
Syifa Pov
Aku tidak tau, sejak kapan aku menjadi perempuan yang selalu memandang nomor-nomor yang tersusun rapi dalam kertas yang tidak terlalu besar yang berada disamping tempat tidur kami ini.
Ini kali ke empat aku melingkari nomor dengan jumlah yang sama dalam bulan yang berbeda.
Kecewa! Aku terus merasakan rasa sakit dalam hati ini, dan juga rasa takut yang tidak kalah besarnya saat mengingat wajah tampan suamiku yang sebenarnya tidak banyak menuntut tapi aku tau kalau beliau juga mengharapkan hal yang sama dengan ku.
Tok!
Tok!
\=\=\=\=
"Assalamu'alaikum!"
Pintu kamar bermaterial kayu jati itu terbuka, sosok laki-laki penuh senyum masuk.
Syifa menyeka air matanya, meletakkan kembali kalender yang biasanya berada di nakas sebelah suaminya tidur.
"Wa'alaikumsalam, Mas sudah pulang." ucapnya bangun dan menghampiri Hafiz
"Istriku ini kenapa? Hm ...." peluk Hafiz, mendaratkan satu ciuman dipucuk kepala Syifa
"Syifa nggak kenapa-kenapa kok, Mas. Mas sudah makan?"
__ADS_1
"Belum lah! Kan ada yang pengen diajak makan bakso siang ini, jadi Mas nahan laper deh dari tadi."
"Ya Allah ... Syifa lupa, Mas. Ya udah yok, kita berangkat sekarang!" Syifa menarik tangan suaminya dan berjalan di depan.
"Sayang!" Hafiz menahan langkahnya, namun Syifa tidak bergeming dan tetap menarik suaminya tanpa melihat kebelakang
"Sayang ...." panggil Hafiz lagi tapi dengan nada yang lebih lirih, tapi kali ini balik menahan tangan Syifa
Syifa melihatnya, dari tatapan itu Hafiz sudah mengerti, "Jilbabnya mana, Sayang?" ucapnya lembut. Syifa memegang kepalanya yang tidak tertutup hijab lalu menyeringai.
Sepanjang perjalanan Syifa banyak diam, hanya sesekali menjawab pertanyaan dari Hafiz saja. Hafiz terus memperhatikan istrinya itu.
"Fa ... Kalau ada masalah cerita, jangan disimpan sendiri. Walaupun nanti Mas nggak bisa melakukan apapun setidaknya pasti ada sedikit rasa lega.
Kalau Mas ada buat salah atau ada ngomong yang nyinggung perasaan Syifa, Mas minta maaf ya." ucap Hafiz sambil menggenggam erat tangan Syifa
Hafiz panik dan menepikan mobilnya, laki-laki itu memeluk Syifa dan tidak berhenti bertanya, wajahnya panik dan tampak sangat tidak nyaman dengan keadaan itu.
"Sayang! Maafin Mas." Hafiz terus mengatakan itu berulang-ulang.
"Syifa yang seharusnya minta maaf, Mas. Syifa masih belum bisa memberikan keturunan untuk mas. Syifa ini benar-benar nggak bisa apa-apa." ucap Syifa dalam tangis
Hafis memegang kedua pipi istrinya, menyeka airmata yang tidak berhenti jatuh itu.
"Dengan bersedianya Syifa menikah dengan Mas, dengan mahar semurah-murahnya Mahar dan tinggal di rumah warisan dari keluarga mas itu sudah membuat mas sangat-sangat bahagia. Syifa menerima uang nafkah yang jumlahnya tidak lebih banyak dari uang jajan yang biasanya Papa Adzka berikan, membuat mas sangat-sangat bersyukur dan bahagia Sayang!
__ADS_1
Jangan pernah berpikir hal yang sama sekali nggak pernah Mas pikirkan, Bahkan jika Allah tidak memberikan kita kepercayaan itu pun, Mas tetap bersyukur dan bahagia punya Syifa." Tatap Hafiz dengan wajah yang serius
"Tapi, Mas ...."
"Jangan pernah bahas ini lagi. Please ...." Hafiz memeluk erat Syifa kembali, tanpa sepengetahuan Syifa laki-laki itu pun menyeka airmatanya yang juga tumpah
\=\=\=\=
Hafiz Pov
Perempuan yang biasa bekerja pasti akan merasakan beban berat dan adaptasi yang luar biasa penuh perjuangan jika kehidupannya berubah drastis seperti yang dirasakan istriku saat ini.
Lebih lagi profesinya yang dulu, banyak yang tidak percaya kalau Syifa adalah seorang dokter bahkan hampir menjadi spesialis kandungan jika ia melanjutkan pendidikannya.
Aku sering melihatnya menatap kalender yang ada disamping tempat tidur kami. Mungkin jika hamil, suasana hatinya akan lebih baik karena ada janin yang bisa ia ajak berdialog walau dalam hati.
Semenjak kepulangan Eyang satu bulan yang lalu, sikapnya yang periang semakin berubah mungkin karena merasa sangat kesepian.
Mungkin ini memang jalan yang terbaik, aku sudah memikirkannya. Aku akan membujuknya untuk melanjutkan pendidikan spesialisnya setelah resepsi pernikahan kami nanti.
.
.
.
__ADS_1
.
🥰🥰🥰🥰