
Saat pulang dari sekolah, Erina yang baru saja menginjakkan kaki di pekarangan rumahnya, langsung dikejutkan oleh mobil dinas polisi yang terparkir di halaman.
Langkahnya mendadak berhenti saat kata-kata polisi waktu itu kembali terngiang di kepalanya.
Setelah hasil otopsinya keluar. Tim kami yang akan menjemput langsung saudari Erina ke kediaman anda.
"Itu pelakunya!" Suara berat itu tertangkap oleh indra pendengaran Erina. Erina menoleh, saat itulah Erina melihat dua orang polisi yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Erina mundur beberapa langkah. Merasa ketakutan.
Tidak!
Jangan sekarang!
Bahkan Erina belum memiliki bukti yang kuat untuk membuktikan jika dirinya tidak bersalah.
"Tolong jangan tangkap putri saya!" Itu suara mama Sofi yang berteriak histeris, mata Erina berkabut, cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya saat bayangan bui kini sudah nyata ada di hadapannya.
Glek!
Dengan susah payah Erina menelan salivanya. Apalagi saat dinginnya borgol harus kembali menyentuh pergelangan tangan Erina. Seketika Erina tersadar, dia berontak saat borgol itu telah membelenggu kedua tangannya.
"Lepasin saya pa, saya udah bilang bukan saya pelakunya!" Seruan Erina tak jadi penghalang bagi kedua polisi itu menggiring Erina menuju mobil dinas mereka.
Erina menahan tubuhnya agar tak ikut terseret oleh pergerakan polisi. Namun sepertinya hanya sia-sia, polisi itu tenaganya lebih besar ketimbang Erina, sehingga mau tak mau jadi ikut terseret.
"Tidak pa, jangan! Lepaskan putri saya, saya mohon, kalau perlu tahan saya saja pa, jangan putri saya. Saya mohon!" Mama Sofi berjalan tergesa dan menghampiri Erina yang sudah berada di samping mobil polisi itu. Bahkan mamanya Erina itu sampai bertekuk lutut di bawah kaki polisi.
Air mata yang sedari tadi berusaha Erina tahan, kini tak bisa terbendung lagi saat menyaksikan bagaimana kasih sayang seorang ibu terhadap putrinya. Dia rela berkorban dan menyodorkan dirinya kepada polisi asalkan putrinya tidak di penjara. Kasih sayang ibu memang sepanjang masa. Namun Erina malah melempar kotoran ke wajah mamanya itu dengan menjadi tertuduh telah menghabisi nyawa Ameera.
"Maaf bu, tapi ini perintah. Kami hanya menjalankan tugas. Sebaiknya ibu tidak membuat pekerjaan kami menjadi sulit." Ucap salah satu polisi.
Mama Sofi bangkit berdiri sambil menyusut air mata yang membanjiri pipinya. Baru sadar, tak sepatutnya dirinya sampai harus merendahkan harga diri.
"Tolong Erina ma, Erina nggak mau di penjara." Ucap Erina sambil berusaha untuk melepaskan tangannya yang di borgol. Tapi sia-sia saja, bukannya terlepas, justru tangan Erina yang terasa sakit.
"Kamu jangan khawatir ya Er, papa pasti bakalan bebasin kamu. Mama jamin semuanya bakalan baik-baik aja." Ujar mama Sofi, bukankah dia harus terlihat tegar agar Erina bisa kuat mengahadapi masalah ini? Jika dirinya lemah, lalu siapa yang akan menguatkan putrinya itu?
"Mama janji ya ma, Erina mau kuliah ma. Erina nggak mau masuk penjara atas kesalahan yang nggak Erina lakuin." Ucap Erina.
__ADS_1
"Iya sayang, mama bakalan lakuin apa aja biar kamu bisa bebas." Balasnya kemudian.
"Terimakasih atas kerja samanya. Kami harus segera membawa saudari Erina." Ucap polisi itu.
Dengan berat hati mama Sofi melepaskan putrinya itu untuk di bawa ke kantor polisi.
Mobil dinas polisi perlahan bergerak melaju, meninggalkan kediaman papa Heri. Menyisakan kesedihan yang mendalam di hati ibu dua anak itu. Wanita berumur empat puluh tahunan itu menyusut pipinya dengan kasar, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi sang suami.
"Halo pa!" Suaranya terdengar serak.
***
Tubuh Erina didorong paksa karena menolak untuk masuk kedalam sel tahanan. Sudah berada di dalam juga masih saja dia berteriak-teriak menyerukan bahwa dirinya tidak bersalah. Borgol sudah terlepas dari tangannya.
"Ameera lagi hamil pa, pasti orang yang menghamili Ameera yang bunuh dia karena orang itu nggak mau bertanggung jawab atas kehamilan Ameera." Ucap Erina dengan sangat yakin.
"Ya, korban memang sedang mengandung, terbukti dari hasil otopsi. Tapi hasil sidik jari itu memberatkan anda. Sidik jari anda ada si pisau itu. Jadi terima saja dan jangan banyak bicara!" Seru polisi itu yang kemudian berlalu dari hadapan Erina.
"Pa, pa! Tolong lepaskan saya! Saya nggak mau disini pa! Saya nggak bersalah! Pa! Pak!" Teriakan demi teriakan yang keluar sari mulut Erina sepertinya hanya akan jadi sia-sia. Mana mungkin ia mampu melawan hukum, sedangkan ini adalah kasus pembunuhan, kasus yang melibatkan nyawa seseorang. Pasti tak akan mudah untuk dirinya bisa terbebas dari dalam sana.
Akhirnya Erina kelelahan sendiri, tubuhnya melorot dan terduduk si atas ubin dingin. Meratapi nasibnya yang kurang beruntung.
"Arrrgh!" Erina menjambak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa dirinya menemukan orang yang telah membunuh Ameera sementara dirinya terjebak di tempat bodoh ini.
Harapan satu-satunya adalah sang papa. Erina berharap papanya bisa menggandeng pengacara hebat agar segera bisa membebaskan dirinya. Masa depannya pasti akan hancur jika harus mendekam disini, atau bahkan mungkin Erina tak akan memiliki masa depan lagi.
***
Papa Heri dan mama Sofi duduk menghadap polisi yang menangani kasus kematian Ameera. Seorang pengacara handal turut papa Heri hadirkan untuk membebaskan sang putri.
"Tetap tidak bisa pa, kasusnya terlalu berat. Pasti bapak paham bagaimana hukum bagi seseorang yang telah menghabisi nyawa orang lain. Jika tidak di usut hingga tuntas, bukan tidak mungkin kedepannya akan kembali memakan korban." Tutur sang polisi, berkas yang telah disiapkan oleh pengacara langsung di tolak mentah-mentah.
Lama pengacara memaparkan kejanggalan-kejanggalan dalam kasus pembunuhan Ameera yang memberitakan Erina ini. Semua telah ia terangkan pada polisi sesuai dengan apa yang papa Heri ceritakan. Namun polisi tetap akan menerapkan sistim undang-undang yang berlaku di negara ini. Erina terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. Hanya tinggal menunggu sidang putusannya saja.
Astaga!
***
Albi yang mendengar berita di tangkapnya Erina, secepat kilat pergi ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan, hatinya merasa sangat tak tenang. Perempuan itu pasti sedang ketakutan sekarang. Bagaimana dia bisa melewati ini semua sendirian? Jika bisa, Albi ingin mendampingi Erina di dalam sana. Biarkan mereka di penjara dalam satu sel tahanan yang sama. Albi tidak akan merasa keberatan asalkan dirinya bisa bersama dengan Erina.
__ADS_1
Albi duduk dengan gelisah menunggu Erina yang sedang di jemput petugas. Sudah bertemu dengan orang tuanya Erina juga tadi, namun sepertinya urusan mereka belum selesai sehingga Albi memutuskan untuk menemui Erina terlebih dulu.
"Bi!" Itu suara Erina. Albi beranjak dari duduknya saat melihat Erina berdiri mematung di dekat sebuah pintu yang entah terhubung dengan ruangan apa itu.
"Er!" Albi berjalan menghampirinya, lalu tanpa aba-aba, lali-laki itu langsung membawa tubuh Erina kedalam dekapannya.
Erina menangis sesegukan dalam pelukan Albi. Albi mengusap kepala perempuan itu untuk memberikannya kekuatan.
"Loe jangan takut ya Er. Ada gue. Gue bakalan cari pelakunya sampai dapat. Pegang janji gue." Ucap Albi tepat menembus gendang telinga Erina.
"Tapi gue takut Bi! Gue takut nggak bisa keluar lagi dari sini. Huhuhu." Pecah sudah tangis Erina, dia menumpahkan semuanya dalam pelukan Albi. Albi semakin mempererat pelukannya, menegaskan jika Erina tidak sendirian, ada dirinya yang akan senantiasa berdiri di samping nya.
"Nggak, loe harus yakin kalau loe bakalan bebas. Dan gue juga percaya kalau bukan loe yang udah bunuh Ameera. Kebenaran pasti akan menang pada akhirnya Er!" Seru Albi.
Via datang sedikit terlambat, padahal tadi dia sudah janjian dengan Albi untuk datang.
"Beb!" Seru Via saat melihat Erina yang sedang menangis di dalam dekapan Albi. Jika saja pelukan itu terjadi bukan di tempat menyeramkan ini, mungkin Via akan menjadi orang pertama yang merasa bahagia melihat adegan itu.
"Beb!" Erina melepaskan pelukannya dari Albi, gantian kini ia memeluk sahabatnya yang masih tersisa. Via memeluk Erina tak kalah erat, dia tak bisa membayangkan hari-harinya akan sesuram apa jika Erina sampai harus mendekam disini. Belun sembuh luka Via atas kematian Ameera, di tambah lagi Erina harus masuk penjara.
"Gue nggak mau disini beb. Gue mau pulang." Ucap Erina di sela tangisnya.
"Gue janji beb, gue bakalan seret orang yang udah fitnah loe kayak gini. Gue nggak sanggup kalau harus sendirian beb, cuma loe satu-satunya sahabat yang gue punya sekarang." Kedua perempuan itu kini menangis berjamaah. Hati orang mana yang tak akan sakit jika dipaksa harus berpisah dengan orang yang sangat dekat dengan kita? Tidak ada, semua orang berharap agar hidupnya bisa di penuhi dengan segala kebaikan. Namun sekali lagi, tuhan akan senantiasa memberikan batu sandungan untuk mengangkat derajat manusia itu sendiri.
"Loe nggak akan tinggalin gue kan beb meskipun gue ada di sini sekarang?"
"Nggak beb, sahabat nggak akan saling meninggalkan meski dalam keadaan tersulit sekalipun." Memang sepatutnya seperti itu, sahabat tak akan pergi, kesetiaannya hanya sedang diuji, yang bertahan hingga akhir adalah yang sejati.
Erina merasa beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya. Sirinya berjanji, setelah ia terbebas dari kasus ini, ia tak akan membuat mereka kecewa lagi.
Mereka kemudian tenggelam dalam suasana haru biru yang tercipta. Bibir keduanya memang tak sanggup untuk banyak bicara, namun air mata mampu menjelaskan seberapa besar kesakitan yang tengah menimpa hati mereka.
Albi memperhatikan mereka dan ikut berlarut dalam kesedihannya.
Semoga saja ini tak akan berlangsung lama. Semoga saja Erina bisa segera keluar dari tempat menyeramkan ini.
Dan kini Albi tau apa yang harus ia lakukan untuk membantu Erina keluar dari sel tahanan ini.
___________________
__ADS_1