THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Mimpi


__ADS_3

Erina menatap gulungan ombak yang berkejaran dan tak bisa diam lalu menabrak batu karang.


Hari hampir senja kala itu, Erina bisa melihat burung camar beriringan terbang entah hendak kemana. Laman berwarna jingga di sebelah barat, di sebelah timur sudah mulai menggelap.


Saat sedang menikmati keindahan alam yang jarang Erina jumpai itu, tiba-tiba saja suara tangisan perempuan tertangkap oleh indra pendengaran Erina. Sepertinya Erina mengenali suara itu. Tapi, dari mana suaranya berasal?


Erina sibuk mencari kesana kesini. Sampailah ia disebuah batu karang. Suara tangisan itu semakin kuat terdengar, Erina semakin yakin jika suara itu berasal dari balik batu karang ini.


Betapa terkejutnya Erina saat mendapati sesosok perempuan berbaju serba putih tengah menangis sesegukan di sana, kakinya dibiarkan menjuntai kebawah batu karang, sesekali kakinya diterpa sang ombak.


Manusiakah itu?


Tapi jika dilihat dari perawakannya, perempuan itu seperti...


"Ameera!" Pekik Erina saat sadar jika perawakannya dan suaranya mirip Ameera.


Bukankah Ameera sudah tiada?


Perempuan itu menoleh, Erina bisa melihat wajah pucat pasi itu sekarang dan dia memanglah Ameera, sahabatnya.


"Meer, loe kenapa?" Tanya Erina dengan bibir gemetar. Antara takut dan penasaran, rasa penasaran Erina yang lebih besar. Namun ketakutannya jiga tak bisa ia sembunyikan.


"Loe jahat Er!" Seru Ameera sambil menatapnya dengan tatapan tajam nan menusuk.


"Bukan gue yang udah bunuh loe Meer!" Ucap Erina ketakutan. Wajar saja, Ameera lebih mirip hantu di film-film sekarang.


"Loe jahat Er! Loe nggak selamatin gue sama bayi gue!" Serunya lagi lalu setelahnya ia kembali menangis tergugu.


"Siapa orang yang hamilin dan udah bunuh loe Meer? Kasih tau gue!" Ucap Erina mendesak.


"Dia!" Jawab Ameera dengan penuh tekanan.


"Dia siapa Meer? Kasih tau gue! Gue udah cape nyari siapa orangnya!" Erina mendesak sekali lagi.


"Dia!" Dia lagi, dia siapa?


"Siapa Meer? Plis kasih gue petunjuk!"


Belum sempat Ameera memberinya jawaban, tubuh sahabatnya itu telah di terjang oleh ombak besar yang menghantam batu karang. Dan seketika Ameera terseret ke tengah laut lalu hilang tergulung ombak itu. Erina menjerit histeris menyaksikan Ameera tubuh Ameera terombang-ambing sebelum akhirnya Erina tak bisa lagi melihat bayangan Ameera lagi.


"Meer! Meera! Ameeraaaaa!"


***


"Ameeraaaaa!"

__ADS_1


"Er! Bangun Er! Kamu mimpi?"


Erina merasakan tepukan kasar di pipi, sukmanya langsung merasuki raga. Seketika Erina membuka mata lebar-lebar, dadanya terlihat kembang kempis, nafasnya tersengal, keringat dingin membanjiri pelipisnya.


Erina berusaha bangkit tidurnya lalu berusaha untuk duduk. Dia menyugar rambutnya yang nampak berantakan.


"Kamu habis mimpi apa Er? Kenapa teriak-teriak manggil nama Ameera?"


Itu suara mama Sofi. Erina baru sadar kalau yang membangunkannya tadi adalah sang mama.


"Erina habis mimpiin Ameera ma." Suaranya terdengar parau


Terdengar helaan nafas mama Sofi. Dia merasa prihatin dengan kasus yang menimpa putrinya itu. Meskipun kini Erina telah berhasil lolos dari jeratan hukum, namun Erina masih belum bisa hidup dengan tenang.


Bayang-bayang peneror dan pelaku pembunuhan Ameera masih menghantui setiap gerak dan langkah kaki Erina.


"Sudahlah Er, mimpi hanya bunga tidur. Mungkin kamu juga terlalu mikirin Ameera sampai kebawa sampai ke alam mimpi." Ucap mama Sofi sambil mengusap puncak kepala Erina.


Erina tak menyahut, masih mencoba mengontrol getaran di hatinya setelah bertemu Ameera di alam mimpi.


"Ya sudah, cepat kamu mandi biar pikirannya jadi tenang. Mama mau ke dapur dulu." Seru mama Sofi kemudian beranjak dan berlalu dari kamar Erina.


"Iya ma!" Balas Erina.


Erina menyambar ponsel yang semalam ia letakan di atas meja belajar.


Satu persatu dari mereka mulai menyahut. Via sepertinya sedang ada di mall, terlihat banyak sekali pakaian yang menggantung di belakang Via. Erina melirik jam weker di atas meja belajar. Pukul 9 pagi, sahabatnya itu pasti sedang jalan bareng doinya.


[Loe kenapa beb? Baru bangun jam segini?] Tanya Via saat melihat wajah sepet Erina.


[Iya, loe lagi dimana itu Bi? Supermarket ya?] Erina beralih bertanya pada Albi.


[Iya nih, gue lagi nemenin nyokap gue belanja bulanan. Emangnya kenapa?] Albi balik bertanya.


[Kalau loe Dev? Loe nggak kemana-mana hari ini?] Semua orang Erina tanyai.


"Iya, gue lagi santai aja di rumah. Ada apa Er?] Jawab dan tanya Devan.


Erina nampak memejamkan matanya sebentar dan menarik nafas sebelum berucap.


[Ameera datangin gue dalam mimpi. Kayaknya gue harus ziarah ke makamnya deh guys. Gue kan belum pernah datang ke sana sejak pertama Ameera meninggal.] Dongeng Erina.


[Sory ya beb. Gue nggak bisa temenin loe, gue bakalan pulang sore kayaknya, gue lagi ada di Bekasi soalnya.] Via.


[Oh ya nggak apa-apa. Albi, Devan kalian bisa temenin gue? Soalnya gue nggak tau Ameera dimakamin dimana.] Erina.

__ADS_1


[Bisa kok Er, setengah jam lagi gue jemput loe ya!] Devan.


Albi melirik ibunya yang sedang memilah milih barang belanjaannya, pasti urusannya tidak akan beres dalam waktu yang cepat. Ibunya itu kalau belanja suka lupa waktu. Sementara Albi tak mungkin membiarkan Erina dan Devan jalan berduaan meskipun hanya ke pemakaman.


[Emm, gue bisa kok tapi kayaknya agak telat, nanti gue nyusul aja deh kesana.] Albi.


[Ya udah, gue tunggu ya Dev!]


***


Pagi menjelang siang itu, Erina dan Devan berjalan bersisian menyusuri pusara yang berjejer dengan rapi dan suasananya damai itu.


Hening, hanya suara burung yang berkicau, sampai akhirnya Erina memecah kebisuan di antara mereka.


"Ternyata gue sahabat yang buruk ya. Sahabatnya meninggal hampir satu bulan, tapi gue baru datang ke pemakamannya sekarang." Erina tersenyum kecut menanggapi perkataannya sendiri.


"Loe nggak buruk kok Er, cuma keadaan yang memaksa loe nggak datang ke acara pemakamannya Ameera waktu itu dan loe terlalu sibuk mencari pelaku yang udah bunuh Ameera sampai-sampai loe belum sempet ziarah." Komentar dari Devan panjang dan juga lebar.


"Apa loe sering datang kesini Dev?" Tanya Erina lagi.


"Nggak terlalu sih Er." Jawabnya.


"Ehh, tunggu dulu!" Devan menahan Erina agar perempuan itu berhenti melangkah.


"Kenapa Dev?" Tanya Erina bingung karena tiba-tiba saja Devan menghalangi jalannya.


"Itu siapa yang lagi di makamnya Ameera?" Devan menunjuk ke arah seorang laki-laki yang sedang duduk terkulai sambil memeluk sebuah nisan. Nisan Ameera kah? Seperti apa yang di katakan Devan? Erina tak tau, karena ini kali pertamanya Erina mengunjungi makam sahabatnya itu.


Posisinya yang membelakangi Erina dan Devan, membuat keduanya tak bisa melihat wajah laki-laki itu.


Dua anak manusia yang baru menetas itu perlahan mendekati gundukan tanah yang konon katanya pusara Ameera.


Semakin dekat, semakin terdengar jelas isak tangis laki-laki yang sepertinya sedang larut dalam kesedihan sampai-sampai dia tak menyadari keberadaan Devan dan Erina yang kini berada tepat di belakangnya.


Taburan bunga nampak masih segar bertebaran di atas gundukan tanah itu.


Gumam-gumam kecil terdengar lirih dari mulutnya namun masih bisa Erina dan Devan dengar dengan cukup jelas.


"Maafin aku Meer, karena aku nggak bisa menjaga kamu dan calon anak kita. Aku benar-benar menyesal telah mengabaikan kalian selama ini." Kemudian laki-laki itu kembali terisak.


Devan dan Erina saking melempar pandangan, dengan kalimat yang laki-laki itu ucapkan, mereka bisa menarik kesimpulan jika yang menghamili Ameera adalah dia.


Devan maju satu langkah, lantas dia menarik kerah kemeja bagian belakang yang di kenakan laki-laki itu. Seketika laki-laki itu jatuh tersungkur kebelakang akibat perbuatan Devan. Sepertinya Devan sedang marah sekarang. Mata keduanya hampir saja keluar dari tempat yang seharusnya saat mengenali wajah laki-laki yang kini duduk terkulai di atas tanah merah itu.


"Iqbal!" Pekik Erina dan Devan secara bersamaan.

__ADS_1


__________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2