
"Iqbal!" Pekik Erina dan Devan secara bersamaan.
Laki-laki yang bersedih di depan pusara Ameera yang ternyata adalah Iqbal itu nampak terkejut saat melihat Erina dan Devan kini ada di hadapannya.
"Jadi loe yang udah hamilin Ameera?" Erina berteriak sambil menuding ke arah Iqbal.
"Ternyata loe laki-laki bajingan yang udah selingkuh sama Ameera?! HAH?" Bentak Devan tepat di depan wajah Iqbal, bahkan Devan harus membukukan badannya untuk menyamai posisi lawan bicaranya itu, dia juga mencengkram kerah kemeja Iqbal sekarang.
Erina yang masih syok dengan fakta yang baru ia ketahui ini, hanya diam mematung di tempatnya, perempuan itu benar-benar terkejut. Ternyata orang yang telah menyakiti Ameera adalah orang yang tak pernah ia sangka sebelumnya.
Apalagi saat melihat kemarahan Devan yang sepertinya sudah sampai ke ubun-ubun, membuat Erina diam dan tak berkutik, takut kena getahnya. Iqbal memang pantas mendapat pelajaran setelah apa yang ia lakukan terhadap Ameera.
"Sory Dev!" Dua kata yang keluar dari mulut Iqbal semakin memancing amarah Devan, laki-laki itu meninju wajah Iqbal dengan kepalan tangannya.
Iqbal nampak tak melawan, dia meringis sambil memegangi pipinya yang terasa nyeri. Ada darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Erina membulatkan mata dan mulutnya saat Devan main hakim sendiri. Apa yang harus Erina lakukan dalam situasi seperti ini? Perempuan itu bingung, padahal sebelumnya dia begitu menggebu-gebu, dia sudah punya banyak rencana apa saja yang akan ia lakukan kepada pelakunya. Tapi saat pelakunya sudah ada di depan mata, rencana Erina entah berterbangan kemana.
"Dasar brengsek loe Bal, selama ini loe cuma diem aja dan nggak berniat ngakuin kesalahan loe sama gue? Sama keluarganya Ameera? Dasar pengecut, bajingan loe!" Devan menarik tubuh Iqbal agar laki-laki itu bangkit masih dengan mencengkram kerah kemejanya.
"Gue memang brengsek Dev, pukul gue sesuka hati loe!" Seru Iqbal, bahkan dia menyodorkan wajahnya pada Devan, minta di hajar.
Sepertinya Iqbal merasa sangat bersalah, Erina bisa menangkap penyesalan di wajah laki-laki itu.
"Loe memang pantes di hajar setelah apa yang udah loe lakuin ke gue sama Ameera!" Devan hendak melayangkan lagi bogeman mentahnya.
Sudah cukup. Masalahnya tidak akan selesai hanya dengan Devan menghajar Iqbal. Erina seketika tersadar, ini harus di hentikan. Erina akan menyeret Iqbal ke kantor polisi dan menyuruh dia mengakui semua perbuatannya agar nama Erina kembali bersih.
"Udah Dev! Cukup!" Erina berusaha menjadi penghalang antara Devan dan Iqbal.
BUKK!
"Awwwwh." Erina memegangi pipinya yang terasa ngilu sesaat setelah Devan menghajar pipinya. Devan meninju pipinya dengan sangat keras.
Devan membulatkan mata setelah kepalan tangannya malah mendarat di pipi Erina, padahalkan niatnya ingin memukul Iqbal. Erina malah datang dan menghalangi jadilah perempuan itu yang kena.
"Astaga Er, sory! Gue nggak sengaja mukul loe!" Ucap Devan khawatir, dia memeriksa pipi Erina yang masih dipegangi pemiliknya.
"Sakit tau Dev!" Erina tak tau selebam apa pipinya sekarang, Devan memukulnya dengan kekuatan penuh. Perempuan itu meringis menahan kesakitan.
Iqbal juga nampak memegangi pipinya yang sakit, laki-laki itu sama sekali tak berniat untuk kabur. Dia tak bisa lagi menghindar dari masalah ini, perasaan bersalah dan bayang-bayang wajah Ameera terus saja menghantui. Atau selamanya hidupnya takkan pernah bisa tenang.
__ADS_1
"Coba gue liat!" Perlahan Devan menyingkirkan tangan Erina, lalu bisa dia lihat dengan jelas pipi Erina yang kini sudah membiru akibat perbuatannya.
"Sakit Er? Gue bener-bener nggak sengaja sumpah!" Devan mengelus-ngelus pipi Erina, siapa tau saja dengan cara seperti itu bisa mengurangi rasa sakit di pipi perempuan itu.
Namun nyatanya, lagi-lagi Devan harus berhadapan dengan mata teduh itu. Kemarahan di dalam diri Devan seolah senyap saat menatap mata itu.
"Er, sory gue... Telat."
Albi yang baru tiba, langsung di suguhi dengan pemandangan yang menyesakkan dada. Ini bukan kali pertama dirinya melihat Devan menatap Erina dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan itu.
Erina terkesiap saat mendengar suara Albi, cepat-cepat dia menepis tangan Devan yang masih memegangi pipinya. Lalu beralih menatap Albi.
"Bi, iya nggak apa-apa, gue juga baru sampai." Ucap Erina. Albi mengangguk paham. Sepertinya dia harus segera bertindak sebelum keduluan Devan. Urusan ditolak, itu belakangan.
Sedangkan Devan masih berusaha untuk kembali menguasai dirinya setelah dipenuhi Emosi dan gejolak aneh saat menatap Erina.
"Bal, loe disini juga?" Albi baru ngeh kalau Iqbal ada disana juga.
"Dia yang udah hamilin Ameera Bi!" Erina mengadu pada Albi.
"Apa?"
***
"Gue sama Ameera saling mencintai." Perkataan Iqbal mancing emosi Devan lagi.
"Ameera cintanya sama gue! Loe pasti yang udah perkosa dia!" Sentak Devan.
"Nggak Dev, sumpah, kita ngelakuinnya atas dasar suka sama suka." Iqbal membela diri.
"Kalau loe cinta sama Ameera, kenapa loe bunuh dia?" Tanya Erina.
"Kenapa loe malah nuduh gue? Loe nggak tau duduk permasalahanya mendingan diem aja, dan jangan sembarangan nuduh!" Tanya Iqbal.
"Astaga! Gimana gue mau diem aja? Sedangkan gue disini yang jadi tersangkanya." Sentak Erina yang kini emosinya juga mulai tersulut.
"Bukannya emang loe yang bunuh Ameera, kenapa loe malah nuduh gue?" Ucap Iqbal.
"Gue udah berkoar koar dari timur ke barat, dari selatan ke utara kalau bukan gue yang bunuh Ameera. Apa loe budeg?" Sinis Erina.
"Berarti loe juga yang udah nerror gue selama ini. Iya kan? Ngaku loe Bal!" Erina menuding. Sedangkan Iqbal terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Buat apa gue nerror loe?" Tanya Iqbal.
"Karena loe adalah adik tiri gue, loe anaknya Devi. Dan loe mau balas dendam kan sama keluarga gue?" Ucap Erina dengan nada tinggi.
Albi dan Devan semakin menajamkan pandangannya kepada Iqbal. Ada benarnya juga perkataan Erina.
"Mana ada gue adik tiri loe, umur gue aja lebih tua dari loe." Iqbal menyangkal.
"Iya juga sih. Tapi bisa aja kan loe memalsukan identitas?" Selidik Erina.
"Bisa aja sih. Tapi... Eh, nggak ada, gue nggak pernah nerror nerror loe."
"Terus siapa yang nerror gue dan yang udah bunuh Ameera kalau bukan loe?"
Iqbal terdiam, sebelum akhirnya dia kembali buka suara.
"Apa jangan-jangan Ameera bunuh diri karena dia nggak mau hamil anak gue?" Tanya Iqbal yang sontak mendapat tentangan keras dari Erina.
"Nggak nggak, ada orang yang udah sengaja bunuh Ameera. Waktu Ameera telfon gue, dia bilang kalau dia udah tau siapa orang yang nerror gue selama ini dan dia juga bilang kalau dia lagi di intai sama orang itu. Jadi nggak mungkin Ameera bunuh diri. Orang yang udah bunuh Ameera itu sama sama orang yang nerror gue." Terang Erina panjang lebar.
"Ya terus siapa orangnya?" Tanya Iqbal.
"Loe pasti lagi bohong Bal, loe takut kalau kita seret loe ke kantor polisi kan? Mendingan loe sekarang jujur dan serahin diri loe ke polisi, hidup loe nggak bakalan tenang. Kasihan Erina yang nggak bersalah harus nanggung akibatnya. Atau seenggaknya loe minta maaf sama keluarganya dan bersihin nama Erina. Karena keluarga Ameera juga kan udah narik tuntutannya." Ucapan Albi terlampau panjang.
"Loe ngomong apa sih Bi? Oke gue memang udah hamilin Ameera, tapi gue bersumpah kalau gue nggak bunuh dia. Gue cinta sama Ameera, mana mungkin gue setega itu ngehabisin nyawa dia? Gue udah berencana bakalan nikahin dia setelah kita lulus. Tapi ternyata, Ameera udah pergi duluan." Wajah lebam Iqbal kembali jadi sendu. Entahlah itu di buat-buat atau memang dia benar-benar sedang bersedih.
Erina teringat akan benda yang waktu itu ia temukan di kamar Ameera. Diapun merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan selembar foto.
"Berarti ini foto Ameera sama loe kan?" Erina menunjukkan foto itu pada Iqbal. Iqbal mengangguk pertanda mengiyakan perkataan Erina.
Albi memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kalau Iqbal menyangkal bukan dia yang telah menghabisi nyawa Ameera lantas siapa lagi? Sedangkan mamanya Violla juga ternyat la bukan Devi.
Devanpun sama, entahlah dia merasa sedih atau tidak setelah mendengar lengakuan Iqbal. Rasa kecewa lebih dominan sebab dirinya ternyata sudah diselingkuhi oleh Ameera, di tukung pula oleh Iqbal.
"Ceritain dari awal, sejak kapan loe sama Ameera punya hubungan?! Kenapa gue sama Via sampai nggak tau kalau kalian ternyata backstreet" Seru Erina.
Iqbal nampak menarik nafas sebelum akhirnya laki-laki itu berucap.
"Semuanya berawal waktu kita duduk di kelas X..."
_________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....
Setelah ini flash backnya Ameera dulu ya...