
Syifa memijat lembut sepasang kaki milik wanita yang ia panggil dengan sebutan nenek itu. Tubuhnya yang sudah berbeda dari pertemuan terakhir mereka dulu menunjukkan bahwa peredaran masa tidak berhenti.
"Mama kamu tidur?" tanya sang nenek
"Iya, Nek. Mama sepertinya kecapean." jawab Syifa
Mama Juna dan Syifa saat ini berada di kediaman mama Lia, nenek Syifa yang masih tetap tinggal dirumah yang dulu mama Juna pernah tinggal disana.
Setelah mengetahui Syifa sang cucu sedang berada di Indonesia, perempuan sepuh itu langsung memberi titah agar anak perempuan dan cucu perempuannya itu mengunjunginya segera.
"Kapan kalian menikah? Ini sudah lewat dari target yang kalian inginkan. Nenek juga kaget denger kamu malah ambil spesialis."
Syifa terkesiap, ternyata cerita sedih yang ia alami tidak sampai ke telinga ibu dari mama Juna tersebut.
Syifa menghela nafas, untuk memberikan penjelasan kembali tentang itu sama saja seperti membuat luka dihatinya.
"Sebenarnya ... Fauzi sudah menikah, Nek." Syifa menghentikan pijatannya
"Apa?! Dia sudah menikah? Bagaimana bisa! Apa salahmu, kenapa dia meninggalkan mu?!" ucap nek Lia terkejut, suaranya lumayan membuat bayi menangis karena terkejut jika ada bayi disekitar mereka
"Sssstt! Nek ... Nanti mama bangun." ucap Syifa
"Ceritanya panjang, Nek." lanjut Syifa pula
"Sepanjang apapun itu, ceritakan sama nenek. Jangan ada yang terlewat!" nek Lia menarik kedua kakinya, agar Syifa tidak lagi memijatnya dan mengulang kisah pun dimulai.
__ADS_1
Dengan tegar Syifa menceritakan semuanya hingga nek Lia akhirnya mengerti, yang tadinya begitu emosi kepada Fauzi kini malah berubah mengasihani kedua nya, Syifa dan juga Fauzi adalah korban dari sebuah harapan yang tidak terkabulkan.
"Nggak jodoh, Nek. Papa sering bilang sesuatu yang kita dapatkan sesuai dengan harapan adalah baik, tapi ... Jika sesuatu yang kita dapatkan tidak sesuai dengan harapan juga bisa lebih baik karena itu kehendak Allah." ucap Syifa berkaca-kaca, pertahanannya untuk tegar semakin menipis ditandai dengan kedua netranya yang berkaca-kaca.
"Allah pasti akan memberimu laki-laki yang lebih baik dari Fauzi." ucap nek Lia pula sembari memeluk cucunya.
Syifa pernah mengenalkan Fauzi kepada keluarganya yang ada di Makassar tersebut, walau hanya sekali tapi wanita yang dulunya berprofesi sebagai pengacara itu langsung menyukai dan menyetujui hubungan cucunya tersebut.
"Berarti melanjutkan pendidikan spesialis itu pelarian kah?" tanya sang nenek, Syifa hanya menjawabnya dengan menyengir saja.
\=\=\=\=\=
Sepasang manusia sedang menikmati makan malam. Sedikit canda dari keduanya membuat malam itu kian indah.
"Alhamdulillah, kalau mas suka."
"Besok kita masak apa ya, Mas. Ayah dan bunda kan mau datang."
"Hm ... Masak yang simple saja tapi enak!"
"Contohnya, Mas?"
"Apa ya ... Semur saja deh. Ayah paling suka semur ayam. Buat semur simple atau susah?"
"Ya ... Nggak simple-simple amat sih, Mas. Tapi ya nggak apa-apa besok Yoli masakin. Sayurnya apa?"
__ADS_1
"Buat lalapan saja lah, besok mas bantu belanjanya juga deh. Oh ya, tolong buatkan sambal terasi ya!"
"Ini masih ada, Mas?" Yoli menunjuk bowl yang berisi permintaan suaminya
"Besok pagi juga habis ini!" jawab Fauzi pula. Laki-laki penyuka berbagai jenis makanan pedas itu kembali melahap makanannya.
Uhuk! Uhuk!
Fauzi menepuk-nepuk dadanya kemudian meminum segelas air putih yang baru saja dituang sang istri.
"Makannya pelan-pelan, Mas." nasehat Yoli
"Ada yang nyeritain mas ini!" ucap Fauzi pula
"Haha, mas yang makannya terlalu lahap." jawab Yoli tertawa
Rumah tangga mereka kini sudah seperti layaknya rumah tangga sebenarnya. Saling berinteraksi satu sama lain, bukan lagi seolah dua orang asing yang terpaksa tinggal satu atap. Semuanya sudah jauh lebih baik di usia pernikahan mereka yang sudah lebih dari dua tahun.
.
.
.
Maaf lama tidak up date, author sedang suka-sukanya main-main benang 🤣
__ADS_1