The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh Enam


__ADS_3

"Mau bagaimana lagi, Nak. Saya tidak mungkin memaksakan kehendak saya walaupun kepada anak saya sendiri. Kebahagiaannya lebih utama dari segalanya. Saya mohon maaf."


"Tidak apa-apa, Dokter. Dokter tidak perlu minta maaf." terdengar suara dari seberang sana. Intonasi nadanya biasa saja tidak ada sedikitpun kecewa sepertinya


"Baiklah kalau begitu selamat bekerja, Dokter. Maaf mengganggu waktunya." ucap pria berkacamata tersebut


"Baik, Dok. Selamat bekerja juga. Assalamu'alaikum" jawaban dari seberang sana ditutup dengan salam


Pria berjas putih dengan kacamata yang terus melekat membingakai kedua panca indranya memijat-mijat kepalanya. Sepertinya laki-laki yang sudah berumur itu sedang banyak pikiran.


"Dok ... mau makan siang dulu atau saya lanjut panggil pasien?" tanya seorang juru rawat berhijab


"Berapa pasien lagi?" tanyanya


"Dua, Dok. Kedua-duanya anak kecil."


"Oh ... suruh masuk saja!" ucapnya ramah. Tidak berapa lama pintu terbuka, seorang ibu muda masuk dengan menggendong balita bertubuh kurus dengan bibir dan jari-jari tangannya kebiru-biruan.


"Silahkan duduk, Ibu. Halo, Jagoan! Jagoan kok masuk ruangan dokter di gendong!" sapa sang dokter ramah. Senyuman kecil terbit diwajah mungil itu


Seberapa banyak masalah yang dialami, demi pekerjaan yang sudah di emban bertahun-tahun dan melalui proses juga sumpah profesi. Masalah tersebut harus di nomor dua kan saat jas putih melekat membalut tubuhnya yang masih kekar meski usianya sudah lewat setengah abad.


\=\=\=\=


Syifa berjalan mendorong trolli berisi beberapa bahan makanan dan buah menuju kasir. Beberapa orang sudah mengantri di tempat itu.


Gadis itu pun akhirnya ikut mengantri. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Syifa membuka sosial medianya.


Bruuuk!


Telepon genggam Syifa terjatuh, seseorang menyenggolnya dari belakang.


"Astaghfirullah ...." ucapnya mengambil telpon genggam tersebut. Layarnya pecah

__ADS_1


"Maaf kan saya. Saya tidak sengaja. Saya terburu-buru!" Seorang Ibu tampak sangat gugup. Usianya sekitar 60 tahun. Isi keranjang belanjanya juga berserakan.


"Ibu kenapa?" Syifa membantu si Ibu tua memasukkan barang-barangnya kedalam keranjang belanja.


"Saya harus segera pulang. Anak saya sudah menunggu terlalu lama katanya." ucap Ibu tersebut


"Oh ... kalau begitu silahkan ibu duluan saja." Syifa merelakan antreannya jadi lebih lama.


"Kasihan sekali dia. Kalau belanja pasti selalu terburu-buru seperti itu!" bisik seseorang dibelakang Syifa


Tadinya Syifa berpikir Ibu tersebut bukan orang yang mampu. Tapi setelah kartu hitam ia gunakan untuk transaksi Syifa jadi penasaran dengan si ibu tersebut, ditambah lagi bisikan-bisikan dari beberapa para antrian yang sepertinya sudah mengenal ibu tadi.


"Saya tinggal sebentar! Hitung saja!" ucap Syifa. Gadis itu berjalan mengikuti Ibu tua tadi dengan jarak yang lumayan jauh.


Pintu kaca terbuka otomatis. Ibu yang membawa dua kantong belanjaan itu tampak berbicara dengan seseorang yang memakai topi.


"Itu anaknya mungkin ya!" bisik Syifa dari balik tiang yang lumayan bisa menyembunyikan tubuh mungilnya.


Syifa menutup mulutnya, terkejut begitu melihat apa yang tadi terlintas di benaknya begitu melihat wajah si Ibu tua dari jarak yang sangat dekat.


\=\=\=\=\=


Jemari Syifa terus mengetik membentuk kata demi kata yang tertera di layar yang ada di depannya.


Gadis itu sedang mengirim pesan melalui email kepada sahabatnya yang sudah hampir satu bulan ini tidak memberi kabar.


"Apa yang terjadi padamu disana, Sha? Apa kau baik-baik saja?" Syifa bicara sendiri


Anastasha ... Dokter yang sudah berada di negara asalnya tersebut tidak ada kabar sama sekali. Syifa kehilangan teman curhatnya.


"Ini sudah email ke empat yang aku kirimkan, namun satu pun tidak ada yang kau balas! Kau kenapa, Sha?"


Syifa memakan apel yang tadi ia beli di supermarket. Selera makannya hilang. Hanya buah yang ingin ia makan malam ini.

__ADS_1


"Halo, Malam." ucap gadis itu mengangkat telpon


"Ada apa, Dam?" tanyanya pula. Ternyata laki-laki itu mengajaknya untuk makan malam


"Kalau lusa saja bagaimana? Aku sudah makan. Kau terlambat mengajakku makan!" ucap Syifa manja


"Baiklah! kalau begitu aku makan lusa saja!" ucap Adam lalu langsung mematikan sambungan telpon mereka.


Mata Syifa membulat. Semakin hari tingkah Adam semakin aneh pikirnya. Sifatnya sudah mengarah ke posesif dan bertingkah seolah Syifa sudah seperti haknya.


"Iya kali tahan nggak makan sampai lusa!" gumam gadis itu, menatap layar telpon bergambar kedua orangtuanya


Syifa mengambil buku tebal berwarna coklat. Buku Autobiografi Ibnu Sina itu merupakan makanan penutupnya sebelum tidur.


"Oo iya! besok pernikahan Anna!" Gadis itu melupakan sesuatu


"Aku pakai baju apa?!" Lemari pakaian pun menjadi tujuannya saat ini


"Auto beli gamis deh ini besok!" Syifa kembali membersekan pakaian-pakaiannya.


.


.


.


.


.


Ada yang bingung kalau mau kepesta bilang nggak ada baju 🤭


Kalian benar2 perempuan kalau begitu 😁

__ADS_1


__ADS_2