
Happy Reading guys...
Erina berlari menuju parkiran untuk menyusul Via, tak terasa sepanjang perjalanan air matanya jatuh bercucuran. Sungguh, perkataan Ameera tadi sudah sangat melukai hatinya.
BUKK!
Tak sengaja Erina menabrak bahu seseorang, dia tak begitu memperhatikan jalan, karena ia sibuk menyusut air matanya seraya menunduk.
"Awww."
Erina dan orang itu sama-sama mengaduh kesakitan, mereka memegangi bahu masing-masing yang terasa ngilu.
Kemudian ia mengangkat kepalanya, menatap siapa orang yang baru saja dia tabrak. Ternyata dia adalah Dea, secepat kilat Erina menyusut pipinya yang sembab dengan asal, tak ingin orang lain melihatnya menangis atau ia akan di olok-olok. Entah kenapa rasanya Erina ingin sekali marah ketika melihat wajah so polos Dea.
"M... Maaf, aku nggak sengaja." Ucap Dea sambil memalingkan pandangannya ke arah lain, sesaat setelah melihat wajah Erina yang sembab.
Apalagi saat mendengar suaranya, Erina serasa menemukan tempat untuk melampiaskan rasa sedih di hatinya karena telah di tuduh yang tidak-tidak oleh Ameera tadi.
"Loe punya mata nggak sih? Kalau jalan itu liat-liat dong! Mata loe di taruh di dengkul apa?" Erina membentak Dea, dia menyalahkan Dea atas kesalahan yang dia buat sendiri. Padahal kan Erina yang berjalan tanpa memperhatikan jalan. Entahlah, mood Erina benar-benar berantakan sekarang. Bentakan dari Ameera masih terngiang di telinganya. Dia ingin orang lain juga merasakan berada di posisinya saat ini, Dea Erina jadikan tempat pelampiasan.
"M... Maaf Er. Aku beneran nggak sengaja." Dengan bibir gemetar Dea bicara, dia tak menatap wajah Erina ketika bicara, entah takut atau apa. Erina sama sekali tak mengerti.
"Udahlah, gue cape berhadapan sama loser kayak loe!"
BUKK!
Setelah mengucapkan kata-kata pedasnya, Erina berlalu pergi, sebelum benar-benar pergi, ia sengaja menyenggol bahu Dea dengan bahunya. Meskipun sedikit ngilu, tapi Erina merasa puas telah memarahi Dea.
Dea memegangi bahunya yang baru saja di senggol Erina, lalu beralih menatap kepergian Erina dengan tatapan yang sulit di artikan.
***
"Beb!" Seru Erina saat melihat Via sedang mengobrol di parkiran. Tak sadar jika yang sedang mengobrol dengan Via adalah Albi, pandangannya berkabut akibat air mata sialan itu.
__ADS_1
"Beb, loe kenapa?" Tanya Via saat melihat Erina yang sedang berlari kecil ke arahnya.
Bugg!
Erina reflek memeluk Via, tumpah lagi air mata di bahu sahabatnya itu, tangisannya kembali berlanjut setelah sempat dia jeda di depan Dea tadi.
"Beb. Huhuhu." Bukannya menjawab, Erina malah semakin kencang menangis.
Albi tercengang saat tiba-tiba Erina datang sambil menangis tersedu-sedu. Hatinya ikut bergemuruh saat mendengar isakan perempuan itu. Albi tak suka melihat air yang keluar dari pelupuk mata indah itu.
"Loe tenang dulu Er. Cerita sama gue ada apa?" Tanya Via sambil mengusap punggung Erina pelan.
"Loe kenapa Er? Siapa orang yang udah bikin loe nangis kayak gini?" Albi tak tahan untuk tidak bertanya, dia menepuk pundak Erina.
Erina melepaskan pelukannya dari Via, kemudian menoleh pada tangan asing yang mendarat di bahunya.
Astaga! Dia baru menyadari jika ternyata itu adalah Albi. Malu, itu yang Erina rasakan saat Albi memergokinya sedang mewek. Lalu, dimana ia harus menyembunyikan wajahnya sekarang? Erina berharap, bumi akan menelannya hidup-hidup saat ini juga.
"Hah? Ada apa? Loe kenapa?" Tanya Via sekali lagi.
"Ameera beb, Ameera." Ucap Erina tak jelas.
"Ameera kenapa? Loe kalau ngomong itu yang jelas dong jangan gantung gitu!" Seru Via yang merasa geregetan pada sahabatnya itu.
Albi memutuskan untuk menyimak dulu, belum berniat untuk angkat bicara.
"Ameera marahin gue barusan. Dia bilang gue penghianat, gue munafik. Dia nuduh gue mau rebut Devan dari dia. Itu semua nggak bener kan beb. Loe tau sendiri kan gimana kerasnya gue berusaha buat... Buat..." Ucap Erina menggantung, sungguh Erina tak sanggup untuk sekedar melanjutkan kata-katanya. Bayangan wajah Ameera yang sedang memarahinya kembali melintas di pikirannya.
"Ameera marahin loe? Gara-gara Devan?" Tanya Albi yang tidak di gubris kedua perempuan itu.
"Apa mungkin perubahan sikap Ameera ke kita itu gara-gara Ameera tau kalau loe suka sama Devan?" Tanya Via kemudian. Albi tidak terima Via berspekulasi seperti itu.
"Ekhm." Albi berdehem untuk mengingatkan jika Erina dan Via tidak berdua saja, Albi masih ada disini.
__ADS_1
"Oke, loe tenang dulu beb. Besok kita bisa bicarakan ini bareng-bareng sama Ameera nya langsung. Kita harus meluruskan kesalah pahaman ini." Ucap Via. Erina mengangguk pelan.
Albi sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Erina. Membuat Erina salah tingkah terus-terusan di tatap seperti itu, apalagi dengan wajahnya yang kusut seperti baju belum di setrika. Sebenarnya, Albi ingin sekali menenangkan perempuan itu, hanya saja disini ada Via, Albi akan merasa canggung untuk menunjukan perhatiannya kepada Erina di hadapan orang lain.
"Mendingan sekarang gue anterin loe pulang dulu deh beb. Nanti biar gue yang coba bicara sama Ameera dan jelasin semuanya, tapi loe nya jangan nangis kayak gitu. Nggak enak banget tau liatnya." Ucap Via.
Lagi-lagi Erina mengangguk. Via kembali menyelah motornya yang sebenarnya tadi sudah di panaskan, entah kenapa Via merasa harus melakukan ini. Sekali-kali mengerjai sahabatnya itu boleh kan? Agar dia bisa sedikit lebih dekat lagi dengan Albi.
"Emm, beb sory ya kayaknya motor gue mogok deh. Loe bisa pulang sendiri dulu nggak? Gue mau bawa motornya ke bengkel dulu." Ucap Via.
"Hah? Motor loe mogok beb? Gue sih nggak apa-apa, bisa naik angkot. Tapi loe gimana bisa bawa motornya ke bengkel sendirian nggak?" Tanya Erina cemas.
"Nanti biar gue minta tolong aja sama satpam buat dorongin. Di sebrang sekolah ini kan ada bengkel." Jawab Via meyakinkan. Erina dengan polosnya mengiyakan perkataan Via.
Albi merasa Via sedang mengelabui Erina dengan berdalil motornya mogok. Padahal Albi tau sendiri kalau motor Via baik-baik saja, tadi juga masih menyala. Namun, ia tak boleh melewatkan kesempatan emas ini, Via memang yang terbaik, dia sangat paham dan mendukung penuh dirinya agar bisa mendekati Erina.
Via mengedipkan sebelah matanya kepada Albi sambil melirik Erina sekilas. Memberi kode. Albi sangat paham dengan gelagat Via ini.
"Loe biar pulang bareng gue aja ya Er." Tawar Albi.
"Rumah kita kan nggak searah Bi." Jawab Erina.
"Nggak apa-apa, itung-itung jalan-jalan. Kalau perlu kita muter, cari jalan ke rumah loe yang paling jauh." Balas Albi di lebih-lebihkan.
"Hah, mau ngapain? Nanti bensin loe habis di tengah jalan baru tau rasa loe!" Ujar Via.
Erina terkekeh mendengar ocehan Via, bisa sedikit mengalihkan rasa sedih di hatinya.
Akhirnya, setelah melewati drama singkat itu, Erina mau di antar pulang oleh Albi. Sebelum melesat, Albi melirik kearah Via sambil mengacungkan jempolnya. Memberi kode untuk mengapresiasi pekerjaan Via yang sangat luar biasa ini.
Via tersenyum-senyum sendiri melihat mereka boncengan. Terlihat sangat manis sekali. Kalau mereka benar-benar jadian, maka Via akan jadi penggemar pasangan itu.
Ternyata Dea tak benar-benar pergi, setelah Erina meninggalkannya tadi, Dea memilih untuk memperhatikan mereka dari jarak radius 20 meter.
__ADS_1
__________________
Lanjut besok ya...