
Seperti apa yang telah di rencanakan sebelumnya, siang itu, Erina dan Via benar-benar pergi ke kost-an Ameera.
Mereka berdiri mematung di depan daun pintu yang tertutup rapat. Sudah bimbang apakah si pemilik kamar sedang berada di dalam atau tidak. Karena suasana di dalam sana terasa senyap. Bahkan tirai jendelapun masih belum di buka, padahal ini sudah lewat tengah hari.
"Meer!" Entah untuk yang ke berapa kalinya Erina mengetuk pintu di hadapannya.
Tak ada sahutan.
"Kemana sih ini anak? Dari semalam WA nya juga nggak aktif." Frustasi Via berkata.
"Udah lah beb. Mendingan kita pulang aja. Kayaknya Ameera lagi pulang ke rumah orang tuanya." Ucap Erina yang mulai menyerah.
"Ya udahlah." Jawab Via akhirnya.
Merekapun berjalan menuju motor Via yang terpakrik di halaman kost itu.
Perhatian mereka teralihkan saat sebuah mobil berhenti tepat di samping motor Via.
"Itu Devan!" Seru Erina.
"Heeh. Awas loe jangan baper sama dia lagi!" Ucap Via mewanti-wanti.
"Iya iya. Ya elah." Balas Erina.
Terlihat Devan keluar dari mobil dan menghampiri keduanya.
"Er, Vi. Gimana Ameera? Apa kalian udah ketemu sama dia?" Tanya Devan kemudian.
"Kayaknya Ameera lagi nggak ada di kost deh. Tirainya aja masih di tutup." Jawab Erina.
Devan memijat pelipisnya. Bingung sendiri dengan tidak adanya kabar dari sang kekasih. Jujur saja, dia mencemaskan keberadaan Ameera.
"Mendingan loe cariin dia ke rumah orang tuanya deh Dev. Gue udah tanya baik-baik sih tadi sama si Violla, tapi jawabannya itu loh. Ngeselin banget." Ucap Via yang di angguki oleh Erina.
"Iya deh. Gue mau kesana aja buat mastiin Ameera baik-baik aja." Balas Devan.
"Kalau loe udah ketemu sama dia, suruh dia kabarin kita-kita ya!" Pinta Erina.
"Ya udah. Gue cabut sekarang ya. By!" Kemudian dengan gaya kerennnya Devan memasuki mobilnya.
Astaga!
Bahkan Erina masih saja menyanjung laki-laki sempurna itu. Jujur, Erina tak bisa dengan mudah menepis bayangan Devan meskipun tekadnya sudah bulat untuk melupakannya.
"Woy! Malah bengong lagi. Ayo buruan naek!" Entah sejak kapan Via sudah naik ke atas motornya, bahkan mesinnya sudah menyala. Erina tak menyadari itu karena fikirannya sedang tidak ada di tempatnya, terlalu sibuk menyanjung Devan.
__ADS_1
"Ehh iya beb." Sambil cengengesan Erina bergegas naik ke jok belakang motor Via.
***
Malam yang mencekam, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat ini. Terjadi hujan lebat di luar sana. Suara petir saling bersahutan, kilat menyambar memenuhi langit gelap. Pepohonan bergoyang tertiup angin kencang.
Bahkan sang rembulan yang biasa menerangi malampun bersembunyi di balik awan hitam, seakan takut dengan kemarahan alam.
Erina berlari di tengah guyuran hujan yang turun dengan derasnya. Tak perduli dengan pakaiannya yang kini telah basah kuyup. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan diri.
Sesekali menoleh ke belakang. Memastikan jika seseorang itu tak lagi mengejarnya. Namun sial, sosok misterius itu masih saja terus berusaha untuk mengejarnya.
Erina mempercepat laju larinya meskipun ia sendiri merasa sangat lelah. Namun untuk berhentipun ia merasa takut jika sosok itu akan melukai dirinya.
"BERHENTI!" Orang misterius itu berteriak. Membuat Erina semakin ketakutan.
Nafas Erina memburu, sosok itu semakin dekat dengan dirinya.
Astaga! Bagaimana ini?
BRUK!
"Awwww!" Sial, kaki Erina tersandung batu sehingga kini tubuhnya amburuk di atas aspal. Berusaha untuk bangkit kembali, tak ingin usaha yang telah ia lakukan menjadi sia-sia.
"Arrrgh!" Erina mengerang kesakitan.
Sekali lagi, dia menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan sosok itu. Dan tepat saat Erina menoleh, dia melihat sosok itu telah berdiri tepat di hadapannya sambil mengacungnkan sebilah pisau.
"Jangaaaaaan! Aaaaaaaa!" Erina menutup mata rapat-rapat. Berharap akan ada keajaiban yang menyelamatkannya darinya.
Namun sayang, mungkin ini memang akhir dari hidupnya. Darah segar menyatu dengan air hujan. Mengalir mengikuti arah yang ada.
Erina terperanjat dari tidurnya, nafasnya tersengal. Mimpi buruk itu terasa begitu nyata. Ia seakan bisa merasakan kesakitan di perutnya saat pisau itu menancap.
"Untung cuma mimpi." Mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Masih berusaha mengatur nafas.
Hembusan angin menerpa tubuhnya, hawa dingin langsung menelusup masuk melalui pori-pori dan tembus hingga ke tulang-tulang. Dia menoleh ke arah samping. Ternyata jendela kamarnya terbuka. Pantas saja Erina meraskan kedinginan.
Dahi perempuan itu mengerut. Kenapa bisa sampai terbuka? Padahal sebelum tidur, Erina sudah menguncinya dengan rapat.
Berusaha positif thinking. Mungkin anginnya terlalu kencang sehingga membuat jendelanya terbuka. Diapun beranjak untuk menutup kembali jendela itu.
Sebelum benar-benar menutupnya, Erina memperhatikan keadaan diluar sana. Ternyata tengah diguyur hujan lebat di sertai angin kencang. Sama persis seperti dengan mimpinya tadi.
Bulu romanya mendadak berdiri semua, perempuan itu mengusap lengannya untuk mengusir hawa dingin. Cepat-cepat Erina menutup jendela karena sudah tak tahan dengan dinginnya.
__ADS_1
Saat berbalik badan hendak kembali ke kasurnya, Erina mendapati sesosok makhluk sedang berdiri di hadapannya. Erina kaget bukan kepalang. Dia berteriak histeris saat melihat wajah itu ternyata tidak memiliki mata, hidung dan bibir. Wajahnya datar. Astaga! Lantas, makhluk apa itu?
"Aaaaaaaaaaaaaaaa." Dengan kekuatan penuh Erina berteriak.
Secepat kilat dia berlari keluar dari kamarnya untuk menghindari makhluk itu. Ini gila. Benar-benar gila. Seumur hidupnya, Erina baru kali ini bertatap muka dengan makhluk menyeramkan seperti itu.
"Aaaaaaa." Teriakannya tak hilang sepanjang dia berlari.
Berlari semampu yang ia bisa. Kamar kedua orang tuanya adalah tujuan Erina saat ini. Beruntung, pintu kamar orangtuanya tidak di kunci. Erina segera masuk dan tanpa aba-aba dia menjatuhkan dirinya di atas kasur yang sedang di tiduri oleh mama papanya.
Hal itu berhasil mengusik tidur mama Sofi dan papa Heri sehingga keduanya terbangun. Menatap keheranan putri sulung mereka yang menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, gumam-gumam kecil terdengar dari bibir Erina.
"Astaga Er. Kamu kenapa malam-malam teriak-teriak gitu?" Tanya mama Sofi kebingungan.
"Iya Er. Kamu mengagetkan mama sama papa." Sambung papa Heri.
"Dikamar Erina ada hantu pa!" Dari balik bantalnya Erina bicara.
Mama dan papa terlihat saling pandang, sama-sama tak percaya dengan apa yang putrinya itu katakan.
"Ngaco kamu Er. Mana ada hantu di rumah ini." Ujar mama sambil menyeringai.
"Beneran ma, Erina liat sendiri tadi." Masih enggan menunjukan wajahnya.
"Udah sana kamu kembali lagi ke kamar!" Papa menarik tangan Erina agar turun dari kasurnya. Untung saja sedang tidak melakukan ritualnya bersama mama Sofi. Kalau tidak, dimana papa Heri harus menyembunyikan wajahnya?
"Nggak mau pa! Erina mau tidur di sini sama mama. Kalau papa mau tidur aja di kamar Erina sana!" Erina ngeyel, saking takutnya. Dia berharap ini pertama dan terakhir kalinya dia di sambangi hantu wajah datar itu. Amit-amit!
Papa menghembuskan nafas berat. Anak ini sudah besar juga masih saja menganggu. Pikirnya.
"Kamu salah liat kali Er." Mama Sofi mengelus pundak Erina, menenangkan.
"Nggak ma. Erina kiat jelas banget tadi." Ucap Erina. Membayangkannya kembali membuat Erina merasa mual.
"Ya sudah. Mama dan papa akan tidur di kamar kamu. Kamu tidur di sini sendirian." Ucap papa Heri yang sontak membuat Erina terperanjat dan bangun dari posisinya.
"Aaah jangan dong. Erina nggak mau sendirian. Pokoknya malam ini Erina mau tidur sama mama titik." Kekeh Erina, tak terbantahkan.
"Baiklah. Papa mau ngecek kamar kamu dulu. Awas ya kalau kamu ketauan berbohong!" Seru papa.
"Erina nggak bohong pa. Sumpah. Mana mungkin Erina bohong soal kayak gini?"
________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...
__ADS_1