THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Kacamata


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, namun tak secerah suasana hati Erina saat ini.


Erina dan Via berjalan beriringan keluar dari rumah Via. Sudah siap dengan setelan seragam mereka, sudah sarapan pula tadi dengan nasi goreng buatan neneknya Via.


"Loe yakin beb mau sekolah dengan kondisi mata loe yang kayak gitu?" Via nampak ragu saat memperhatikan gaya Erina yang cukup nyeleneh untuk setelan anak sekolahan.


"Ekhm." Erina berusaha mengembalikan suaranya yang serak akibat nyinden semalam. Alias menangis.


Sekali lagi Erina memperhatikan penampilannya di kaca jendela rumah Via.


Kaca mata hitam sengaja ia gunakan untuk menutupi matanya yang seperti mata panda, sembab, bengkak dan memerah. Menurutnya ini tak terlalu aneh. Via saja yang berlebihan mengkhawatirkan dirinya.


"Yakin beb. Gue oke kok. Hari ini gue bertekad untuk mulai melupakan dia, dan mendukung hubungannya sama Ameera. Bismillah." Menarik nafas kemudian membuangnya melalui mulut.


"Nah, ini baru sohib gue. Gue yakin beb, loe pasti bisa lupain dia. Mangat! Mangat!" Via bersorak sorai menyemangati Erina, menepuk pundaknya. Kemudian keduanya tertawa bersama memulai hari dengan menyebut Bismillah.


Merekapun melesat menuju sekolah dengan mengendarai motor kesayangan Via. Pinky nama motornya karena warnanya memang pink.


***


Tak lupa Via membelokan motornya ke kostan Ameera, karena memang untuk sampai ke sekolah, Via akan melewati kostan Ameera, jadilah sekalian dia selalu menjemput sahabatnya itu. Biar ada temannya juga.


Motor berhenti tepat di depan kostan. Ada sebuah mobil yang parkir di halaman sana. Seorang pemuda tampan nampak sedang duduk di bemper depan mobil itu.


Pemuda itu menoleh saat mendengar suara motor Via.


Deg!


Astaga!


Itu Devan dengan segala pesonanya. Erina merasakan sesak di dadanya saat melihat pemandangan indah yang di suguhkan di depan matanya. Erina tak akan mungkin pernah bisa menggapainya.


Bersamaan dengan Via dan Erina yang turun dari motor, Ameera keluar dari kamar kostnya.


"Hey, pagi-pagi udah pada berkerumun nih." Ucap Ameera sambil mengumbar senyum termanisnya. Pantas saja Devan sampai tergila-gila pada Ameera. Bahkan Erina sendiri mengakui kalau senyum Ameera begitu mempesona.


"Pagi ay." Devan berjalan menghampiri Ameera dan merangkulnya, tak lupa membalas senyum Ameera tak kalah manis. Menunjukkan kepada dunia kalau sekarang Ameera adalah miliknya.


Erina melengos, enggan melihat atau hatinya akan kembali goyah.


"Loe mau berangkat bareng dia Meer?" Tanya Via sambil menunjuk ke arah Devan.


"Iya Vi. Nggak apa-apa kan?" Tanya Ameera.


"Ya nggak papa kok santai aja. Gue sekalian lewat aja tadi sambil mau ngecek loe." Jawab Via.


"Oh ya Er, loe nginep di rumah Via? Kok nggak ngajak gue sih?" Protes Ameera yang sadar kalau Erina bersama dengan Via, padahalkan biasanya Ameera dan Via yang menjemputnya.


"Iya, loe nya sih sibuk pacaran mulu." Gelagapan Erina menjawab sambil membenarkan posisi kacamatanya yang hampir melorot. Berusaha untuk bersikap biasa, dia kan sudah bertekad untuk move on.


"Hey, loe nggak salah Er ke sekolah pake kacamata hitam kayak gitu? Emangnya mata loe kenapa?"


Deg!

__ADS_1


Devan menyapa dirinya dengan pertanyaan. Jantung Erina sudah berdegup kencang, sebisa mungkin dia meredam rasa yang bergejolak di dalam dadanya.


Loe nggak akan pernah tau kalau semalaman suntuk gue nangisin loe yang jadian sama Ameera.


"Semalam gue di kencingin kecoa." Jawab Erina asal, lagi-lagi sambil membenarkan kacamatanya yang sebenarnya tidak apa-apa. Terlihat salting sekali. Via berusaha menahan tawanya saat mendengar jawaban Erina yang ngaco. Mana ada di rumahnya kecoa.


"Jorok loe Vi, kenapa bisa sampai ada kecoa di rumah loe?" Tanya Ameera.


"Iya nih. Gue juga nggak tau. Tapi hari ini rumah gue mau di kasih disinspektan kok." Jawab Via.


***


Erina terpaksa harus berjalan sendirian menuju kelas, Via sedang memarkirkan dulu motornya. Sedangkan Ameera sepertinya belum sampai.


Dia berjalan menyusuri koridor yang mulai ramai oleh anak-anak yang sedang menunggu bel tanda masuk berbunyi. Erina menundukan wajahnya dalam-dalam, merasa risih juga karena sepertinya dirinya tengah menjadi pusat perhatian. Pasti gara-gara kacamata yang dia pakai.


Sayup-sayup tertangkap oleh indra pendengarannya, beberapa murid sedang membicarakan dirinya.


"Pasti dia habis nangisin Devan."


Deg!


Meskipun bicaranya pelan, namun Erina masih bisa mendengarnya. Kenapa mereka bisa tau?


"Iya, dia juga kan suka sama Devan. Munafik banget ya, didepan Ameera aja baik, nggak tau deh di belakangnya gimana. Kalau gue jadi Ameera, gue nggak mau temenan sama dia lagi."


Benar-benar menusuk jantung, bahkan melukai hati. Namun Erina berusaha untuk abai, dia tak ingin benteng yang telah ia bangun dengan susah payah kembali runtuh hanya dengan mendengar perkataan mereka yang tidak tau apa-apa.


Diapun kembali melanjutkan langkahnya.


Erina merasakan bahunya ngilu sesaat setelah tabrakan dengan bahu lain. "Aww." Rintihnya sambil memegangi bahu. Itu berimbas pada kacamatanya yang langsung terlepas dan jatuh ke lantai.


"Astaga Er, sory gue nggak sengaja. Gue nggak liat loe tadi. Loe nggak kenapa-napa kan?"


Erina menoleh, terlihat Albi dengan wajah khawatir menatap kearahnya.


"Emm, nggak kenapa-napa kok." Jawab Erina.


Albi mengernyit saat mendapati mata Erina membengkak seperti habis menangis, sontak saja kekhawatirannya bertambah dua kali lipat.


"Er, loe baik-baik aja kan? Kenapa mata loe bisa bengkak kayak gitu?" Panik Albi menyerang Erina dengan pertanyaannya. Membuat Erina semakin risih, dia berusaha menghindari Albi. Kacamata! Dimana kacamatanya?


Albi yang sadar jika Erina merasa tak nyaman dengan pertanyaannya, berusaha untuk membantu Erina mencari benda yang terjatuh tadi. Laki-laki itu memungut kacamata hitam yang berada di belakangnya, kemudian mendekatkannya ke wajah Erina.


"Loe mau ngapain?" Tanya Erina.


"Sini biar gue pakein!" Erina tak menolak, ia membiarkan Albi memakaikan kacamatanya. Rasa risihnya kini telah berubah menjadi malu saat murid-murid yang ada di koridor itu membicarakan tentang matanya yang bengkak.


"Makasih." Jawab Erina. Albi tau, perempuan itu pasti menangisi Devan semalam sampai matanya bengkak seperti itu. Andai saja Erina mau sedikit membuka hatinya untuk Albi, maka Albi akan memastikan Erina takan pernah meneteskan satu tetes air matapun, kecuali air mata kebahagiaan.


Namun hati perempuan itu begitu keras, Albi sangat sulit untuk menyentuh hatinya meski sekuat apapun dia berusaha. Hanya tinggal menunggu keajaiban saja agar Erina mau menoleh pada cinta tulus yang Albi miliki.


"Loe nangisin dia Er?" Tanya Albi lirih.

__ADS_1


"Nggak kok." Berusaha memalingkan wajahnya agar Albi tak melihat mata bengkaknya.


"Ya udah, jangan nangis-nangis lagi ya setelah ini." Pesan Albi yang langsung di balas anggukan oleh Erina.


"Gue duluan ya Bi!" Pamit Erina kemudian berlalu meninggalkan Albi. Meskipun Erina sering merasa ilfil kepada Albi, namun ia bertekad untuk tetap bertutur baik. Erina tak ingin menyakiti hati Albi lebih dalam lagi.


Albi menatap punggung Erina yang semakin menjauh dari pandangannya dengan sendu.


Kapan sih Er loe sadar, kalau gue beneran tulus sayang sama loe. Hati gue ikut sakit liat loe kayak gini.


***


Jam istirahat sebentar lagi berakhir. Erina dan Ameera berjalan beriringan menuju kelas setelah mengahabiskan waktu istirahat di tempat favorit mereka. Sedangkan Via katanya mules, dia sedang pergi ke toilet.


"Er, loe nggak kenapa-napa gue sama Devan jadian?" Hati-hati Ameera bicara, takut sahabatnya itu tersinggung. Dia banyak mendengar gosip-gosip yang bertebaran dan tertiup angin hingga akhirnya mendarat di telinganya. Tentang Erina yang semalam menangisi Devan sampai-sampai pagi ini matanya membengkak dan dia sembunyikan di balik kacamata hitamnya.


"Kenapa? Emangnya gue kenapa? Gue biasa aja kok Meer." Kilah Erina. Karena memang benar, dia sedang berusaha memubuat hatinya pulih dan melupakan tentang rasa cintanya kepada Devan.


"Gue denger gosip itu Er." Balas Ameera.


"Astaga Meer. Loe jangan sampai termakan sama gosip murahan gitu. Gue kan udah bilang kalau mata gue di kencingin kecoa jadi bengkak kayak gini." Ucap Erina.


"...loe jangan terlalu memikirkan gosip deh Meer. Yang terpenting sekarang loe udah sama Devan. Gue ikut seneng buat kalian. Gue do'ain biar loe selalu bahagia sama dia, kalau dia sampai ngakitin loe, loe bilang ke gue. Gue bakalan jadi orang pertama yang ngehajar dia kalau sampai dia nyakiti loe."


Ameera terkekeh melihat Erina dengan semangatnya bicara.


"Iya iya makasih ya Er."


Obrolan mereka terhenti saat keduanya masuk kedalam kelas. Kemudian duduk di bangku masing-masing.


"Si Via kemana sih Er? Ke toilet kok lama banget?" Tanya Ameera yang membalikkan badannya menghadap Erina sambil memasukkan kripik kentang kedalam mulutnya.


"Iya nggak tau juga. Lagi berak kali." Jawab Erina.


"Ihh sensor dong kalau ngomong kayak gituan! Jorok tau gue kan lagi makan." Ameera mencebik sambil mengunyah.


"Haha, iya iya Ameera yang wangi sory deh. Hihi." Erina cekikikan sendiri.


"Ehh De, pulang sekolah loe suka kemana?" Erina bertanya pada Dea yang duduk sebangku dengan Ameera.


Si Dea ini, sejak masuk pukul 7 pagi sampai pulang jam 2 siang, tak pernah sedikitpun dia beranjak dari bangkunya. Dia juga jarang sekali pergi ke kantin untuk sekedar membeli jajanan. Waktu istirahatnya lebih banyak dia habiskan di kelas sambil membaca buku. Tidak pegal apa itu bokong? Dan apa dia tidak merasa jenuh hanya berdiam diri tanpa ingin berbaur dengan murid lain? Kalau Erina sih mulutnya pasti akan terasa gatal kalau tidak bicara sebentar saja.


Hebat kan si Dea, uang jajannya pasti sudah menggunung sekarang. Entahlah dia itu makhluk sejenis apa, Erina baru menemukan manusia semacam si Dea di sekolah ini. Kadang merasa salut, namun kadang juga merasa kasihan. Sepertinya dia memiliki fobia sosial atau semacamnya. Erina juga tak mengerti.


"Langsung pulang. Nggak kemana-mana." Menjawab namun tanpa menoleh.


"Kalau gitu, loe ikut kita aja nanti. Kita nongkrong di kedai ice cream yang ada di ujung jalan sana." Tawar Erina yang langsung di balas dengan gelengan kepala dari Dea.


"Nggak bisa. Adik aku lagi sakit." Kemudian Dea kembali bergeming, lanjut membaca buku yang sedari tadi dia pegang.


"Oh ya udah." Setelahnya tak terjadi percakapan apa-apa lagi di antara mereka.


Erina menoleh ke arah Ameera, meminta pendapat dari sahabatnya itu. Ameera hanya membalas dengan mengedikkan bahu sambil mengerutkan alis, pertanda dia juga tidak mengerti.

__ADS_1


______________


Masih part-part awal ya, masih pengenalan, belum keliatan misteri-misterinya.... 🙏


__ADS_2