
Adzan Maghrib telah selesai dikumandangkan, seluruh laki-laki yang berada dirumah tersebut sudah meninggalkan rumah berwarna kream itu sejak lima belas manit yang lalu, menyisakan para wanita yang menunaikan ibadah mereka dirumah.
"Kamu nggak shalat, Dek?" Syifa berbicara dengan adik sepupunya yang masih sibuk membantunya menyiapkan makanan pembuka untuk tamu yang akan datang malam ini
"Lagi mamnu', Kak. Kakak pergi lah shalat, dandan yang cantik juga. Siapa tau nanti teman Abi mau melihat calon menantunya terlebih dahulu." pandang wanita bercadar itu
"Hm ... Nggak dandan kakak sudah cantik kok!" jawab Syifa menyeringai.
"Ia ... Iya, Kak. Percaya deh ...." jawab gadis itu tertawa terlihat dari kedua matanya yang menyipit.
Syifa melihat jam dipergelangan tangannya. Waktu seolah terlalu cepat berputar, deg-degan hatinya benar-benar tidak karuan. Masih untung Syifa bisa menyembunyikan kegugupan itu.
Syifa masuk kedalam kamar dan membersihkan dirinya lalu menghampar sajadah menghadap Rabbi.
"Ya Allah, berikan ketenangan batin kepada Hamba. Hanya engkau yang mengerti betapa bergemuruhnya perasaan hamba hari ini. Ya Allah ... Jika Engkau mengizinkan hamba menikah melalui perjodohan ini, janganlah Engkau berikan keragu-raguan pada Hamba ya Allah. Mantabkan langkah ini dan jadikanlah Indah keputusan Mu." ucapnya penuh haru, rasanya level kepasrahannya benar-benar sudah sampai kebatas akhir, bukan putus asa melainkan penuh penyerahan diri dan penuh harap kepada sang pencipta.
Mungkin setelah hari ini, statusnya akan berubah menjadi calon istri dari laki-laki yang ia tahu sama-sama berasal dari Sumatera.
Setelah selesai bermunajat, Syifa memakai bedak tipis diwajahnya. Di depan cermin ia memandangi wajahnya.
"Pakai bedak saja lah, nanti kalau terlalu cantik dia minder lagi hahaha." ucapnya sendirian
Pintu kamar itu diketuk, sang sepupu masuk kedalam kamarnya.
"Kak, numpang mandi ya!"
"Nggak boleh! Sana cari kamar sendiri!!" jawab Syifa terkekeh, gadis itu memang suka menggoda sepupunya yang terlampau pendiam. Persis ibunya, mereka berdua seperti Mama Juna dan Bibi Juni sewaktu kecil.
__ADS_1
"Kamu itu sopan sekali sih, Dek! Ini kan kamar kamu, kenapa pake izin segala ke kakak! Ih ... Gemesin banget sih. Nanti pasti jadi rebutan para ikhwan nih." Syifa memeluk adik sepupunya.
"Ah ... Kakak! Kejauhan ceritanya, masih mau nuntaskan hafalan dulu lah, Kak." jawab gadis mungil itu
Tiba-tiba Syifa mengingat laki-laki yang ia rasa pantas berdamping dengan adik sepupunya tersebut. Laki-laki shaleh penghapal Qur'an nun jauh di Indonesia.
"Yang begini nih ... Yang sekufu sama mu, Mas." ucapnya membatin.
Suara dari arah mengalihkan fokus mereka berdua, Bibi Juni masuk kedalam kamar tersebut.
"Sudah selesai, Kak? Ayo kita keluar. Apa nggak mau lihat calon suaminya? Loh ... Kamu belum mandi juga, Nak?" ucap perempuan paruhbaya tersebut
"Iya, Mi. Ini baru mau mandi." jawab putrinya menggamit handuk
"Ayo, kak Syifa." ajak bi Juni lagi, Namun Syifa masih betah pada posisinya semula
"Namanya Ahmad. Anaknya sopan, ganteng pula. Nggak asal deh Paman mu nyarinya."
"Oo ... Ahmad." Syifa manggut-manggut
"Ayo, Nak. Kita harus siap-siap kalau nanti dari pihak sana mau lihat kamu!"
"Eh, Iya ... Bi. Ayo." Syifa menggandeng tangan bibinya
\=\=\=\=\=
Dalam ruangan seukuran ruang tamu standart yang terpisah dari ruang keluarga, terdengar agak riuh. Para lelaki sepertinya sedang berbincang sambil sesekali bercanda.
__ADS_1
Ruangan khas Timur Tengah itu memang di desain khusus untuk memudahkan para wanita agar tidak terlalu repot menjaga aurat karena tempat yang terpisah, jadi lebih terjaga privasinya.
"Sudah datang ya, Kak?" tanya Bi Juni kepada kakaknya
"Sepertinya sudah. Itu ada mobil satu lagi!" mama Juna menyingkap tirai jendela menampakkan satu buah mobil yang bukan milik adik iparnya terparkir disana.
"Bun, Abinya anak-anak sudah ada bilang makanannya dibawa keluar belum?"
"Belum, Nak." jawab bunda Cindy
"Sini, Fa. Duduk sama Nenda! Kamu gugup ya?" Bunda Cindy menarik lengan Syifa yang sedari tadi hanya berdiri mematung
"Insya Allah, Ahmad orangnya baik ... Sopan, satu profesi lagi sama kamu. Jadi pasti nggak susah untuk kalian saling adaptasi nanti."
"Iya, Nenda. Aamiin. Nenda ... Hm ...."
"Kenapa, Nak? Kamu mau tanya apa?"
"Hm ... Syifa nggak jelek-jelek amat kan buat dia." ucap Syifa menggigir bibir
"Ya Allah, kamu itu enggak jelek, Sayang. Kamu itu cantik. Ahmad pasti nggak bakalan nolak kalau lihat kamu. Percaya sama Nenda!"
.
.
.
__ADS_1
.