
Masjid terbesar di Eropa itu kini menjadi salah satu tempat yang wajib di kunjungi oleh Syifa. Bagaikan menemukan oase di padang tandus, Gadis itu merasa bahwa ini adalah jalan yang ditunjukkan oleh Allah untuknya memperbaiki dan juga menenangkan diri dari kegalauannya yang tak henti.
Dua kali seminggu atau hanya satu kali, begitu berarti baginya. Lambat laun pengetahuannya tentang agama yang ia anut dari lahir itu semakin bertambah, dan lagi berkumpul dengan orang shaleh adalah salah satu obat untuk mengistiqomahkan hatinya yang mulai terobati.
Komunitas Islam Turki, walau memang sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berasal atau keturunan dari sana, namun tidak membuat Syifa minder dengan keadaan hidungnya yang bahkan seperempat pun tidak ada di banding mereka.
"Anna, aku pulang duluan ya? temanku sudah menunggu di depan!" ucap Syifa berpamitan dengan perempuan yang dulu menyapanya pertama kali di masjid Raya Koln tersebut.
"Oh, Apa Natasha sudah datang?" tanya Anna
"Ya, sudah dari setengah jam yang lalu."
"Kenapa tidak kau ajak saja masuk kesini!"
"Dia masih belum mau. Aku duluan ya ...." Syifa menjabat tangan Anna, jabatan tangan khas yang hanya diketahui oleh orang-orang satu komunitas perempuan berjilbab lebar seluruh dunia.
"Tunggu sebentar, Fa. Bagaimana tentang khitbah itu? Aku cukup kewalahan bahkan sekarang sudah sampai ke fase malu kalau Ustadz Hanan menanyakan soal itu!
Mm ... Fa! Kau masih suka dengan laki-laki kan?!" wajah Anna tampak tegang, lalu sedetik kemudian berubah menahan tawa.
"Kau ini! aku masih normal!" Syifa mencubit perut Anna, mereka memang selalu saling mengejek seperti itu. Dikampus juga mereka sering bertemu dan jalan bareng bersama dengan Natasha juga tentunya.
\=\=\=\=
"Maaf ya, Sya. Lama ...." ucap Syifa begitu sudah dekat dengan Natasha.
"Tidak apa-apa. Tadi aku ditemani temanku yang waktu itu ku ceritakan padamu!"
"Yang mana?"
"Yang itu! Orang Indonesia juga ... aku mau mengenalkan kalian tapi dia buru-buru pergi tadi!"
"Oh, ada urusan mungkin!" Syifa celingukan melihat ke kanan dan kiri, sebenarnya dia juga penasaran bagaimana rupa teman dari Natasya yang selalu ia ceritakan itu.
"Ayo, Fa. Aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi! Ini hari terakhir!" Natasha menggamit tangan Syifa yang masih dalam mode penasaran.
"Iya! Iya! Ya Allah ... masih banyak stoknya, Sya. Jangan takut kehabisan. Kalau habis paling bulan depan ada diskon lagi!"
"Apa kau lupa kalau bulan depan aku sudah akan pulang ke Rusia?"
"Oh iya! Hm ... tunggulah sampai aku juga selesai pendidikan disini! Apa kau tega meninggalkan aku sendiri, kakak!" Syifa merengek
"Sejak kapan aku jadi kakak mu!" jawab Natasya ketus tapi tersenyum
"Sejak hari ini! ya ... ya, mau ya." rayu Syifa, sifay manjanya tampak itu pertanda Syifa memang benar-benar nyaman bersama Natasha, dia bukan hanya sekedar sahabat tapi juga sudah seperti saudaranya
"Jangan beratkan aku, Fa. Kau tau aku ini orang yang paling tidak tegaan kan!
__ADS_1
Tapi tenang saja, aku akan mengenalkanmu dengan temanku yang tinggal disini. Aku berharap kau cocok dengan dia dan semoga saja dia bisa menjadi pengganti mantanmu itu! Dan aku akan pergi dengan tenang!"
"Hush! kenapa bicaramu seperti orang yang mau mati saja!!"
"Apa?! Siapa?"
"Kau!" Syifa dan Natasha kembali berpelukan, supir taksi yang mereka tumpangi tersenyum melihat tingkah mereka dari balik kaca spion.
"Seandainya kita bisa selalu bertemu, Sha.
Terimakasih karena sudah mau menjadi temanku dalam keadaan senang maupun sedih." Syifa menjadi melankolis, mungkin tidak akan ada wanita di dunia ini yang tidak sedih jika akan berpisah dengan seseorang yang sudah mereka sayangi.
"Hm ... bagaimana tentang laki-laki yang mau meng ... meng, apa namanya?"
"Meng-Khitbah!"
"Hm ... itu, Kitbah!"
"Pake 'H', Sha. Khitbah!"
"Whatever ... gimana?" Natasha penasaran
"Aku belum melihat profilnya! Nggak mau ah ... nggak pantes! Masih banyak perempuan lain di komunitas yang aku ikuti untuk di khitbah. Mereka shalehah, menutup aurat ibadahnya luar biasa! apalah aku ... jilbab saja masih lepas pasang begini!"
"Ya nggak salah kan kalau mereka mau meng-kitbahmu. Cobalah sesekali lihat fotonya baca profilnya siapa tau kau suka begitu melihatnya, jangan sampai menyesal nantinya!"
"Au ah! ntar aja deh cerita itu!" Syifa membuang mukanya, pemandangan dari jendela mobil membuatnya tersenyum dan langsung memberikan perintah kepada sopir taksinya untuk menepi.
"Aku kesebarang dulu! aku benar-benat beruntung ada masakan Indonesia disini!" Syifa menunjuk gerai makan di seberang jalan.
"Tempeh Hof! aku suka tempe! tunggu disini! aku akan kembali!" Syifa menutup pintu taksi lalu berlari dengan semangat menyebrang.
***
"Permisi! Selamat sore!" Syifa menyapa perempuan bermata sipit pun menyambutnya dengan ramah.
"Ada tempe disini, mba?" tanya Syifa dengan menggunakan bahasa Jerman.
"Tentu saja, Mba. Kami menyediakan berbagai jenis olahan tempe disini. Mba tinggal pilih mau yang seperti apa." Perempuan bernama Cessie itu memberikan buku menu.
Syifa pun memilih beberapa, sembari menunggun Syifa menarik kursi bermaterial kayu dan mendudukinya sambil memandangi sekeliling gerai.
**
"Ini semua dari barang bekas, Mba?!" Syifa tidak percaya mendengar penjelaan Cessie
"Wah, hebat! ini justru lebih bagus dari karya originalnya!"
__ADS_1
"Hm ... Terimakasih, kadang memang bahan yang sudah di daur ulang justru lebih cantik dari pada tampilan awalnya." jawab Cessie.
"Nah! ini dia pesannya. Semoga rindunya dengan kampung halaman terobati dengan ini ya, Mba. Dan ini saya kasi bonus gado-gado buat mba."
"Oh, Terimaksih. Semoga ya, Mba." Syifa tertawa renyah, lalu berpamitan dengan perempuan tersebut.
Syifa semangat sekali membawa papperbag bertuliskan nama gerai tadi.
"Ye ... ye, makan tempe!!" ucap Syifa riang. Pemilik gerai itu tersenyum memakluminya
"Semoga pas dengan seleranya ya, Mba." ucap perempuan itu pula, ia melambaikan tangan dan Syifa pun melakukan hal yang sama.
Gadis itu terheran-heran melihat raut muka pemilik toko itu yang berubah, Syifa juga melihat Natasya memanggil-manggilnya dari seberang sana.
Ciiiiiit! Gubraaaak!!!
Suara benturan keras menyita semua orang yang ada disekitar sana,
"Syifa! Ya Tuhan! Tolooong ...." Natasha memangku kepala Syifa, darah sudah membanjir di hampir seluruh bagian kepalanya.
"Fa! Fa! bertahan, Fa. Buka matamu!!" Syifa menutup matanya menahan sakit di bagian kepalanya dan seluruh badannya. Gadis itu terpental setelah mobil berwarna silver menabraknya dengan kecepatan tinggi.
"Allah ...." ucap gadis itu begitu lirih, bersamaan dengan matanya yang benar-benar menutup dengan sempurna. Syifa kehilangan kesadarannya.
\=\=\=\=
"Syifa!!!"
"Astaghfirullahal'adzhim ...." Laki-laki itu meludah ke kiri. Perempuan di sebelahnya pun terbangun
"Mimpi buruk lagi, Mas?" tanyanya, laki-laki itu mengangguk
"Mimpi bu dokter lagi?" lanjut perempuan itu pula, laki-laki yang disebelahnya kembali mengangguk. Di pelupuk mata laki-laki itu sudah menggenang cairan bening yang siap tumpah.
"Ayo kita shalat saja. Kita doakan sama-sama, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi kepada mba Dokter." Yoli menarik tangan suaminya untuk turun dari tempat tidur. Fauzi menahan tangan istrinya.
"Saya tidak apa-apa, Mas. Ayo!" ajak Yoli kembali, senyumnya begitu tulus. Yoli sudah mengetahui semuanya. Suaminya menceritakan semua hal tentangnya dan Syifa. Diluar dugaan Yoli justru menerima dan memaklumi apa yang telag terjadi. Luar biasanya gadis itu memilih bertahan.
"Semua orang punya masa lalu. Saya juga! Masa lalu juga tidak bisa di ulang, menyesal juga tidak ada gunanya. Berandai-andai adalah sesuatu yang sia-sia, yang akan membuat kita menjadi kufur atas segala nikmat yang sudah Allah berikan."
Ucaan Yoli waktu itu begitu tertanam di hati Fauzi, laki-laki itu mulai membuka diri, setidaknya menjadi teman bukanlah awal yang buruk.
.
.
.
__ADS_1
.
Like koment dan Kritik sarannya gaes! Monggo 😁🙏