The Secound Choice

The Secound Choice
Empat puluh Lima


__ADS_3

Langkah kaki semakin menjauh meninggalkan tempat dikuburnya jasad hamba-hamba Allah yang meninggal saat menjadi tamu di rumah-Nya.


Ada sedikit sesal dalam hati anak muda tersebut. Sedikitnya waktu yang ia habiskan bersama wanita yang ia sebut dengan sebutan 'Umma' membuatnya ingin mengabulkan setiap harapan baik yang pernah beliau sampaikan secara langsung, atau hanya buah bibir belaka.


"Dulu Umma pernah bilang, seandainya nanti Juna punya anak perempuan, lucu kayaknya kita bisa besanan!" ucap Abi Dzaki mengenang kalimat-kalimat yang pernah Mila sampaikan saat menceritakan sosok teman sekolahnya yang baru saja pulang mengunjunginya sewaktu berada di rumah sakit.


Hanya kata-kata itu saja. Abi Dzaki sebagai penyambung kata Umma Mila hanya mengatakan itu sekali saja. Mungkin, disaat yang tepat. Disaat Hafiz sudah masuk usia remaja.


Mencari tau siapa sosok tante Juna yang selalu ada dalam diary sang bunda, sampai akhirnya menemukan sosok gadis periang bernama Syifa dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh seluruh anggota yang bernaung dibawah payung organisasi berlambang ular dan tongkat.


Sifat periang yang diwariskan bak foto copy membuat laki-laki itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mewujudkan impian Umma-nya.


Namun semuanya bukan hal yang mudah, bahkan sudah pasti terhalang karena Syifa sudah mempunyai pilihan hidup yang mungkin akan berakhir dipelaminan melihat awetnya hubungan diantara Syifa dan Fauzi.


"Kita sebaya, Bang. Anak saya sudah SMP, abang masih single. Mau cari yang seperti apa? Biar saya bantu carikan!" ucap salah seorang jamaah umroh saat Hafiz sarapan pagi waktu itu.


Dari banyaknya hal yang dipertimbangkan, akhirnya Hafiz mengambil telpon genggamnya dan menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum, Ustadzh!"


\=\=\=\=


Dua bulan sudah, Syifa menjadi wanita rumahan. Hoby berkebun mama Juna pun tertular kepadanya. Kini mama Juna tidak sendiri merawat aglonema dan kaktus-kaktusnya, ada Syifa yang menemaninya.

__ADS_1


"Ternyata di rumah saja itu nggak semengerikan yang Syifa bayangkan ya, Ma." ucap Syifa menyeka sedikit keringat dipelipisnya


"Hal semengerikan apa yang Syifa pikirkan?" mama Juna balik bertanya


"Nggak punya penghasilan sendiri, semuanya serba diatur, berasa dalam sangkar!"


"Hm! Seharusnya Syifa bertanya dulu kepada narasumbernya langsung. Jangan membuat kesimpulan sendiri!


Sebenarnya, untuk perempuan yang biasa bekerja di luar, untuk perempuan yang biasanya bebas berpendapat, menjadi seseorang yang seperti mama ini memang agak susah adaptasinya.


Dulu mama juga gitu! Rasanya nggak punya uang walaupun sebenarnya papamu sudah kasi, tapi rasa nggak enak saja karena nggak cari sendiri. Kemana-mana harus izin dulu, nasib baik kalau di izinin kalau nggak kitanya jadi dongkol sendiri!


Tapi dengan satu cara, semuanya bisa ditangani walau dengan proses panjang.


"Banyak perempuan diluar sana yang bekerja untuk membantu suaminya yang pendapatannya kurang, kalau kita tanya ... Sebenarnya mereka juga ingin seperti kita ini, tapi nasib harus seperti itu.


Ada suami yang membiarkan istrinya pergi kemanapun tanpa cemas, atau memberikan kebebasan seluruhnya tanpa memikirkan apa yang dilakukan istrinya di luarsana. Terkesan nggak perduli!


Sebaliknya, perlakuan papamu ke mama ... Membuat mama merasa paling disayangi.


Nah, setelah semuanya bisa diterima dengan Syukur semua yang kita lakukan menjadi ikhlas. Dan hasilnya adalah ...." mama Juna sengaja menggantung kalimatnya agar Syifa menyambungnya.


"Bahagia!!" jawab Syifa. Mama Juna mengacungkan dua jempolnya

__ADS_1


"Berkarier boleh, Nak. Asal semuanya dilakukan atas izin suami. Kalau mama sih sewaktu kamu kerja dulu, mama berharapnya kalau Syifa sudah menikah nanti Syifa tinggalkan semuanya dan fokus dengan keluarga."


"Sayang dong, Ma. Kuliah itu nggak murah. Ngejar gelar itu juga nggak gampang loh!"


"Mama tau! Mama selalu kagum pada sosok ibu Ainun yang rela meninggalkan gelarnya sebagai dokter spesialis anak untuk suaminya dan keluarga kecilnya."


Dering ponsel mama Juna menghentikan pembicaraan mereka yang serius tapi santai.


"Assalamu'alaikum, Ma!" mama Juna membenarkan posisi kamera depan handphonenya. Panggilan video itu menunjukkan wanita sepuh disana


"Nenek!!!" Syifa berteriak melihat wanita yang sudah sangat lama tidak ia temui itu


"Loh ... Syifa pulang! Cucu nenek pulang!!" ucap wanita sepuh itu antusias.


.


.


.


.


siapa tau ada yang pengen tau cerita Mila dan Dzaki, Mak bapaknya Hafiz. Ayo mampir di "Keteguhan hati" 🥰

__ADS_1


Oh, ya. Saya baru dari "keteguhan hati" ternyata disana penulisan nama 'Hafiz' seperti itu. Jadi untuk kedepan, saya akan ikut yang lama saja 'Hafiz' bukan 'Hafidzh' agak ribet ya kan 😁😁


__ADS_2