
Via menoleh pada dua perempuan berbeda generasi yang berdiri tepat di belakang ayah Ameera. Mereka adalah Violla dan ibunya.
Via tak melihat ada kesedihan di wajah kedua perempuan itu. Justru senyum penuh kemenangan yang mereka tunjukkan.
Jangan bilang ini ulah mereka!
Kemudian Via beranjak, menghampiri Albi yang berdiri di antara pelayat.
"Kita harus ke rumah Erina sekarang Bi!" Ucap Via.
Albi bergeming sambil menatap kosong ke arah makam Ameera. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu sekarang.
Dahi Via mengerut saat tak mendapat respon apapun dari Albi. Kemudian dia memukul lengan Albi cukup keras hingga Albi tersadar dari lamunannya.
"Loe kok diem aja sih Bi?!" Ucap Via sedikit kesal. Satu hal yang Via takutkan, kalau Albi perlahan-lahan mundur untuk memperjuangkan cintanya pada Erina karena sahabatnya itu sedang tersandung kasus pembunuhan.
"Nggak kenapa-napa kok." Jawab Albi.
"Bentar deh Bi. Gue kok curiga ya sama loe." Wajah sembab Via menatap Albi penuh selidik.
"Curiga apa sih Vi?" Kini giliran Albi yang kesal dengan perkataan Via yang seakan mengintimidasi dirinya.
"Loe nggak bakalan jauhin Erina gara-gara sekarang dia jadi tersangka kasus ini kan?" Tanya Via sambil menuding di depan wajah Albi.
"Loe pikir rasa gue sama Erina itu cuma sebesar biji selasih? Nggak Vi, gue bakalan tetap mempertahankan apa yang udah gue perjuangkan selama ini." Jawab Albi dengan mantap.
"Bagus. Jangan kecewain gue karena udah kasih dukungan penuh buat loe deket sama Erina. Kita harus bersatu buat suport dia Bi. Kita kerumahnya ya. Karena gue dapet info dia ada di rumah sekarang." Ucap Via.
Albi mengangguk samar, kemudian mereka berdua berjalan meninggalkan area pemakaman. Mereka pergi menuju rumah Erina menggunakan motor masing-masing.
***
Erina masih syok dengan apa yang terjadi di dalam hidupnya. Dalam sekejap mata, awan putih yang senantiasa menghiasi hari-harinya kini berubah menjadi gelap. Kabut tebal terasa menghalangi jarak pandangnya.
Perempuan itu termenung sendiri di kamarnya. Kilas balik tentang kejadian semalam berkelebatan di dalam pikiran Erina. Saat Ameera menelponnya dan mengatakan kalau dia tau siapa orang yang telah meneror Erina selama ini, meminta Erina untuk datang. Lalu dengan cepatnya Erina meluncur ke kost-an Ameera.
Yang paling melekat di dalam ingatannya adalah ketika dia menemukan tubuh Ameera telah terbujur kaku dan bersimbah darah sambil menahan kesakitan.
Astaga!
Itu adalah pertama kalinya Erina menyaksikan seseorang sedang dalam keadaan sekarat, dan itu tak lain dan tak bukan adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Bagaimana Erina bisa lupa setiap detik yang berlalu malam itu terasa sangat menegangkan, saat dirinya tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan nyawa Ameera.
Andai saja waktu bisa di putar ulang, Erina akan bergerak lebih cepat untuk tiba di kostan Ameera, mungkin hidup Ameera takan berakhir malam itu dan dia pasti telah mengetahui siapa orang yang telah menerornya selama ini.
Erina mengusap wajahnya frustasi. Membayangkan saat-saat itu membuat hatinya kian sedih. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk terbebas dari masalah ini? Dan bagaimana dia bisa membuktikan jika dirinya tidak bersalah sementara sidik jarinya ada di pisau itu?
__ADS_1
Krek!
Ditengah suasana panas yang memenuhi kamar Erina, suara decitan pintu terdengar. Lalu munculah sosok malaikat tak bersayap, mama Sofi. Terlihat dia berjalan mendekat ke arah Erina sambil membawa piring berisikan nasi dan lauknya.
"Er, kamu makan dulu ya!" Ucapnya kemudian menaruh piring itu di atas meja belajar.
"Erina nggak lapar ma." Menjawab lesu.
"Kamu nggak boleh gitu Er, nanti kalau sakit gimana?" Tanya mama Sofi. Erina tak menjawan.
"Jangan terlalu di pikirkan Er, Papa lagi mencari solusi terbaik buat kita bisa keluar dari masalah ini. Papa kamu juga balalan memyewa pengacara terbaik di kota ini buat nanganin kasus kamu ini." Ucap mama Sofi.
"Bukan masalah itu ma. Cuma Erina masih nggak nyangka aja. Ini Ameera lho ma yang meninggal. Ini pertama kalinya Erina ditinggalin sama orang terdeket Erina. Rasanya itu aneh ma, susah buat jelasinnya." Ucap Erina.
"Mama paham kok Er, mama pernah merasakannya waktu kakek sama nenek kamu meninggal."
Ting... Nong... (Anggap saja suara bel).
"Kamu makan ya, mama mau liat dulu siapa yang datang." Mama Sofi beranjak dan pergi keluar dari kamar.
Erina hanya melirik sekilas pada isi piring yag tadi bawakan oleh sang mama. Namun sama sekali tak ada niatan untuk menyentuhnya. Selera makannya memburuk, bau amis darah Ameera masih menempel di indra penciuman Erina sehingga perutnya terasa mual saat melihat makanan.
Pintu yang tak tertutup dengan sempurna perlahan terdorong masuk ke dalam. Dan saat pintu telah terbuka lebar, nampak lah dua orang berpakaian serba hitam berdiri mematung di ambang pintu.
"Beb!" Seru Erina.
"Ameera udah nggak ada lagi beb. dia ninggalin kita buat selamanya." Ucap Via ditengah isak tangisnya.
"Dia tega sama gue, dia pergi dengan ninggalin semua kesalah pahaman ini huhuhu." Erina menangis tergugu. Lelah rasanya semalaman ia menahan agar air matanya tak jatuh dan menetes, namun akhirnya sekarang air mata sialan itu tumpah juga di bahu Via.
"Gue yakin kalau loe bukan pelakunya beb. Kita harus cari orang yang udah bunuh Ameera sampai dapat." Seru Via. Erina mengangguk pelan pertanda setuju dengan perkataan Via.
Ini yang Albi takutkan saat bertemu dengan Erina. Hatinya lemah ketika melihat lelehan air mata yang membanjiri wajah perempuan itu.
Albi tidak suka melihat Erina menangis seperti itu, dia hanya ingin melihat senyum di wajah perempuan itu. Jikapun ada air mata, Albi ingin itu adalah air mata kebahagiaan.
"Gue percaya kok Er, kalau bukan loe pelakunya." Ucap Albi tiba-tiba.
Erina yang mendengar itu, mengusap pipinya yang basah kemudian melepaskan pelukannya dan Via.
"Makasih Bi loe udah mau percaya sama gue. Itu berarti banget buat gue sekarang." Balas Erina.
Via sadar akan satu hal saat menatap Albi, sepertinya laki-laki itu butuh waktu untuk bicara berdua dengan sahabatnya itu. Baiklah.
"Emm, beb tunggu sebentar ya. Gue mau ketemu dulu sama nyokap loe, tadi dia bilang mau bicara sama gue." Ucap Via.
__ADS_1
"Iya beb." Balas Erina.
Albi mengerutkan dahi, seperti ada yang janggal. Tadi saat datang, Albi tak mendengar mamanya Erina ingin bicara dengan Via.
Via beranjak dari duduknya, sebelum pergi dia menepuk bahu Albi seperti memberi kode dengan mengedipkan sebelah matanya.
Ahh, Albi baru paham sekarang. Via memberikannya kesempatan untuk bicara berdua dengan Erina.
Dia mengangguk samar sambil mengulum senyum. Meskipun sebenarnya dia tidak sedang ingin tersenyum.
Tinggal Erina dan Albi berdua di kamar itu. Albi tak membuang kesempatan yang ada, dia duduk di kursi meja belajar tepat di hadapan Erina.
"Kalau loe mau nangis, nangis aja Er. nggak apa-apa kok. Tapi loe harus janji sama gue, setelah ini loe jangan nangis lagi. Gue tau loe perempuan yang kuat, loe pasti bisa melalui masalah ini dengan baik." Albi berkata sambil netranya tak beralih dari wajah Erina. Erina yang ditatap seperti itu sedikit merasa grogi. Malu juga, pasti wajahnya sangat tidak enak di lihat sekarang.
"Gue cuma nggak nyangka aja Bi. Ameera udah nggak ada sekarang, dan gue yang di tuduh udah bunuh dia. Kalau loe jadi gue apa loe nggak sedih?" Jawab Erina, air matanya tumpah lagi saat tadi sudah mulai surut.
"Gue pasti sama kayak loe kok, gue bakalan sedih banget. Tapi kematian itu nggak bisa kita hindari, loe, gue, semuanya pasti bakal melalui yang namanya kematian. Cuma dengan cara yang berbeda-beda dan waktu yang nggak pernah kita tau." Ucap Albi.
Erina terdiam, masih sibuk menyusut pipinya yang basah.
"Udah jangan nangis lagi." Albi membantu Erina menyusut pipi Erina menggunakan jari-jarinya.
Erina tertegun dengan apa yang dilakukan Albi. Itu tangan pertama yang membantu Erina mengusap perih yang dia rasakan. Bahkan Via, sahabatnya tidak melakukan itu, Via sama rapuhnya dengan Erina.
Albi menurunkan tangannya saat sadar jika perbuatannya ini terlalu lancang. Takut Erina merasa tidak nyaman dengan apa yang ia lakukan.
"Ameera memang udah nggak ada. Tapi disini masih ada gue, gue yang bakalan gantiin posisi Ameera di hati loe. Kalau loe izinkan, gue mau lebih dari itu." Sambungnya lirih.
Deg!
Hati Erina bergetar, merasa ada orang yang benar-benar perduli dan menguatkan hatinya saat sedang terpuruk seperti ini. Perkataan Albi mampu membuat Erina membuka mata hatinya, kalau dunia tidak berhenti berputar ketika kita kehilangan seseorang. Kita harus bertahan untuk orang-orang yang masih tersisa di hidup kita.
"Iya Bi, gue janji, setelah ini gue nggak bakalan nangis lagi. Gue nggak mau jadi Erina yang cengeng. Gue bakalan buktiin ke semua orang kalau bukan gue pelakunya." Ucap Erina termotivasi dengan perkataan Albi. Kemudian bibirnya memaksakan untuk tersenyum.
"Nah, itu yang gue suka dari loe. Loe yang semangat, loe yang ceria dan selalu tersenyum." Albi membalas senyum Erina.
Erina menunduk malu saat Albi mengatakan jika dia menyukai Erina.
Hey, kenapa ini? Bukankah dulu Erina paling ilfil ketika Albi mengutarakan perasaannya? Tapi kenapa sekarang rasanya jadi berbeda?
"Jadi, apa rencana loe selanjutnya Er?" Tanya Albi membuyarkan lamunan singkat Erina.
"Gue nggak tau Bi, gue juga bingung." Jawab Erina.
"Apa ada seseorang yang loe curigai dan punya kemungkinan besar ngelakuin ini ke Ameera?"
__ADS_1
_________________
Lanjut nanti ya...