The Secound Choice

The Secound Choice
Dua belas


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan disini?" Akmal mendorong seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangan tempat kakaknya terbaring.


"Aku hanya ingin meminta maaf." jawab laki-laki itu.


"Untuk apa? Apa dengan kau meminta maaf semua ini akan berubah, hah?! Kenapa kau bisa ada disini!" Akmal heran, kenapa orang yang berstatus tahanan bisa keluar dan berada dengannya saat ini.


"Papa yang membawanya ke sini. Dan Papa juga sudah membebaskannya!" papa Adzka datang tepat pada waktunya.


"Hah? apa maksudnya ini, Pa? lihat Syifa! karena dia kakak jadi seperti ini!" Akmal kecewa dengan tindakan yang di lakukan papanya.


"Tenangkan dirimu! ini semua sudah takdir! Tidak ada gunanya mendendam. Adam sudah menjelaskan kalau dia sama sekali tidak menyadari kalau kakakmu ada di jalan itu. Dia sedang mabuk!"


"Kalau sudah tau mabuk kenapa menyetir!!"


"Kalau bukan kakak mungkin orang lain juga akan mengalaminya!" Suara Akmal terdengar menggelegar.


"Kau tenang lah dulu! Jangan emosi!"


"Kakak mu sedang mengalami masa sulit, kita hanya bisa berdoa, dari awal papa bertemu dengan Adam dia benar-benar menyesal dan meminta maaf. Dia bersedia merawat dan mengganti semua kerugian."


"Apa Papa sudah tidak punya uang untuk membiayai pengobatan kakak! Akmal masih bisa, Pa!"


"Bukan itu! Kita tidak bisa menghakimi seseorang seperti ini. Dia benar-benar menyesali perbuatannya. Dan apa kau tau, dia bernasib sama seperti kakakmu. Dia seperti itu karena patah hati! tunangannya meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.


Kata dokter, Syifa mengalami gangguan psikosomatis. Ini bahkan sama bahayanya dengan sakit seperti kangker sekalipun. Papa berfikir ini adalah ikhtiar kita, memaafkan orang lain dan menunjukkannya jalan untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan membantu mengurus Syifa, dengan begitu dia akan sibuk dan tidak sempat memikirkan masalah yang membuatnya seperti sekarang. Mungkin ini bisa dikatakan wasilah kita untuk kakakmu. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kakakmu!" papa Adzka berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


Emosi Akmal mulai reda begitu melihat harapan yang ada disela-sela mata yang terbingkai kaca minus tersebut.


Sementara Adam menatap mereka dengan menerka-nerka apa yang mereka bicarakan. Karena laki-laki itu tidak mengerti sama sekali bahasa Indonesia.


\=\=\=\=


"Kau bisa pulang sekarang! Aku akan menjaganya sampai Anastasya dan Tante kemari!" Laki-laki yang baru saja melepaskan jasnya berbicara dengan seseorang yang dari tadi diam memandangi Syifa yang masih saja tertidur.

__ADS_1


Laki-laki itu bangkit dan pergi keluar meninggalkan ruangan tersebut tanpa berbicara sepatah katapun.


Hafidzh mengambil mushab berwarna hitam dalam tasnya. Dan duduk disamping brangkar, suara merdunya pun terdengar memenuhi seluruh isi kamar melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an.


***


"Jangan lupa obatmu!"


"Iya, Mas. Sudah dalam tas kok. Nanti makannya di sana saja."


"Diamlah disini bersama Natasya, besok pagi saja ke rumah sakitnya. Biar Mas dan Akmal yang kesana." perintah papa Adzka, kesehatan istrinya juga harus diperhatikan meskipun mereka sibuk mengurus Syifa. Mama Juna mewarisi penyakit dari papanya.


"Apa kamu bisa tetap menemani tante disini, Nak?" tanya papa Adzka begitu melihat Natasya keluar dari kamar mandi


"Oh ... baiklah, Paman. Bagaimanapun tante juga harus memikirkan kesehatannya." Natasya tersenyum, gadis itu mengerti kondisi ibu dari sahabatnya tersebut.


Papa Adzka dan Akmal berangkat meninggalkan rumah tempat tinggal Hafidz, rumah yang tidak terlalu besar, pantaslah untuk orang yang tinggal sendiri. Hafidzh menawarkan mereka untuk beristirahat di rumahnya, mengingat kos-kosan Syifa sangat kecil untuk di tempati mereka berempat.


"Hati-hati mengemudinya! sampaikan salam ku pada Syifa ya!" ucap Natasya kepada Akmal, laki-laki itu tersenyum manis sekali.


Mama Juna dan Natasya masuk ke dalam rumah. Gadis itu lalu mengambil segelas air hangat dan memberikannya kepada mama Juna yang duduk di kursi bermaterial kayu jati.


"Obat tante dimana? Biar saya ambilkan!" ucap Natasya.


"Terimakasih, Nak. Kau benar-benar anak yang baik." mama Juna mengelus lembut bahu kanan Natasya. Sentuhan dari seorang ibu yang sangat gadis itu rindukan.


"Kenapa kau sedih, Nak?"


"Sya teringat mama."


"Apa kau merindukannya, Nak? Maaf kan kami ya. Kalau Syifa tidak seperti ini mungkin kau sudah berada di kampung halamanmu sekarang." mama Juna sedih juga


"Tidak apa-apa, Tante. Sebelumnya Syifa memang memberatkan ku untuk pergi, sepertinya dia memang tidak mengizinkan aku pulang."

__ADS_1


"Apa kau sudah menelpon mama-mu, Nak?"


"Mama sudah bersama Tuhan, Tante. Aku tidak perlu lagi mengkhawatirkannya."


"Ya Allah, Maaf! Tante tidak tau ...." Mama Juna mendekap gadis di hadapannya.


"Panggil aku Mama! mulai hari ini aku juga mamamu!" ucap Juna


"Terimakasih, Mama ...." Natasya menumpahkan kesedihannya.


\=\=\=\=


"Zi!! jangan pergi. Aku tidak bisa mengejarmu. Kaki ku sakit, Zi!"


"Zi ... bisakah kau memperlambat langkahmu? Langkahmu terlalu besar!"


"Zii!! sudah lah! Aku akan diam saja disini!" gadis itu merajuk. Laki-laki yang berjarak lima meter darinya menatapnya dengan tertawa.


"Jangan manja! ayolah cepat, kita hampir sampai!" ucap laki-laki itu masih pada posisinya


"Tapi kau meninggalkan aku!"


"Aku tidak meninggalkan mu! aku harus segera sampai kesana, aku punya kewajiban disana!"


"Aku juga tidak akan meninggalkan mu! cepatlah, Fa. Ayo bangun! semangat!" Laki-laki itu mengepalkan tangannya, menyemangati perempuan berambut sebahu yang masih saja duduk menunggu bantuan laki-laki tersebut.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2