
Hari masih gelap, disaat yang lain terlelap dalam mimpi dan nyenyaknya tidur sosok laki-laki yang wajahnya tampak lelah berlari menuju Garbarata.
Jas kerjanya masih melekat membalut tubuhnya yang tidak kurus.
"Untung tidak ketinggalan pesawat, Dok!" sapa seseorang berseragam biru lengkap dengan topinya. Salah satu petugas yang bekerja di bandara udara itu sudah sangat mengenal laki-laki yang ia sapa dengan sebutan dok tersebut.
Tragedi kemanusiaan yang terjadi dan berakhir dirumah sakit tempatnya bekerja membuat Hafiz harus bekerja ekstra membantu menangangi para korban.
Jadwal penerbangannya seharusnya sore itu, tapi kadarullah harus berubah menjadi penerbangan pagi ke esokan harinya.
"Ini sudah dipesawat, Abi! Hafiz langsung ke rumah Ustadz saja nanti. Kalau Abi sampai duluan tolong ucapkan permohonan maaf Hafiz." ucapnya sambil meletakkan tas ransel yang ia bawa.
"Bismillahirrahmanirrahim!" bibirnya refleks mengucap lafadz tersebut penuh takzhim begitu tubuh lelahnya duduk di kursi pesawat.
Hafiz mematikan telpon genggamnya, menyimpan benda pipih itu kedalam tas kecil. Kotak beludru berwarna merah menyembul dari dalam membuatnya sedikit menyunggingkan senyum.
"Semoga Allah memberikan keberhasilan ikhtiar ku kali ini." batinnya berucap.
\=\=\=\=\=
Sudah beberapa hari keluarga besar mama Juna berada di kota yang paling dirindukan ummat Muslim seluruh dunia.
__ADS_1
Bahkan, mereka semua sudah selesai melaksanakan ibadah Umrah dan sekarang mereka semua akan segera bertolak ke Madinah.
Mini bus yang membawa mama Juna, Papa Adzka, Nek Lia beserta suaminya juga Syifa sudah meninggalkan hotel tempat mereka menginap.
Papa Adzka duduk bersebelahan dengan Syifa,
"Perasaan Papa hari ini aneh. Papa mau dekat terus seperti ini. Papa terus ke ingat kamu waktu masih kecil, Fa." Papa Adzka memegang kedua tangan Syifa, menatap anak gadisnya itu penuh kasih sayang
"Kok aneh sih, Pa?" tanya Syifa tersenyum, gadis itu kini memeluk papanya.
Entahlah, sebenarnya hatinya juga bergetar saat sang Papa mengatakan keanehan itu.
"Syifa juga merasakan hal itu, Pa. Rasanya Syifa mau terus dekat Papa." ucapnya dalam hati.
"Syifa serahkan semuanya ke Papa. Kalau papa Oke, Syifa Oke." balas Syifa mantab. Perempuan itu benar-benar memasrahkan jodoh kepada Allah, dan menyerahkan semua urusan tersebut kepada orangtuanya.
"Nggak mungkin Paman dan Bibi mencarikan aku laki-laki yang nggak baik kan!" pikirnya begitu mengetahui kabar ada calon terbaik dari Bibi dan Pamannya.
Bagaikan menemukan titik terang dari kebuntuannya berpikir karena desakan Akmal yang akan menikah bulan depan dengan gadis yang katanya akan membuatnya menyesal jika tidak sesegera mungkin menikahi gadis itu.
Lamanya perjalanan membuat penumpang pulas, tidak terkecuali Syifa. Hanya papa Adzka yang bertahan, laki-laki itu berpindah duduk dekat dengan sopir. Melontarkan pertanyaan demi pertanyaan untuk sopit itu agar awas dan sama-sama tidak mengantuk.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian mini bus mereka pun sampai ke halaman rumah yang tidak terlalu luas. Pemilik rumah tersebut sudah berdiri didepan pintu dengan seorang wanita sepuh bertubuh mungil. Dari kejauhan wanita itu sudah tampak seperti menghapus airmatanya yang terus jatuh.
Rindu!
Mama Juna orang yang pertama keluar dari mini bus tersebut. Tubuhnya yang tidak muda lagi berlari menuju wanita mungil yang berpakaian serba hitam tersebut seperti anak kecil.
"Bunda!!" ucapnya berhambur memeluk bunda Cindy, keduanya saling berpelukan dan mencium pipi satu sama lain lalu berpelukan kembali
"Ya Allah, akhirnya Bunda dijenguk juga." ucap wanita itu haru
Mama Juna dan Bunda Cindy bukan seperti anak dan ibu tiri, mereka bahkan sudah lebih seperti ibu dan anak kandung. Keadaanlah yang memaksa mereka berpisah.
Setelah papa Rudi meninggal, Bunda Cindy memutuskan untuk ikut bibi Juni yang menikah dengan warga negara Asing dan akhirnya tinggal menetap disana.
Semuanya kini saling bersalaman dan saling berpelukan melepas kerinduan.
.
.
.
__ADS_1
.
.