The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh Delapan


__ADS_3

Gerimis di pagi hari. Cucuran air langit satu persatu hampir sama derasnya dengan airmata yang mengalir dari bola mata coklat nan indah.


"Aku yang salah! Jangan laporkan dia kepolisi. Sekarang aku juga sudah tidak apa-apa!"


"Tapi ini sudah tindak kejahatan namanya! sudah mengancam nyawa! Kalau menyinggung masalah yang lalu ya ... nggak jodoh kan! mau bagaimana?"


"Iya, tapi kan kita memang melukai hatinya! Kau tau itu!!"


"Jadi sekarang bagaimana? Kita harus membiarkan laki-laki itu berbuat sewenang-wenang begitu saja! Bisa saja dia kembali mencoba melukaimu! bahkan membunuh mu!"


"Tidak! Dia tidak akan melakukan itu lagi. Asal kau mengizinkan ku bertemu dengannya sekali saja! Dia juga punya sisi baik, walau sedikit! aku pernah merasakan kebaikannya. Tolong ... izinkan aku bertemu dengannya sekali ini saja!"


"Baiklah ... sekali saja! dan ku pastikan aku akan mengawasimu!" ucap laki-laki itu setelah percakapan mereka terjeda beberapa saat


"Aku pulang dulu! Nanti anak kita menunggu Asinya terlalu lama." laki-laki itu mencium kening wanitanya yang masih terbaring diatas brangkar dan keluar dari ruangan tempat istrinya terbaring itu


Setelah pintu kamar tersebut tertutup, pintu itu kembali terbuka menghantarkan sosok wanita berjas putih


"Permisi! selamat pagi, Ibu! Bagaimana kondisinya? apa ada keluhan?" ucap dokter berambut panjang yang baru saja masuk ke ruangan tersebut


"Selamat pagi, Dokter. Masih ada rasa ngilu sesekali, Dok." jawab perempuan itu pula


"Oh ... oke. Nanti dokter Ehren akan cek kondisi kaki ibu. Mungkin setengah jam lagi."


"Saya kira, dokternya ganti, Dok" jawab perempuan itu polos


"Oh ... nggak! Saya hanya mampir. Kebetulan waktu Ibu masuk UGD waktu itu saya yang tangani, terus saya sering kesini ketemu sama anak Ibu. Tadi saya pikir ada dia di dalam jadi saya masuk saja! Maaf ya ...."


"Eh, nggak apa-apa, Dok."


Sebanarnya Syifa masuk keruangan itu karena mendengar suara orang berdebat dan menangis. Walau sebenarnya itu tidak pantas, tapi rasa ingin taunya membuatnya nekat.


Syifa merasa bernasib sama dengan perempuan korban kecelakaan itu. Rasa penasarannya dimulai saat mendengar si Ibu tua yang menggendong bayi kecil berteriak marah saat itu.


"Permisi!" pintu kamar inap itu di ketuk, seorang suster terlihat membuka pintu


"Eh ... ada dokter!" ucap juru rawat tersebut


"Iya, Sus. Saya lagi ngobrol! Mau ganti perban?" jawab Syifa

__ADS_1


"Iya, Dokter."


"Silahkan! Silahkan! perlu saya bantu?" tawar Syifa


"Ah ... dokter bisa saja! Kalau dokter yang ganti perbannya terus saya ngapain?"


"Ya ... tiduran saja tuh di ranjang sebelah sana." jawab Syifa tertawa, si pesakit dan juru rawat pun ikut tertawa


\=\=\=\=


"Istrimu jangan sampai stres. Istilah anak muda sekarang sih, perlu di jaga kewarasannya. Bukan berarti dia gila ya ... haha. Stres, cemas, kelelahan ... itu beberapa penyebab dari naiknya Asam lambung." ucap dokter yang menangani Yoli


"Iya, Dok. Nenek kami baru saja meninggal dunia."


"Oh ... ya ... ya. Saya paham. Saya turut berduka cita, semoga almarhumah di tempatkan ditempat terbaik disisi Allah."


"Aamiin ... Terimakasih, Dokter."


"Saya rasa Ibu lebih paham tentang bagaimana meng-imani semua ketetapan Allah untuk hambanya. Semangat! semangat itu harus datang dari diri ibu sendiri. Dan karena semangat itu juga Insya Allah ... Ibu akan cepat sehat. Pastinya, minum obatnya teratur ... pola makannya di jaga. Jangan sampai makan terlalu kenyang, dan jangan menunda-nunda makan kalau sudah terasa lapar. Nggak usah takut gemuk! Kata si Masnya dia akan tetap cinta kok! Ya ... mas ya!" Dokter tersebut menepuk pundak Fauzi


"Saya permisi." ucapnya lagi


"Terimakasih, Dok." ucap Fauzi pula


"Tuh ... dengar! Jangan menunda-nunda makan kalau lapar. Makan ya ... ini sudah lapar kan? Mas suapin ya."


"Saya nggak lapar, Mas."


"Kalau nenek ada, pasti nenek nggak suka kamu begini. Ini sudah waktunya makan siang, tadi pagi kamu cuma makan bubur satu sendok. Makan ya ...." pujuk Fauzi


Yoli memaksa tubuhnya untuk bangun, tapi jarum infus yang tertanam dilengan kirinya terasa menusuk.


"Aww!" Yoli memegang tangannya, mengurut bagian tangan yang ditutup plaster


"Ayo, Mas bantu." Fauzi membantu istrinya untuk duduk


"Cepat sembuh dong. Mas kangen masakan kamu." ucap Fauzi setelah menyuapkan bubur ke Istrinya


"Aamiin ... Maaf sudah merepotkan ya, Mas. Mas mau dimasakin apa?"

__ADS_1


"Hm ... Sayur asem. Sayur asem buatan kamu enak. Tapi nggak usah pake melinjo."


"Kenapa?"


"Mas nggak suka, Bau!"


"Melinjo kok bau?"


"Kan memang bau kan."


"Terasinya kali, Mas."


"Terasi kok bau. Terasi itu wangi loh."


"Haha ... mas ini aneh ya. Yang bau di bilang wangi. Tapi ya ... ya, selera orang beda-beda yakan!"


"Satu suap lagi, Aaaa!" ucap Fauzi, Yoli membuka mulutnya


"Pinter! sepuluh menit lagi makan obat. Mas mau ke toilet dulu." Fauzi memegang kepala istrinya


"Mas!!" panggil Yoli


"Ya ... kenapa?"


"Mm ... boleh peluk?!" ucap Yoli malu. Fauzi mendekati istrinya dan mengabulkan permintaan istrinya tersebut


Yoli menikmati pelukan itu, ada rasa damai yang ia rasakan. Tanpa terasa airmatanya menetes lagi.


"Jangan menangis lagi. Please ...." Fauzi menyeka airmata istrinya


"Nanti kalau sudah sembuh kita ke makam Nenek, Mau?" ucap Fauzi, Yoli mengangguk


"Mau banget, Mas. Yoli kangen."


"Makananya cepat sembuh."


"Insya Allah ...." ucapnya mengeratkan pelukan


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2