
"Syifa sudah sembuh betul, Papa. Ini lagi jalan nih." Syifa memperlambat langkahnya.
"Jalan kemana? jangan capek-capek dulu, Nak. Kamu disana sendiri loh. Natasha sudah pulang, Hafidzh juga sedang di Indonesia sekarang."
"Hafidzh? ada dia juga nggak ngaruh sama Syifa, Pa. Tembok gitu!"
"Hush! kok ngomongnya kasar gitu anaknya papa. Hafidzh banyak nolong kita loh sewaktu kamu sakit. Apalagi waktu kamu koma."
"Masak sih, Pa. Natasha juga bilang gitu ke Syifa. Tapi, kok Syifa nggak percaya ya, Pa. Hm ... kalau papa tau gimana ketusnya dia kalau ditanya, gimana dinginnya ekspresinya kalau diajaka bicara ... ah, males ah ngomongin dia!"
Bruk!!!
"Eh!"
"Sorry! Sorry!" Syifa mengumpulkan lembaran demi lembaran kertas yang terbungkus rapi dalam plastik transparan dan memberikannya kepada perempuan berhijab yang tertabrak.
"Halo! halo! Fa ... kamu kenapa, Nak?" suara papa Adzka
"Iya, Pa. Ini ... Syifa nabrak Anna, hahaha. Sudah dulu ya, Pa. Mau bantu Anna dulu."
Gadis itu menyimpan telpon genggamnya kedalam tas.
"Maaf ya, An."
"Kamu sudah bilang maaf berkali-kali, Fa. Oh iya, Kebetulan ketemu disini. Ini!" Anna memberikan salah satu kertas yang tadi berserakan.
"Undangan?! wow ... alhamdulillah, akhirnya ...." Syifa memeluk Anna,
"Duh, good news banget ini! kok nggaj pernah cerita sudah menemukan pangeran sih."
"Kamu tuh yang sibuk pake banget. Udah berapa lama coba nggak datang kajian. Eh, Iya. Ustadz nanya terus loh, kamu harus kasi kepastian, Fa. Kasian para lelaki yang menunggu kata 'yes' dari kamu."
"Oke, Aku sih yes!" gaya Syifa menirukan salah satu juri ajang pencarian bakat
"Haha ... becanda terus nih. Ini mau lanjut kemana?" tanya Anna
"Perpus! sudah ketinggalan jauh nih, kelamaan libur."
"Kan sakit ...."
"Ya itu. Karena sekarang sudah sehat di kebut dong."
"Oke lah. Jangan lupa datang ya. Sebelumnya besok wajib datang kajian. Jawab sendiri pertanyaan ustadz, aku malu jadi jubir mu setiap hari. Jumpa besok ya, Assalamu'alaikum!"
"Insya Allah, An. Wa'alaikumsalam."
Keduanya pun berjalan berlawanan arah, beberapa waktu Syifa memandang punggung Anna yang semakin menjauh. Dari gesturenya berjalan saja tampak jelas kalau perempuan berhidung mancung itu sedang sangat bahagia.
"Ya Allah ... begitu bahagiakah menuju pernikahan." lirih Syifa lalu membalikkan badannya dan kembali berjalan menuju tujuan awalnya.
Sedikit rasa sesak menyebak, namun secepatnya gadis itu berusaha menyibukkan dirinya dengan kegiatan yang beberapa hari terakhir ini selalu ia lakukan.
Baru saja gadis itu menarik kursi dan meletakkan beberapa buku yang ingin ia baca, telepon genggamnya bergetar.
"Halo, Dam."
__ADS_1
"Syifa di perpustakaan kampus."
"Hm ... sepertinya lama sih. Kenapa?"
"Duu, maaf ya. Tapi kali ini beneran nggak bisa. Eh! besok juga nggak bisa. Ada kajian di masjid udah lama juga nggak ikut kan, tadi ketemu teman dijalan terus ngingatin harus datang besok. Kalau lusa insya Allah bisa. Tapi jangan sampai nggaj makan sampai besok lusa ya, hahaha. Oke, Bye!"
Gadis itu meletakkan handphonenya diatas meja. Ada senyuman menghias wajahnya yang cantik.
"Jadi nggak enak nolak ajakannya. Padahal kan kalau aku perlu dia selalu ada. Huuuft! biar deh, bukan disengaja kok! fokus! fokus!" gadis itu bicara sendiri, setelah menghela nafas panjang, jemarinya menyentuh satu buku bersampul coklat dan membacanya.
\=\=\=\=
"Kenapa mama kepikiran Syifa terus ya, Pa."
"Ya namanya anak, masak iya nggak dipikirin."
"Papa! Mama serius ...." mama Juna menghampiri suaminya yang sedang selonjoran menonton berita malam.
"Kenapa sih? kan ada papa disini." peluk papa Adzka
"Sejak kecelakaan waktu itu mama rasanya mau bawa Syifa pulang saja. Nggak usah lagi deh jauh-jauh dari kita. Kalau mau ambil spesialis di Indonesia juga kan ada."
"Papanya spesialisnya kan ambilnya di luar, mungkin dia mau seperti papanya."
"Tapi kan, Mas. Syifa itu perempuan. Disana nggak ada siapa-siapa loh. Sodara nggak ada! Kalau nggak mama tinggal disana aja deh sama Syifa!"
"Loh ... loh! Jadi ... nasib Papa gimana?"
"Mas iiih, becanda terus!"
"Ah ... males ah! percuma cerita!" Mama Juna hendak bangkit dari duduknya tapi papa Adzka menarik tangannya.
"Ada Allah yang menjaganya. Percayakan semua kepada-Nya. Mama jangan jauh-jauh dari papa. Mama masih dalam rawatan papa. Ingat itu." Papa Adzka memeluk dan mencium istrinya
"Nggak biasanya istriku seperti ini. Mungkin karena kesehatannya sedang terganggu saja. Ya Allah ... jaga selalu keluarga hamba" Doa papa Adzka dalam hati.
Sudah lebih tenang, mama Juna mengambil ponsel suaminya. Mencari sesuatu dalam ikon yang bertuliskan register
"Mas tadi telpon Syifa nih!"
"Iya, tadi sebelum pulang."
"Kenapa nggak telpon dirumah saja sih. Kita video call yuk." Mama Juna hendak menekan icon berbentuk gagang telpon
"Nggak usah, Sayang. Syifa sedang di perpustakaan. Tadi waktu papa telpon katanya jadwalnya hari ini padat."
Mama Juna menyandarkan tubuhnya, "Syifa sehat kan, Mas?"
"Alhamdulillah, Sehat. Kata dokternya juga dia sudah nggak perlu terapi lagi. Terakhir terapi setengah bulan yang lalu."
"O ... Alhamdulillah. Apa Syifa masih tinggal dirumah Hafidzh?"
"Masih. Katanya dia mau cari-cari tempat tinggal yang lebih dekat ke kampus. Nggak enak sama Hafidzh katanya."
"Trus papa bilang apa?"
__ADS_1
"Hm ... ya nggak bilang apa-apa. Kan memang nggak enak kan kalau tinggal disana terus. Kalau tiba-tiba Hafidzh atau abinya datang kesana ... masak iya yang punya rumah jadi nginap di hotel."
"iya juga sih. Tapi nanti jangan cari tempat tinggal yang tinggi seperti kemarin ya."
"Ya bilang sendiri loh sama anaknya!"
"Hm ... ntar kalau mama telpon anaknya papa marah. Bilangnya nggak tau waktu!" mama Juna mencebik
"Ya dihitung dong waktunya, Sayang. Kan tau perbedaan waktu Indonesia - Jerman berapa jam."
"Iya ... iya."
"Tau kan, Sayang?"
"Iya, Mas. Tau."
"Berapa coba?"
"Ya segitu lah ...." kali ini mama Juna benar-benar meninggalkan suaminya sendiri
"Sayang!" panggil papa Adzka, Mama Juna menoleh
"Hm"
"I love you!"
"Ya ... sama-sama"
\=\=\=\=
"Permisi, Dok." sapa seorang laki-laki paruh baya bersama dengan seorang gadis muda
"Ya, silahkan duduk, Pak." jawab laki-laki berjas putih menyapa dengan ramah
"Mana hasilnya, Pak?" tanya dokter tersebut. Laki-laki paruh baya tadi memberikan sebuah amplop besar bersampul kertas ubi dan satu amplop kecil berwarna putih
"Saya baca sebentar ya, Pak. Semoga hasilnya sesuai dengan harapan kita."
"Wah ... alhamdulillah. Ada kemajuan nih, Pak. Mudah-mudahan sampai tindakan radiasinya selesai kangkernya sudah benar-benar hilang."
"Kamu yang semangat ya, Dik!" gadis muda yang masih tampak pucat itu membalas sapaan sang dokter dengan senyum
"Terimakasih, Dokter. Kalau begitu kami permisi." Laki-laki itu mengulurkan tangannya
"Berterimakasih-lah kepada yang memberi kehidupan, Pak. Jangan lupa doa dan harus tetap semangat." jawab Dokter spesialis kangker tersebut
.
.
.
.
.
__ADS_1