
Syifa meletakkan ponselnya lalu turun dari tempat tidur, rasa kantuknya nyaris hilang. Dilipatnya sajadah, mukena dan membuka sarung mukena yang masih ia pakai.
Gadis itu mengambil kembali ponselnya, bukan untuk menelpon hanya memastikan sudah jam berapa saat ini.
"Kok nggak pulang-pulang. Apa mas di bawah ketemu teman-temannya ya?" ucapnya sendirian
Syifa pun menyisir rambutnya, memakai cipur rajut dan mengambil kain hijab berwarna senada dengan gamis yang ia pakai. Tanpa melihat kaca gadia itu memakai jilbabnya sambil berjalan.
Melewati ruang tamu dan hendak menuju pintu keluar langkahnya terhenti saat suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Mau kemana, Yang?" ucap Hafiz
Syifa membalik badannya, ternyata Hafiz sudah ada dibelakangnya saat ini.
"Eh!!!" Hafiz mengambil sesuatu yang ada dalam mulut istrinya
"Kalau tertelan gimana? Jangan buat begini lagi." ucap Hafiz, bukan marah tetapi hanya memberikan peringatan saja. Terkadang hal kecil bisa menjadi sesuatu yang besar kalau di remehkan.
Syifa hanya bisa nyengir menatap suaminya yang memegang jarum. Syifa tidak jadi memakai jilbabnya, kain penutup kepala itu pun jatuh kebahu karena Hafiz tiba-tiba memeluknya.
Lama ... Sangat lama. Hafiz memeluk Syifa sangat lama, tanpa berbicara apapun.
Awalnya Syifa menepuk-nepuk punggung suaminya, membalas pelukan itu sampai ia bosan karena merasa pelukan itu sudah sangat lama.
"Mas!" panggilnya, namun tidak ada jawaban
__ADS_1
"Maas!!" panggil Syifa lagi, namun respon Hafiz masih sama
"Maaas ...." Syifa melembutkan suaranya, seolah merengek karena memang sudah merasa capek menopang tubuh kurusnya yang ditambah beban separo tubuh sang suami
"Mas!" kali ini Syifa menggoncang tubuh suaminya
"Diam dulu! Biarkan mas seperti ini. Mas lagi marah!" akhirnya Hafiz bicara juga, kalimat singkat yang keluar dari mulutnya itu membuat Syifa mengernyitkan dahinya
"Marah kenapa, Mas?" Syifa tak sabar menahan perasaan ingin tau nya. Pelukan Hafiz ingin ia lepaskan dan menatap wajah tampan suaminya itu lekat-lekat, namun tenaga Hafiz jauh lebih kuat darinya
"Sayang! Diam dulu. Biarkan Mas seperti ini dulu." jawab Hafiz lagi
Akhirnya Syifa pasrah, menurunkan kedua tangannya hingga menjuntai ibarat tubuh tidak berdaya, hanya kaki yang bisa menopang tubuhnya.
\=\=\=\=\=
Makan yang hanya bertanda batu sebagai nisan, tanpa bertuliskan nama atau apapun layaknya makan yang ada di tanah air mereka itu adalah tempat dimana cinta pertama Hafiz di makamkan.
Setelah di rasa cukup menghabiskan waktu ditempat itu, Hafiz dan Syifa pun berjalan pulang. Disepanjang perjalanan sambil menunggu taksi, Syifa banyak bertanya tentang keluarga suaminya tersebut. Hafiz pun mengenalkan sedetil mungkin, agar Syifa tidak terlalu canggung kalau pulang ke Indonesia nanti.
"Mas!"
"Iya, Sayang?"
"Hm ... Kalau nggak panggil Sayang boleh nggak, Mas? Panggil Dek saja gitu." ucap Syifa
__ADS_1
"Kenapa memangnya kalau mas panggil Sayang? Ada yang cemburu?"
"Eh! Nggak gitu, Mas."
"Mas kenapa sih? Kok rasanya agak aneh ya?" Syifa menatap ke lain arah, melihat sekeliling sampao melihat langit sore
"Ow! Syifa tau ... Tadi, mas dengar Syifa bicara sama Fauzi ya?" tebak Syifa, menatap suaminya dengan senyum yang tertahan
"Hm" jawab Hafiz
"Hahaha ... Cie ... Cie yang cemburu." ledek Syifa pula, Hafiz hanya menatapnya dengan menahan senyum melipat kedua tangannya di dada.
"Ayo, itu taksinya." ucap Hafiz menggandeng tangan Syifa
"Syifa nggak ada rasa apa-apa lagi kok, Mas. Percaya deh sama Allah." Syifa mengangkat dua jari 'pis' saat Hafiz menghentikan langkah dan menatapnya.
"Iya kan, kalau Syifa bilang percaya sama Syifa, ntar Masnya jadi Syirik." ucap gadis itu lagi
.
.
.
.
__ADS_1
Oke, kita masik ngontrak disini, ngontrak 😁