
Kini, empat anak remaja itu sudah ada di sepan ruang penyimpanan data murid. Suasana sekolah juga mulai sepi karena murid-murid sudah pulang sedari tadi. Tinggal mereka anak-anak nakal yang nekad untuk menyusup masuk ke ruangan privasi sekolah itu demi menemukan sedikitnya petunjuk tentang siapa adik tiri Erina yang konon katanya juga sekolah di Bina Muda ini.
"Oke, sesuai dengan apa yang tadi gue bilang. Loe tunggu disini dan awasi situasinya, kalau ada orang yang mau masuk kedalam loe kasih kode sama kita. Gue, Via sama Erina masuk kedalam dan cari data murid-murid seangkatan kita." Ucap Devan mengulangi arahannya tadi.
"Apa? Kenapa gue yang harus jaga di luar?" Protes Albi yang tidak menyimak dengan baik saat Devan membagi tugas tadi.
"Iya, kan tadi semua udah pada setuju." Jawab Devan.
"Nggak bisa nggak bisa. Gue harus ikut masuk ke dalam, loe yang tunggu di sini." Albi merubah strategi awal.
"Nggak bisa dong, itu udah jadi kesepakatan kita dari awal. Lagian kan ini ide gue, jadi loe harus nurut apa kata gue." Balas Devan yang membuat Albi geram.
Benar-benar ya ini anak!
"Loe!" Albi menuding dengan geram ke arah Devan. Kalau tidak ingat dirinya berada disini karena Erina, mungkin Albi sudah menghajar wajah mulusnya si Devan itu.
"Udah stop! Kalian ini kenapa sih ribut terus kerjaannya? Kapan kita bergeraknya kalau kalian kayak gini terus?" Erina yang sudah geram mulai angkat bicara.
"Nggak tau, jangan terlalu benci loe sama si Devan Bi, nanti bisa-bisa loe jatuh cinta lagi. Hihi." Celetuk Via sambil cekikikan tidak jelas. Dalam situasi seperti ini juga masih sempat-sempatnya berkelakar yang sama sekali tak ada lucu-lucunya.
"What? Loe ngomong apa sih Vi? Gue masih normal kali. Nggak tau deh dia." Albi melirik Devan, yang dilirik melempar tatapan aneh kepada Albi.
Sebenarnya, ada masalah apa sih si Albi ini dengan dirinya? Padahal sebelum ini mereka cukup akrab, sering terlibat nongkrong bareng, bahkan mereka satu tim basket pula.
Devan baru paham, si Albi kan menyukai Erina. Bukan tidak mungkin si Albi ini merasa tersaingi dan cemburu jika Erina dekat-dekat dengan dirinya. Indra pendengaran Devan masih berfungsi dengan normal, gosip yang beredar di kalangan anak-anak sekolah pernah jatuh mengenai telinganya kalau Erina menyukai dirinya.
Bolehlah membuat hati anak orang sedikit kegerahan atau mungkin kebakaran. Lumayan, hitung-hitung untuk hiburan. Begitu Devan berpikir.
"Udah gini aja, biar cepet, gue yang jaga di sini, kalian bertiga cari kedalam. Tapi jangan lama-lama, gue takut ketauan. Oke!" Via yang bijak, dia sedikit mengalah saat firasatnya mengatakan kalau perdebatan diantara Albi dan Devan tidak akan ada ujungnya.
Akhirnya mereka sepakat kalau Via yang akan berjaga diluar, sedangkan yang masuk ke dalam adalah Erina, Albi dan Devan.
***
Setelah ketiga anggota timnya masuk kedalam ruang penyimpanan data itu, Via mengedarkan pandangannya ke kanan lalu ke kiri untuk memastikan kalau tidak ada orang yang akan melintas.
__ADS_1
Sampai sejauh ini, keadaannya masih terpantau aman. Sementara itu, di dalam ruang penyimpanan data keadaannya sedikit tidak baik-baik saja.
Begini kisahnya...
Erina menatap rak-rak yang berdiri tegak memenuhi ruangan itu dengan mulut yang membulat. Dia pikir, dari mana dia harus memulai pencariannya, mengingat banyaknya data murid yang pernah dan masih bersekolah di SMA BINA MUDA, semua data tentang murid-murid di simpan dengan rapi di tempat ini.
Devan masih menyusuri satu persatu rak, saat tiba-tiba Albi bicara.
"Kita cari di tahun angkatan kita, sekitar tahun 2015-2016an." Seru Albi.
"Iya, gue belum nemu. Kayaknya rak ini isinya data alumni." Ucap Devan. Albi ikut memeriksa rak lain.
"Ini bukan juga, ini data adik kelas." Tutur Albi.
"Bi, Dev! Sini. Di rak ini ada datanya si Cellin." Celetuk Erina. Albi dan Devan langsung berhambur menghampiri Erina.
"Cellin anak kelas kita? Berarti di rak ini berisi data-data murid seangkatan kita. Ayo kita cek satu persatu!" Ujar Devan.
"Iya, coba kita fokus di rak ini aja dulu." Seru Erina.
"Ya." Ucap Albi. Merekapun mulai membuka satu persatu map yang berisikan data diri murid seangkatan dengan mereka. Bahkan Albi menemukan map yang berisikan data diri Erina disana. Albi skip saja, kemudian dia beralih pada map selanjutnya, hanya membaca nama ibu kandung yang tertera di sana saja biar cepat dan mengirit waktu juga. Setelah beberapa map yang ia buka, namun Albi tak menemukan nama yang ia cari. Albi menutup map yang terakhir kali ia buka. Kemudian ia letakan kembali pada rak penyimpanan.
Astaga!
Ini tak bisa di biarkan. Segera Albi hampiri dan menjadi penengah di antara mereka. Devan sedikit tersungkur karena tiba-tiba saja Albi datang dan menimbrung.
"Apaan sih loe bro!" Seru Devan, bahkan map yang tadi dia pegang mendadak terjatuh karena ulah Albi itu, segera Devan memungutnya.
"Kenapa Bi?" Tanya Erina saat tiba-tiba saja Albi memangkas jarak antara dirinya dan Devan.
"Loe udan dapat belum Er?" Albi balik bertanya, mengabaikan Devan yang berdecak kesal sambil bersungut-sungut.
"Belum, loe udah ada?" Jawab dan Tanya Erina.
"Belum juga, loe udah nemuin datanya si Dea belum? Kita harus utamain orang masuk list tersangka kita." Ujar Albi.
__ADS_1
"Iya loe bener. Tapi gue belum nemuin punya si Dea. Ini data kayaknya di random deh, setiap map namanya nggak berurutan." Balas Erina.
"Ayo kita cari lagi!"
Merekapun melanjutkan pencarian, saat tengah serius-seriusnya, tiba-tiba saja...
"Awwwh!" Erina merintih saat debu yang menempel pada salah satu map yang hendak ia ambil malah berterbangan dan masuk ke dalam matanya. Reflek Erina mengucek matanya.
"Jangan dikucek Er!" Seru Albi yang berada tepat di sampingnya, dia langsung menurunkan tangan Erina yang memegangi matanya.
"Perih Bi!" Ucap Erina.
"Buka mata loe biar gue tiup!" Perlahan Erina membuka kedua matanya. Albi bisa melihat mata indah milik Erina sesikit memerah dan berair. Dia membuka lebar-lebar mata Erina menggunakam jarinya, kemudian dengan lembut dia mulai meniupnya.
Erina bisa merasakan hembusan nafas Albi yang terasa segar, entah laki-laki itu memakai pasta gigi apa sehingga wanginya se-khas ini.
Devan yang melihat tatapan mereka terkunci dalam satu titik, merasa sedikit kegerahan. Bukankah niat awalnya Devan yang ingin membuat si Albi kepanasan? Tapi kenapa sekaran dirinya yang malah jadi kebakaran? Apalagi saat melihat Erina yang semakin lama semakin mirip dengan Ameera.
Ahh, entahlah, Devan sendiri merasa bingung, kenapa dia bisa selalu teringat Ameera saat melihat Erina. Padahal jelas-jelas mereka adalah dua perempuan yang berbeda meskipun menurur Devan ada persamaan antara tatapan mata Erina dengan Ameera.
"Makasih Bi. Udah nggak perih lagi kok." Erina lantas menarik wajah lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, jangan sampai Albi mendengar detak jantungnya yang dag dig dug tak karuan saat merasa tatapan Albi begitu menusuk dan menembus hingga ke mata hatinya.
"Beneran udah nggak apa-apa Er?" Tanya Albi yang masih merasa khawatir. Erina mengangguk mantap.
Devan cepat-cepat mengalihkan pandangannya, tak ingin Erina apalagi Albi tau kalau sedari tadi dirinya memantau gerak-gerik mereka.
"Loe udah dapet belum Dev?" Tanya Erina.
"Belum Er!" Jawab Devan.
***
"Mati gue!" Via menepuk keningnya sendiri saat melihat satpam yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Sedang apa kamu? Kenapa jam segini belum pulang?" Tanya si satpam yang tau-tau sudah ada di hadapan Via sebelum perempuan itu sempat bersembunyi.
__ADS_1
__________________
Lanjut nanti siang ya guys, jangan lupa like dan komentari dulu bagian yang ini...