THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Coklat?


__ADS_3

Sementara Via tak benar-benar pergi ke toilet, dia malah menemui Albi yang sedang bermain basket di lapangan sekolah.


"Bi, sini dulu!" Via melambaikan tangannya ke arah Albi yang sedang mengejar bola. Albi merubah arah larinya jadi menuju Via.


"Kenapa Vi?" Tanya Albi setelah berada di hadapan Via.


"Kita ngobrolnya disana ya!" Via menunjuk ke tempat parkiran.


"Oh ya udah."


Keduanya kini telah berada di parkiran, tempat yang tak terlalu mencolok dan jauh dari pantauan murid-murid.


"Ada apa?" Tanya Albi mengulang pertanyaan.


"Gue boleh tanya sesuatu sama loe?" Malah balik bertanya.


"Tanya aja, kalau gue bisa jawab, gue bakalan jawab." Jawab Albi.


"Loe masih suka kan sama Erina? Loe nggak nyerah gitu aja kan meskipun dia terus-terusan nolak loe dan bersikap ketus ke loe?" Tanya Via.


"Jangan dibahas, bikin sakit hati aja tau." Jawab Albi.


"Nggak. Gue seriusan Bi. Kalau loe beneran suka sama Erina, loe harus hibur dia sekarang. Ini masa-masa tersulit buat dia." Ucap Via.


"Iya, gue tau kok. Gue udah kasih kejutan buat dia. Semoga aja hadiah dari gue bisa sedikit menghibur." Balas Albi.


"Hadiah apa?" Tanya Via kepo.


"Nanti juga loe tau sendiri." Malah main rahasia-rahasiaan. Via tak ingin mendesak Albi lagi. Dia teringat akan misinya untuk menemui Albi saat ini.


"Oh ya, gue ada satu tips buat bikin hati Erina luluh sama loe. Mau dengerin nggak?" Tanya Via kemudian.


"Hah? Serius loe? Apaan?" Albi nampak antusias dengan tawaran menarik dari sahabatnya Erina itu.


"Setau gue, Erina itu suka cowok yang kalem, nggak banyak tingkah dan cenderung cuek. Dia itu ilfil sama cowok yang lebay, suka cari perhatian dan terang-terangan ngejar-ngejar dia. Jadi, disini bisa kita simpulkan kalau loe itu bukan tipe laki-laki yang disukai Erina." Jelas Via panjang lebar. Albi hanya mangut-mangut mendengar penuturan Via.


"Ngerti nggak sih loe apa yang gue omongin?" Tanya Via.

__ADS_1


"Jadi, gue harus gimana sekarang?" Albi malah balik bertanya.


"Yang harus loe lakuin adalah, tarik ulur. Loe ubah sedikit sikap loe yang terang-terangan itu, loe cuekin dia buat beberapa hari kedepan. Si Erina pasti bakalan mikir. Dan gue yakin setelah itu dia pasti merasakan kehilangan loe." Tuturnya kemudian.


Albi tersenyum lebar kali ini.


"Ide loe boleh juga tuh." Ucap Albi sumringah.


"Nah, nanti gue juga bakalan panas-panasin si Erina biar dia keingetan terus sama loe. Gimana? Oke kan?" Tanya Via berbangga diri.


"Oke banget Vi! Thanks ya!" Abi mengacungkan jempolnya ke arah Via sambil berjalan meninggalkan sahabatnya Erina itu.


"Oke. Take care ya!" Setengah berteriak karena Albi mulai menjauh. Via membalas dengan acungan jempol pula. Setelah Albi pergi, Via geleng-geleng kepala. Kemudian menarik kesimpulan jika orang jatuh cinta itu memang gila.


***


Ameera masih tak mau berpaling dari bangku Erina, justru sekarang perbincangan mereka semakin memanas.


"Apa? Jadi semalam si Violla ngelabrak loe ke kost-an?" Tanya Erina di bumbui Emosi, kepalanya sudah memanas dan mengeluarkan kepulan asap. Erina saja yang patah hati karena mereka jadian, masih bisa berpikir jernih. Kenapa Violla dengan mudahnya malah melabrak Ameera.


"Astaga! Jangan bilang dia yang udah gunting rambut loe itu!" Potong Erina.


"Sayangnya memang dia yang ngelakuin ini." Jawab Ameera.


"Terus loe cuma diem aja dia ngelakuin ini semua sama loe?" Erina mulai geram. Padahal Ameera yang mengalaminya saja terlihat bisa berlapang dada.


"Ya mau gimana lagi." Jawab Ameera sambil mengedikan bahu.


"Dia udah keterlaluan Meer. Loe harus laporin kelakuan dia sama bokap loe. Biar dia dihukum dan kapok." Balas Erina.


"Gue udah bosen. Ujung-ujungnya si Violla malah memutar balikan fakta dan gue yang di anggap bandel sama bokap." Ameera terdengar menghembuskan nafas berat.


Obrolan mereka terhenti saat segerombolan murid mulai memasuki kelas. Pelajaran terakhir akan berlangsung kurang dari 5 menit lagi. Via salah satunya. Kemudian diapun duduk tepat di samping Erina.


"Makanya kalau jajan jangan yang pedes-pedes. Jadi mules kan?" Tegur Erina.


"Abisnya enak sih Er. Loe kok nyeramahin gue sih? Loe sendiri kan juga suka jajanan pedes?" Kilah Via.

__ADS_1


"Hehe, iya juga sih." Erina hanya cengengesan. Sedangkan Ameera sudah berbalik menghadap ke depan.


Merekapun saling terdiam, Erina merogoh kolong bangkunya untuk mengambil buku IPA yang tadi pagi ia letakkan disana. IPA adalah mata pelajaran terakhir untuk hari ini.


Saat meraba-raba kolong bangkunya, tak hanya buku pelajaran yang ia dapatkan. Namun ada suara kresek kresek yang berada tepat di atas bukunya. Segera Erina mengeluarkan dua benda itu dari sana sehingga kini berada di atas meja.


Alisnya mengerut saat mendapati sebuah coklat Diary Milk nangkring dengan cantik di atas bukunya. Dengan pita merah yang melingkar di atasnya, lalu sebuah tulisan tangan yang di akhiri dengan emot senyum. SMILE PLEASE. Begitu kira-kira tulisannya.


Sudut bibir Erina tertarik ke atas saat melihat tulisan itu. Dia tau betul siapa yang menaruh coklat itu di kolong bangkunya. Siapa lagi kalau bukan Albi. Selama ini, dia orang yang selalu memberinya kejutan secara diam-diam. Baik itu coklat, bunga ataupun benda-benda kecil yang unik.


Dasar laki-laki itu. Sudah si cueki, diketusi, di marahi. Tetap saja tidak berubah. Ada perasaan tidak tega yang tiba-tiba saja melintas di hati Erina. Erina tau betul bagaimana rasanya di abaikan oleh orang yang kita sukai, itu benar-benar menyakitkan. Maka dari itu Erina ingin orang lain juga meraskan apa yang dirinya rasakan.


Dan Albi menjadi korban keegoisan dirinya. Baru menyadari jika disini Erina dan Albi memiliki nasib yang sama. Cinta mereka sama-sama bertepuk sebelah tangan.


Erina membuka coklat itu, kemudian ia menggigit ujung coklatnya. Terasa manis di lidah. Orang bilang coklat itu mengandung kafein yang bisa membuat mood seseorang menjadi baik.


Erina menoleh ke arah samping belakang sambil mengunyah, terlihat Albi yang tengah melempar senyum ke arahnya. Tanpa sadar Erina membalas senyum itu. Ahh, Entahlah kenapa Erina jadi merasa senang sekarang. Kejutan dari Albi mampu sedikit mengobati luka yang menyayat hati Erina. Padahal selama ini jika Albi memberinya kejutan, reaksinya hanya biasa-biasa saja. Tak ayal Erina selalu memberikan kejutan pemberian Albi itu pada murid lain.


"Beb, loe dapet coklat lagi?" Sontak Erina mengalihkan pandangannya dari Albi pada Via.


"Iya nih. Loe mau?" Jawab Erina dengan mulut yang di penuhi coklat, menyodorkan coklat itu ke hadapan Via.


Jadi yang dimaksud Albi dengan kejutan tadi itu ternyata coklat. Via baru paham.


"Nggak ahh, bekas gigi loe." Tolak Via.


"Alah, biasanya loe juga makan pake sendok bekas gue." Jawab Erina, sekali lagi menggigit coklatnya.


"Tapi kok tumben loe mau makan coklat pemberian dari dia? Biasanya juga loe kasih ke si Dea." Tanya Via sedikit heran. Ada rasa bahagia juga, karena Erina mau sedikit respect terhadap pemberian Albi. Apa mungkin ini suatu pertanda dan awal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya? Semoga saja. Via berharap jika Erina mau membuka hatinya untuk Albi karena Via tau jika Albi adalah laki-laki yang menjunjung tinggi sebuah kesetiaan. Erina pasti akan jadi salah satu yang beruntung jika bisa bersanding dengan Albi.


Namun mata hati Erina begitu buta sehingga tak bisa melihat ketulusan yang Albi miliki.


Bukannya menjawab, Erina malah asyik memakan coklatnya lagi. Kegiatannya baru dia hentikan saat Pak Zian memasuki ruang kelas.


__________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


__ADS_2