THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Sahabat


__ADS_3

Saat Albi berusaha menarik paksa helm yang di kenakan oleh pengendara motor knalpot bising itu, tiba-tiba segerombolan motor berbondong-bondong menghampiri mereka. Perhatian Albi langsung teralihkan, apalagi saat salah satu lampu motor itu menyilaukan kornea matanya.


Pengendara motor itu satu persatu mulai turun dan berjalan mendekati Albi. Jumlah mereka Albi perkirakan ada sekitar 6 orangan. Di tambah orang tadi Albi kejar berarti 7, tapi dia terlihat sudah tak berdaya. Albi rasa mereka satu komplotan. Lantas diantara mereka, siapa yang sebenarnya telah meneror Erina?


Albi tidak bisa melihat wajah orang-orang itu karena mereka semua tak melepaskan helmnya. Albi beringsut mundur saat sadar jika jumlah mereka terlalu banyak sedangkan dia hanya seorang diri.


Ini curang namanya.


"Seraaang!" Suara berat itu berseru panjang.


Albi dengan sigap menangkis serangan demi serangan yang mereka layangkan. Untung saja dirinya ikut serta dalam kelas tekwondo meskipun beberapa bulan terakhir sering mangkir.


Mereka menyerang Albi tanpa henti, Albi kewalahan karena gerakan mereka yang terlalu cepat, Albi hanya bisa menghindar tanpa sempat menyerang apalagi melawan.


Sampai akhirnya Albi jatuh tersungkur, mereka menyerang Albi dari segala sisi. Albi di hajar habis-habisan oleh keenam orang itu. Dia di paksa bangun dan wajahnya kembali menjadi sasaran, mereka memukuli perut dan wajah Albi tanpa ampun. Kedua sisi tangan kiri dan kanan Albi di cengkram agar dia tak berontak, namun Albi tak tinggal diam meskipun kini ia meraskan sakit di sekujur tubuhnya. Dia berontak dan memelintir tangan orang yang memegangi tangannya sehingga si pemilik tangan itu mengerang kesakitan.


Perkelahian pun masih terus berlanjut, meskipun Albi sudah tak berdaya dia berusaha untuk tetap bertahan. Demi Erina. Sedikit lagi dia berhasil mengungkap siapa orang yang telah meneror Erina.


Itupun jika kamu berhasil Bi, kalau kamu kalah, ucapkan selamat tinggal kepada Erina.


"Woy! Berhenti!" Itu suara Devan. Albi memiliki sedikit harapan. Devan datang di waktu yang tepat.


Devan langsung bergabung dalam perkelahian itu, dia meninju satu persatu orang yang datang silih berganti menyerangnya.


Albi berusaha bangkit dari jatuhnya untuk membantu Devan, Devan tidak akan menang melawan mereka sendirian. Albi saja di kroyok habis-habisan. Mungkin dengan bergabung Albi dan Devan bisa mengalahkan mereka.


BUKKKK!


BUKKKK!


Tiga dari mereka tumbang setelah di hajar oleh Albi dan Devan. Sisa tiga orang yang masih aktif, pertarungan semakin sengit saat lawan mereka hampir imbang.


Namun tiba-tiba saja segerombolan orang berseragam loreng datang dan melerai keributan itu. Ternyata itu adalah satuan polisi pamong praja yang bertugas mengamankan dan menertibkan jalanan kota.


"Berhenti! Atau kalian kami tangkap!"


Sial!

__ADS_1


Mereka berenam lari terbirit-birit dan tunggang langgang menghampiri motor masing-masing. Albi dan Devan tak berkesempatan untuk melihat wajah-wajah di balik helm itu.


"Bubar semuanya atau kalian akan kami seret ke kantor sekarang juga!" Seru satpol PP itu dengan galak sambil melotot ke arah Albi dan Devan.


Mereka tak punya pilihan, orang-orang itu sudah kabur duluan dan mereka juga tak ingin di tangkap. Akhirnya kedua pemuda itupun sepakat untuk ikut melarikan diri saja.


***


"Aww, pelan-pelan Er!" Albi meringis sambil menahan tangan Erina yang sedari tadi membasuh lukanya menggunakan kain basah.


Setelah melarikan diri dari razia satpol PP, Albi dan Devan memutuskan untuk kembali ke alun-alun dimana Erina dan Via berada.


"Udah nggak usah manja, cuma begitu doang!" Cibir Erina lalu kembali mengompres lebam di wajah Albi.


"Kan sakit Er." Protes Albi.


"Loe kan cowok, masa gini aja ngenges sih?!" Erina semakin gemas saja menekan-nekan luka di wajah Albi, sengaja ia lakukan meskipun Albi terus protes dengan tindakannya itu.


Sedangkan Devan sepertinya tidak mengalami luka yang berarti. Jelas saja, dia datang paling akhir, jadilah Albi yang babak belur sendirian.


Devan kebakaran saat melihat Erina dengan penuh perhatian mengobati luka Albi, kalau tau begitu tadi Devan juga minta di hajar juga oleh geng motor tadi agar di perhatikan juga oleh Erina.


"Cie cie Devan, kayaknya udah mulai ada hati nih sama Albi, kemarin aja sok sokan berantem. Sekarang kok sweet banget sih pake acara mau ngobatin segala. Haha." Tawa Via seketika meledak saat melihat Devan yang hendak mengobati luka Albi.


"Apa? Loe pikir gue suka sama dia? Loe pikir gue maho Vi?" Devan kembali menarik tangannya dan mengurungkan niat untuk mengompres luka Albi karena ledekan dari Via. Padahalkan niatnya agar Erina tak dekat-dekat lagi dengan Albi, si Via malah salah paham.


"Ck, gue udah duga sih kalau dia nggak normal." Cicit Albi.


"Apa loe bilang? Loe itu yang maho." Sewot Devan.


"Kalian berdua sama-sama maho, udah cocok itu buat jadian." Ucap Via.


"Amit-amit amit-amit." Albi dan Devan berseru serempak, terlihat sangat kompak.


"Tuh kan kompak banget, kalian itu pasangan yang serasi ya nggak sih beb?" Via meminta persetujuan Erina. Yang di tanya hanyalah tergelak, merasa konyol dengan perkataan Via yang ngawur itu.


"Udah tuh, loe obatin sendiri muka loe!" Devan yang kesal melempar handuk kecil tepat di wajah Albi. Sontak itu memancing kemarahan Albi.

__ADS_1


"Sialan loe Dev, kalau gue nggak lagi sakit kayak gini gue hajar loe!" Ancam Albi sambil balik melempar handuk basah kepada Devan.


"Udah udah, kalian kok malah berantem sih. Kita kan satu tim, kita harus kompak dong. Demi gue. Ya ya ya, pliiis." Erina memasang wajah melas agar teman-temannya berhenti berdebat.


Tak ada yang bersuara lagi setelahnya, semua tenggelam dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara kendaraan yang berlalu lalang di depan alun-alun.


"Kira-kira, pengendara motor bising itu siapa ya?" Tanya Erina tiba-tiba.


"Kalau gue liat dari postur tubuhnya itu kayak bapak-bapak deh. Tadi aja temen-temennya yang ikut nyerang kita itu perutnya ada yang buncit, kulit tangannya juga keriput." Jawab Albi.


"Bapak-bapak? Terus gimana caranya kita bisa nangkap mereka? Gue bener-bener udah nggak tau harus gimana lagi. " Ucap Erina terdengar pasrah.


"Udah loe jangan terlalu setres Er, kita pasti bakalan bisa nangkap pelakunya, mereka udah semakin dekat sama kita. Kita cuma butuh waktu sedikit lagi. Loe harus optimis ya." Devan menyemangati.


"Gue cuma takut. Peneror itu masih berkeliaran dan semakin nekat, gimana kalau dia berusaha buat nyelakain keluarga gue lagi? Tempo hari dia ngirim paket isi potongan tubuh manusia ke rumah gue." Tutur Erina.


"Apa? Potongan tubuh manusia?" Tanya Via, Albi dan Devan bersamaan, wajah mereka terlihat sangat terkejut.


"Iya, awalnya gue pikir itu asli. Tapi ternyata itu cuma boneka. Tapi tetep aja, hidup gue nggak bakalan tenang sebelum pelakunya ketangkap." Ucap Erina.


"Loe yang sabar ya beb. Gue yakin kok kalau pada akhirnya kebenaran yang akan menang. Pelakunya bakal mendapat hukuman yang setimpal." Ucap Via sambil mengelus pundak Erina, menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya itu.


"Iya Er, loe harus kuat ya, loe nggak sendirian kok, ada gue yang bakalan selalu bantuin loe." Ucap Albi sambil tersenyum meskipun wajahnya kini sudah penuh dengan luka lebam.


"Gue yang bakalan berdiri paling depan buat belain loe Er. Loe harus tetap optimis buat memecahkan kasus ini. Oke." Devan tak mau kalah dari Albi, dia ikut menyemangati Erina.


"Thanks ya guys, gue nggak yakin kalau gue bakalan bertahan sampai sejauh ini kalau kalian nggak ada. Gue nggak tau gue bakalan bisa balas kebaikan kalian ini atau nggak." Erina tertunduk sambil tersenyum getir.


"Loe inget kan komitmen waktu pertama kita memutuskan buat sahabatan? Kita bakalan selalu ada buat satu sama lain. Kita bakalan hadapin kerasnya hidup bareng-bareng. Apapun yang terjadi, dan apapun masalahnya, kita bakalan hadapin semuanya sama-sama. Itu mantra persahabatan kita. Dan satu hal yang perlu loe inget, nggak ada kata balas budi dalam persahabatan. Persahabatan itu tulus tanpa pamrih." Ucap Via panjang lebar.


"Uuh, so sweet banget sih loe. Thanks ya beb." Erina langsung saja memeluk sahabatnya itu yang sedari tadi duduk di samping Erina. Via membalas pelukan Erina dengan hangat.


"Kalau gue sih memang dari awal udah ada buat loe Er, dan tiba-tiba aja ada orang yang ikut nimbrung dengan nggak tau malunya." Albi melirik Devan dengan ekor matanya.


Devan yang mendengar perkataan Albi merasa kesal. Seharusnya tadi Devan tidak usah menolong si Albi dari para penjahat itu. Biarkan saja dia habis di hajar sampai babak belur atau mungkin sampai masuk UGD agar dirinya bisa lebih leluasa mendekati Erina kalau Albi tidak ada.


________________

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya guys, like, corat-coretnya di kolom komentar.... Jangan jadi pembaca gelap nanti matanya bintitan lho...😁✌️


__ADS_2