.
"Ya sudah lah. Kalau mau makan bibi sudah menyiapkannya. Mas ke masjid dulu!" Hafiz pun beranjak,
Setelah terdengar suara pinty di tutup, Syifa pun duduk menatap nanar ke arah pintu dengan mata yang sudah basah dan hidung yang memerah.
"Sana aja resepsi sendirian!" umpatnya
.
.
.
.
🤣🤣🤣
\=\=\=\=\=
__ADS_1