
Petang itu, Erina dan rombongannya baru keluar dari polres. Bahkan suara adzan sudah berkumandang memenuhi langit berwarna jingga.
"Mendingan loe sama Baik ikut mobil gue aja Er, kasian adik loe kalau naik motor. Nanti bisa masuk angin." Ucap Devan saat berada di parkiran.
Deg!
Kenapa di saat Erina berusaha untuk move on dari Devan, laki-laki itu malah semakin terasa dekat dengannya. Meskipun Eina sendiri tau kalau perhatian yang Devan berikan hanya karena Erina adalah sahabat kekasihnya. Lama Erina menatap Devan sebelum akhirnya dia bicara.
"Apa nggak ngerepotin?" Tanya Erina.
"Ya nggaklah. Santai aja kali. Loe sama Via kan sahabatnya Ameera, berarti kalian juga sahabat gue mulai sekarang." Jawab Devan.
Nah kan, posisi Erina dia samakan dengan Via. Tapi, memang seperti itu kan kenyataannya. Sampai kiamat tiba sekalipun, Devan takan pernah mau menoleh kepada dirinya.
"Ekhm." Albi berdehem kecil untuk menyudahi perdebatan Erina dan Devan.
"Ya udah, kita cus sekarang. Kasian nenek gue sendirian dirumah. Kalau ada yang ngapelin kan bisa bahaya, nanti di grebeg sama warga terus mereka dinikahin gimana." Ucap Via mencairkan suasana.
"Ya udahlah Vi, biarin aja nenek loe biar punya gandengan. Kasian kan dia kesepian selama ini. Hihi." Ameera menimpali, tumben sekali dia mau menggubris perkataan Via yang suka ngelantur itu.
"Ogah ahh, gue nggak mau punya kakek tiri." Jawab Via.
"Terus, motor gue gimana?" Tanya Erina.
"Kalau boleh gue yang bawa ya Er." Ucap Albi.
"Oh ya udah, nanti loe anterin ke rumah gue ya!" Pinta Erina.
"Terus, loe pulang sama siapa De?" Tiba-tiba Ameera bertanya.
"Ha? A aku pulang naik angkot." Jawab Dea sambil gemetar. Aneh memang si Dea ini, dia seperti takut bicara dengan sesama manusia.
Lagi pula, Erina masih merasa curiga kepada si Dea ini. Dia belum puas karena tidak mengintrogasi Dea secara keseluruhan. Sedang apa coba dia di daerah Kiara Condong ini? Tempat ini kan lumayan jauh dari rumah Dea dan sekolah. Tadi saja saat menuju kemari, Erina dan Albi memerlukan waktu satu jam lebih untuk sampai.
__ADS_1
"Jangan naik angkot. Loe biar bareng gue naik motornya Erina aja ya!" Albi berseru. Membuat hati si introvert itu terlonjak kesenangan.
Hati perempuan mana coba yang tak akan terbang keawang-awang saat di tawari pulang oleh laki-laki yang selama ini dia kagumi dalam diam? Bahkan, jika Albi menyapanya saja itu adalah suatu yang mustahil terjadi baginya. Tapi hari ini, entah mimpi apa Dea semalam, Albi menawarinya tumpangan. Naik motor. Yang selama ini hanya ada di dalam bayangan Dea saja, mungkinkah angan-angan itu akan menjadi kenyataan sekarang? Jantung Dea berdebar tak karuan. Kegugupan semakin jelas terlihat di wajahnya yang di tekuk. Tangannya sedingin es sekarang. Keringat membasahi pelipisnya di tengah udara dingin seperti ini.
Erina menyadari semua tingkah Dea yang semakin aneh itu. Fix, Dea menyukai Albi. Dia sedang grogo sekarang. Kenapa Erina jadi semakin tidak menyukai Dea?
"Iya De, loe pulang bareng Albi aja. Lagian nggak baik lho, anak perawan malem-malem naik angkot sendirian." Via berkoar.
Hey, apa-apaan sahabatnya itu? Erina menatap Via dengan tak terima. Dia malah mendukung si Dea! Bukankah kemarin dia yang bersemangat menasehati Erina untuk membuka hatinya untuk Albi? Sebenarnya yang sahabatnya itu Erina atau Dea?
Via ingin ngakak guling-guling di tanah melihat wajah Erina yang memerah menahan amarah. Biar dia meraskan sedikit penyesalan karena telah menyia-nyiakan Albi selama ini. Via ingin sahabatnya itu sadar, jika seseorang akan terlihat lebih indah ketika telah dimiliki oleh orang lain.
"I iya udah." Jawab Dea akhirnya. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Pikirnya. Jika Albi tak mungkin ia miliki, setidaknya biarkan Dea merasakan indahnya bersama dengan laki-laki yang ia kagumi barang sebentar saja.
"Ayo Er!" Via sudah membuka pintu mobil Devan. Dengan berat hati Erina masuk, di susul Baim kemudian Via di jok belakang.
Sedangkan Devan membuka pintu bagian penumpang depan, mempersilahkan bidadari nya masuk kedalam.
"Ayo Meer!" Serunya sambil menebar senyum. Lagi dan lagi. Membuat Ameera meleleh dengan perhatian kecil yang Devan berikan.
***
Suasana di mobil Devan terasa membosankan bagi Erina. Di kursi kemudi, ada Devan yang asyik bercerita tentang keluarganya, Ameera menyimaknya sambil sesekali tertawa ketika merasa ada yang kocak. Terdengar seru, tapi Erina tak berniat untuk menimbrung. Pasti Erina hanya akan di abaikan. Dunia kan hanya milik mereka berdua saja. Erina mereka anggap hanya sebatas butiran debu yang tersebar.
Cih!
Baim sudah terlelap di pangkuan Erina sekarang. Sepertinya bocah itu kelelahan setelah seharian menghilang.
Lalu, makhluk yang duduk di samping Erina kini sedang melakukan video call. Pasti dengan pacar barunya yang kemarin pergi ke Tangkuban Perahu. Sama saja, Via juga tidak menganggap Erina ada jika sedang video call. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing.
Baiklah. Hanya Erina disini yang merasa kesepian. Dipalingkan nya wajah ke arah jendela, mencoba mencari pemandangan yang mungkin tak akan membuatnya merasa jenuh.
Deg!
__ADS_1
Niatnya ingin mencairkan suasana hati, namun malah pemandangan menyesakkan dada yang ia lihat di luar sama. Motor Erina yang di kendarai Albi sedang melaju tepat di samping mobil Devan, Erina bisa melihat dengan jelas dari dalam sana. Bagaimana motornya berjalan dengan cukup tenang.
Lalu, kedua makhluk yang mengendarainya terlihat sedang tertawa bersamaan. Sebuah pemandangan yang langka terjadi. Untuk pertama kalinya Erina melihat Dea tertawa selepas itu.
Hey! Apa-apaan ini?
Astaga! Apa yang sedang mereka bahas? Kenapa mereka terlihat sangat akrab disana? Bukannya si Dea sangat anti dengan yang namanya pergaulan? Tapi kenapa saat bersama dengan Albi, Dea seperti bukan Dea yang biasa ia lihat di sekolah?
Terbakar. Hati Erina terasa terbakar.
Dasar buaya! Omongannya tak bisa di percaya. Semua laki-laki itu ternyata sama saja. Bilangnya cinta, tapi lihat sekarang bagaimana kelakuannya. Erina menatap mereka dengan muak. Yang di tatap sepertinya tidak menyadari, saking asiknya bercanda dan tertawa.
Tadinya, Erina sudah membulatkan hati dan merangkai kata-kata untuk meminta maaf karena dirinya telah salah menuduh Albi yang menaruh bangkai tikus. Tapi setelah melihat kedekatannya dengan Dea, Erina jadi harus berpikir ulang untuk meminta maaf. Biarkan saja. Erina sudah terlanjur kecewa sekarang.
***
Mama Sofi melepaskan semua beban yang ada di hatinya setelah seharian dibuat gelisah dengan hilangnya Baim. Bahkan Baim yang sudah tertidur tadi, kini kembali terbangun akibat mendapat ciuman bertubi-tubi dari mama. Papa Heri juga sudah pulang, dia sedikit memarahi Erina di depan teman-temannya. Karena Erina tak memberitahu papanya jika terjadi masalah sebesar ini.
Erina hanya mengaku tak ingin membuat papanya cemas dan menganggu pekerjaannya.
Setelah berpamitan dan sedikit berbasa basi kepada mama Sofi atas hilangnya Baim, Devan Ameera dan Via pamit untuk pulang. Erina mengantar kepulangan mereka ke halaman, hingga mobil Devan hilang dari pandangan matanya.
Erina melenggang masuk kembali kedalam rumah. Ingin segera menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Rasanya begitu lelah.
Tiddd.... Tiddd...
Baru saja telapak kakinya menyentuh teras, suara klakson motor itu terdengar dibunyikan seseorang. Erina menoleh karena merasa tak asing dengan suara klakson itu.
Hey, itu kan suara klakson motor mamanya. Erina bisa melihat di balik pagar sana Albi yang tengah nangkring diatas motor, sambil tersenyum manis ke arahnya.
Jangan tertipu lagi Er, dia kerjaannya cuma tebar pesona aja ke semua perempuan!
_________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...