
Semua orang yang tengah bergulat di ruang tamu rumah Erina seketika menghentikan kegiatan tak terpuji itu saat tiba-tiba saja kepulan asap memenuhi ruangan, tak berselang lama api berkobar menyambar setiap sudut ruangan yang sebelumnya preman siram dengan minyak tanah.
"Kebakaraaaan." Mereka semua kalang kabut mencari jalan keluar. Namun sayang, pintu juga habis di lahap si jago merah.
Albi, Devan dan juga Iqbal tercengang dengan situasi ini.
"Erina! Er! Loe dimana Er?" Bukannya memikirkan keselamatannya, Albi malah mengkhawatirkan keadaan Erina. Dia berjalan dan masuk lebih dalam menyusuri rumah Erina meskipun kobaran api semakin membesar.
Devan dan Iqbal mencegah Albi yang hendak menerobos api.
"Loe jangan gila Bi. Apinya semakin besar, kita harus menyelamatkan diri." Seru Iqbal sambil menahan lengan sebelah kiri Albi
"Loe yang gila. Kalau terjadi apa-apa sama Erina gimana? HAH? Gue harus selamatin dia dulu!" Tak sadar Albi menyentak Iqbal.
"Iqbal bener Bi. Lebih baik kita keluar sekarang sebelum kita ikut hangus kebakar." Imbuh Devan, dia memegangi tangan kanan Albi.
"Gue yang bakalan jadi gila kalau Erina kenapa-napa." Albi berontak dan bersikeras untuk mencari keberadaan Erina.
Satu persatu preman keluar melalui jendela yang tadi kacanya di pecahkan Albi, beruntung mereka tidak menyirami bagian itu dengan minyak tanah juga sehingga api belum menjalar hingga ke sana. Kalau tidak, mungkin mereka benar-benar akan terjebak di tempat itu dan ikut terbakar.
DUAAAAAR!!
Suara ledakan terdengar dari arah dapur. Sepertinya api mengenai tabung gas sehingga tabung gas meledak. Albi, Devan dan Iqbal jatuh tersungkur saat rumah itu bergetar hebat seiring dengan suara ledakan tadi.
Ketiga laki-laki itu terbatuk-batuk, saluran pernafasan mereka terganggu akibat menghirup banyak asap.
"Kita harus cabut sekarang, uhuk!" Seru Iqbal, Devan mengangguk setuju juga sambil terbatuk. Namun tidak dengan Albi.
"Kalian kalau mau keluar keluar aja. Gue mau cari Erina." Albi kemudian berusaha untuk bangkit dari jatuhnya.
"Nggak Bi. Kita harus keluar bareng-bareng. Loe nggak denger tadi ada suara ledakan. HAH?" Devan geram karena Albi tak mau menurut.
Cinta sih cinta, tapi akal sehat harus di gunakan juga kali. Masa iya sampai harus mengorbankan nyawa?
"Devan bener Bi, gue nggak mau mati konyol disini."
BUKKK!
"Awaaas!"
__ADS_1
Iqbal beringsut mundur saat sadar jika puing-puing bangunan yang terbakar api hampir saja menimpanya.
BUKK!
BUKK!
Dan detik berikutnya, semakin banyak puing yang berjatuhan akibat terbakar. Api semakin ganas melahap setiap benda di rumah itu.
***
Semua preman berhasil keluar dari rumah yang terbakar itu, mereka melihat sang bos sedang berusaha keras memapah suaminya yang tak sadarkan diri. Cepat-cepat mereka menghampiri.
"Bos, tugas kami sudah selesai. Kami minta imbalan sesuai dengan yang kita sepakati di awal." Ucap ketua preman.
Sari mengerlingkan mata, kenapa mereka berhasil lolos? Kalau seandainya mereka ikut mati terbakar di sana, mungkin Sari tidak akan merogoh kocek untuk membayar jasa premanisme mereka.
Tapi, tak apalah, Saat ini Sari dan Via sedang berbahagia. Mereka berhasil menyingkirkan Erina dan keluarganya. Meskipun suaminya kini terluka lumayan parah sepertinya.
Sari kemudian membawa dua gepok uang yang ia simpan di balik jaketnya. Tak tanggung-tanggung, Sari memberikan semua uang itu pada preman-preman suruhannya. Sebenarnya, dia hanya menyuruh satu preman, tapi teman preman itu yang banyak. Namun tak bisa di pungkiri, kehadiran mereka sangat membantu.
Mata preman-preman itu berbinar saat melihat dua amplop coklat yang berada di tangan ketuanya sangatlah tebal.
"Ayo kita cepat pergi dari sini sebelum ada orang yang sadar rumah ini kebakaran!" Seru Via.
Suara sirine mobil polisi memenuhi udara malam itu, Via, Sari dan anak buahnya panik saat melihat polisi satu persatu keluar dari mobil dinas itu.
"Ayo kita kabur! Jangan sampai kita tertangkap oleh polisi." Saru persatu preman dengan cekatannya memanjat tembok samping rumah itu dan berhasil melarikan diri.
"Hey, tunggu! Bantu saya juga!" Teriakan Sari sepertinya tidak di dengarkan oleh para preman, mereka sudah mendapatkan upah sehingga tak ingin terlibat lagi dengan urusan bosnya. Apalagi polisi sudah datang.
"Lari Via!" Sari berseru saat melihat polisi yang berlari mendekat ke arahnya.
Kedua perempuan itupun mengambil ancang-ancang untuk berlari, melupakan Bayu yang masih tak sadarkan diri dan membiarkannya tergeletak begitu saja di halaman rumah itu.
"BERHENTI!" Polisi berteriak sambil mengacungkan senjata api.
Namun Via dan Sari tak menghiraukannya, mereka tetap berlari meskipun polisi sudah memperingatkan.
"Berhenti atau saya tembak!"
__ADS_1
"Ayo cepat Via!"
Dan...
DORR!
Satu peluru berhasil keluar dari senjata api, polisi telah memperingatkan, namun mereka tak menghiraukan. Jadi, mereka harus menerima akibatnya.
Sari jatuh terkulai di atas aspal jalanan saat peluru bersarang tepat di betis sebelah kirinya. Darah segar langsung keluar tak terbendung dari sana. Via kaget setengah mati melihat banyaknya darah yang berceceran.
"Tante." Mulut Via terbuka lebar, panik, syok dia seperti orang bodoh menonton tantenya yang menjerit-jerit kesakitan. Lupa akan tujuannya untuk kabur. Bayang-bayang akan kematian ibunya kembali berkelebatan, saat tubuh ibunya tumbang dan mulutnya mengeluarkan busa dan tubuhnya mengejang.
Di saat Via lengah itulah polisi memborgol kedua lengan Via.
"Lepaskan saya!" Via berontak, namun dia tak bisa berkutik karena borgol kini membelenggu tangannya.
"Bawa mereka!"
"Kaki saya sakit!" Sari bahkan kini sudah menangis merasai nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Itu akibat karena kalian kabur. Jadi, terima saja!"
Via dan Sari digiring menuju kantor polisi, polisi yang lain juga sudah mengamankan Bayu yang masih tak sadarkan diri, luka di kepala akibat di hantam Iqbal menggunakan vas bunga sepertinya cukup parah, pecahan beling bersarang di kepalanya.
Via dari dalam mobil polisi bisa melihat banyak orang yang wara wiri berusaha memadamkan api. Dia tersenyum evil, biarkan dirinya di tangkap, nanti dia bisa melarikan diri. Yang terpenting dia sudah berhasil menghabisi Erina dan keluarganya. Hatinya merasa puas sekarang.
Dua mobil polisi bergerak maju membawa Via dan Sari dengan mobil yang berbeda, disaat itulah damkar tiba dan berusaha untuk menjinakkan api yang semakin menjadi-jadi itu. Sepertinya warga yang menelpon damkar saat sadar telah terjadi kebakaran di kawasan kompleks perumahan mereka.
Devan dan Iqbal berhasil membawa Albi keluar dari amukan api meskipun Albi bersikeras untuk menyelamatkan Erina. Erina tak akan selamat mengingat tubuhnya yang sudah di sirami oleh minyak tanah, api pasti langsung menyambar dan menghanguskan tubuh Erina.
Albi jatuh terkulai dengan lemas, dia sudah gagal. Dia tak bisa menyelamatkan Erina, perempuan yang sangat di cintainya. Lantas, apa arti hidupnya sekarang? Padahal Albi sudah sangat tak sabar bertemu dengan Erina dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
Namun apalah daya, maut memisahkan mereka dengan cara yang sadis. Albi telah kehilangan Erina untuk selamanya, tak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Api perlahan mulai jinak, dua mobil damkar berhasil meredamkan amukan api. Tinggal tersisa kepulan asap hitam yang memenuhi langit malam.
"Arrrrggh!" Albi menjambak rambutnya sendiri. Dia terlihat sangat berantakan, begitupun dengan Iqbal dan Devan, wajah mereka menghitam akibat mencoba menerobos api saat hendak keluar.
"Bi!"
__ADS_1
___________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca... Beberapa episode menuju final...