
"Kami pulang ya, Ma. Insya allah ketemu lagi dua bulan kedepan. Mama jaga kesehatannya ya. Yuyun nggak sabar mau kumpul sama bunda juga." peluk mama Juna pada wanita yang melahirkannya. Mama Lia membalas pelukan itu keduanya seolah tidak ingin terpisah.
"Iya, Insya Allah. Semoga kita semua sehat-sehat dan bisa kumpul dua bulan lagi. Mama juga kangen sekali dengan Cindy." ucap wanita sepuh itu.
Kink gantian papa Adzka yang berpamitan, tidak banyak kata yang diucapkan laki-laki tersebut. Hanya pamit meminta diri dan izin agar perjalanan mereka selamat tidak ada kendala. Seperti biasa mertuanya itu akan berkata 'Titip anakku, bahagiakan dia!' seolah tidak tergerus usia dari awal pernikahan kata-kata itu seolah kalimat wajib yang terucap dari bibir wanita yang dulunya berprofesi sebagai seorang pengacara tersebut.
Kini giliran Syifa, gadis itu mencium punggung tangan sang nenek terlebih dahulu lalu menyambungnya dengan memberikan pelukan.
"Nenek berdoa, semoga nanti saat kita kumpul ada kabar baik juga yang nenek terima." ucap nek Lia menepuk punggung cucunya
"Aamiin, doakan ya Nek." Syifa tersenyum manis sekali.
Dan mereka bertiga pun masuk kedalam mobil, papa Adzka yang mengemudi. Tidak sopan rasanya membiarkan mertua laki-lakinya yang menyetir sementara dia duduk tenang disebelahnya.
Seharusnya papa Adzka pulang ke Sumatera sendiri tadi siang, tapi karena rengekan istrinya yang tiba-tiba berubah pikiran akhirnya penerbangan pun terpaksa dialihkan menjadi sore dan mama Juna juga Syifa ikut pulang.
Flashback On
"Kita berangkat sekarang, Fa?"
"Oke. Sebentar ya. Ganti dulu!" Syifa meninggalkan Giandra dan papa Adzka berdua saja di teras rumah.
"Mau kemana, Nak?" tanya mama Juna saat Syifa melangkah masuk kedalam rumah, sementara sang mama hendak keluar menemui suaminya dan juga Giandra
"Mau ganti, Ma."
"Iya, habis itu mau kemana?"
"Oo! Mau ke ... Ih, kemana tadi ya, Syifa lupa, Ma" ucapnya tersenyum menunjukkan barisan gigi putihnya
Mama Juna melanjutkan langkahnya membawa secangkir kopi dengan biskuit untuk Giandra.
__ADS_1
"Pagi-pagi sekali mau pergi kemana, Ndra?" ucap Juna yang masih sedikit berjarak dari kedua laki-laki dihadapannya
"Eh, Tante! Iya ... Lagi perlu bantuan Syifa ini." jawab Giandra berdiri mencium punggung tangan mama Juna
"Bantuan? Memangnya anak tante bisa bantu kamu apa?! Ini minum dulu kopinya." mama Juna terlihat kepo.
"Terimakasih, Tante." Giandra langsung menyesap kopi yang masih mengepulkan sedikit asap.
Laki-laki itu tersenyum walau sedang bingung menyusun kata untuk menjawab pertanyaan mama Juna yang serba ingin tahu.
"Yok!" Syifa menepuk bahu Giandra, wanita itu sudah siap dengan tas ransel hitam yang sudah ia gendong.
"Sudah?!" Giandra menyerupuk sekali lagi kopi yang masih tersisa banyak
"Iya, lebih cepat lebih baik!" jawab Syifa membuat mama Juna dan papa Adzka saling bertatapan.
Ada secercah harapan terbersih dibenak mama Juna ditandai dengan senyuman yang ia kulum. Sementara papa Adzka minim ekspresi.
Tiga jam kemudian, Mobil Giandra sudah kembali memasuki pekarangan rumah mama Lia. Papa Adzka dan mertua laki-lakinya sedang berbincang diteras depan. Lagi-lagi Giandra dan papa Adzka bertemu kembali. Namun kali ini, Giandra tidak lagi mampir hanya mengantar Syifa saja dan berpamitan dengan papa Adzka dan kakek!
"Safe flight, Om." ucapnya
"Aamiin" jawab papa Adzka tersenyum
"Bye, Jayen! Sukses ya. Insya Allah kalau afa waktu nanti kami datang deh!" ucap Syifa melambaikan tangannya
Setelah Giandra pergi, Syifa ikut duduk bersama papanya dan juga kakeknya.
"Sayang papa pulang nanti, kalau nggak kan bisa lihat pertunangannya Jayen!" ucap Syifa mengambil pisang goreng yang ada di depannya.
"Jayen siapa?" kakek tampak heran
__ADS_1
"Haha ... Itu kek, Giandra!" terang Syifa
"Giandra mau tunangan? Kapan? Serius kamu?" papa Adzka membenarkan duduknya menatap anaknya serius
"Iya, Pa. Hari Jum'at!" jawab Syifa santai
"Mau ada apa hari Jum'at?" Nek Lia datang
"Itu, anaknya Marchel mau tunangan hari Jumat nanti." terang sang kakek
"Yah ... Nenek kira kalian ada apa-apa, Fa."
"Nggak lah, Nek. Giandra itu sudah punya pacar eh ... Bukan bukan! Dia itu sudah lama suka sama sekretarisnya sendiri, tapi nggak mau pacaran. Trus beberapa kali jalan bareng sama Syifa tuh sekertaris kelihatan cemburu. Hm ... Makin mantaplah tu si Jayen mau merubah statusnya. Jadi, tadi Syifa bantuin Jayen jelaskan semuanya ke Rara!" jelas Syifa panjang lebar
"Namanya Rara?"
"Iya, Nek. Cantik deh mba nya. Cocok lah." senyum Syifa, gadis itu ngulet dilanjut menguap
"Gerah nya! Syifa mandi dulu deh."
"Ya sudah sana mandi! kamu sudah makan, Fa?" tanya nek Lia lagi
"Sudah, Nek."
Papa Adzka menyungging senyum, tali yang mengikat badannya serasa terlepas memberikan rasa lapang pada dirinya.
Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berjalan masuk, tidak sabar memberitakan kabar ini kepada istri tercinta.
Flashback Off
\=\=\=\=\=
__ADS_1