The Secound Choice

The Secound Choice
Lima puluh Delapan


__ADS_3

Cuaca siang ini benar-benar sangat panas. Sinar Matahari benar-benar terasa menyengat. Dua orang yang berada di dalam ruangan yang berukuran sedang tampak sedang mengobrol. Tapi salah seorang diantaranya terlihat lebih banyak diam, hanya menyahut perkataan yang dilemparkan oleh rekan sesama profesinya tersebut.


Hafiz mengurut sisi kanan dan kiri pelipisnya, sepertinya laki-laki itu sedang memikirkan sesuatu yang pelik hingga membuat kepalanya cenat-cenut.


Posisinya yang bersandar malas kini duduk dengan tiba-tiba seperti sedang menemukan sesuatu yang lama ia cari.


"Bang, aku pulang ya." ucapnya, membuat laki-laki diseberangnya yang sudah mulai terpejam membuka kembali kedua matanya.


"Pulang?! Enak saja!" jawabnya


"Ck! Serius ini, Bang. Aku harus pergi ke suatu tempat. Penting!" jelas Hafiz, sementara laki-laki berjas putih dihadapannya terus memandangnya heran


"Ck!! Kau ini! Ya sudah sana! Aku harap urusan penting mu ini ada hubungannya dengan masa depan keturunan mu!" ucap laki-laki tersebut. Bagaimanapun mereka berdua sudah saling akrab satu sama lain, dan satu profesi, sama-sama dokter spesialis yang sama pula.


"Terimakasih, Bang! Sayangnya aku tidak punya saudara perempuan!" ucap Hafiz tersenyum


"Untuk apa kalau kau ada saudara perempuan? Kau menyuruhku poligami!!"


"Hahaha, aku pulang duluan ya, Bang." Hafiz tertawa dan berpamitan meninggalkan seniornya tersebut sendiri diruangan mereka.


Hafiz berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju parkiran khusus yang disediakam dirumah sakit tersebut. Setelah masuk kedalam mobilnya, Hafiz langsung memasang headset ke telinganya.


"Assalamu'alaikum, Eyang!" ucapnya mengawali panggilan itu


"Eyang siap-siap ya, Hafiz sudah di jalan." ucap Hafiz setelah pembicaraan itu akan berakhir.


Mobil milik Hafiz perlahan meninggalkan pelataran rumah sakit Dr. Saeful Anwar itu dan mulai melaju kencang namun tetap berhati-hati agar selamat dan segera sampai.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Syifa tampak asik mengobrol di ruang tv, bukan dengan seseorang yang berada disekitar ruangan tv itu juga, melainkan dengan seseorang melalui sambungan video.


"Ck!! Kenapa nggak telpon aku waktu kalian di tempat nenek!" ucap laki-laki didalam layar. Dia tampak gagah dengan seragam coklat loreng dengan bendera Indonesia dibagain bahunya.


"Aku nggak mau ganggu. Nanti kau lalai! Kena tembak!" jawab Syifa se-enaknya


"Doamu itu tidak pernah bagus, Ipeh!" Akmal mulai kesal


Umur keduanya sudah dewasa, namun tingkah mereka sama seperti dua puluh tahun yang lalu, saat keduanya masih kecil.


"Sudah sana kerja! nggak usah berharap mama mau ngobrol. Mama kan lagi masak!"


"Jadi, mama masak. Kau liat tv aja gitu! Nggak bantuin Mama?! Dasar anak durhaka!"


"Heh! Aku kan lagi mengangkat telfon ini. Bagaimana aku bantu mama masak sambil ngobrol begini!" balas Syifa tak terima


"Aku bisa masak ya! Cuma karena sedang dirumah tentu saja aku tidak melewatkan cita rasa masakan mama yang selalu aku rindukan! Bumbu-bumbu buatan mama yang beda dari yang lain, tapi sangat enak. Asam asin dan pedas yang begitu pas dilidah. Beeegh ...." Akmal menelan ludah menghayalkan betapa enaknya masakan mama Juna, dia juga sangat merindukan itu pikirnya.


Syifa merasa puas mengganggu adiknya terlihat dari laki-laki itu yang memberi jeda, mereka berdua hanya saling tatap dari layar.


"Hahaha ... Telan tu ludah!" ucap Syifa membuat Akmal menggaruk kepalanya


"Ck! Nanti akan aku balas! Pulang dari sini aku mau ambil cuti, supaya bisa berlama-lama tinggal sama Mama, Papa!"


"Terserah, Loe!" jawab Syifa.

__ADS_1


Wajah Akmal berubah serius, panggilan yang tadinya hanya menyebut nama kini berubah menjadi kakak.


"Kak!"


"Hm ... Apa?" Syifa menanggapi dengan malas


"Aku benar-benar mau menikah, Kak. Kakak tau aku disini bertemu siapa?!" wajah Akmal begitu antusias ingin mengatakan sesuatu


"Ah ... Udah lah ... Udah! Bye!" Syifa mematikan panggilan tersebut. Tidak perduli Akmal memanggilnya atau pun marah kepadanya karena tidak sopan memutus panggilan begitu saja.


Tapi, Syifa paling tidak suka membicarakan hal yang paling ia takuti sejak dulu.


Ya ... Seperti sudah terdoktrin dalam hati gadis itu. Kalau adik laki-lakinya lebih dulu menikah, alamat dia akan menjadi perawan tua. Dan tentu saja Syifa tidak mau hal itu terjadi.


Syifa melempar handphonenya kesembarang arah, moodnya yang tadinya bagus berubah menjadi kacau.


"Tau ah!" Syifa menutup wajahnya dengan bantal sofa


.


.


.


.


.

__ADS_1


Like jika suka, komen kalau ada waktu, vote seikhlasnya 😊


Terimakasih sudah bersedia menyisihkan waktunya untuk baca karya receh ku ya. 😊🙏


__ADS_2