
Krek!
Belum sempat Erina menjawab pertanyaan Albi, pintu kamarnya sudah ada yang membuka lagi.
"Beb!" Seru Erina saat melihat jika Via lah yang masuk.
"Hehe, gue ganggu ya?" Ucap Via sambil cengar-cengir menunjukan deretan giginya yang rapi.
"Nggak kok beb, justru gue pengen bicara sama loe. Duduk sini!" Erina menepuk bagian kasur yang kosong.
"Apa sih? Kayaknya serius banget?" Tanya Via setelah menjatuhkan pantatnya di samping Erina. Dia melirik Albi dan Erina yang wajahnya sama-sama serius.
"Loe tadi tanya sama gue kan Bi, siapa orang yang gue curigai dan berpotensi besar buat bunuh Ameera?" Erina mengulang pertanyaan Albi.
"Iya." Jawab Albi sedikit bingung, kenapa Erina balik bertanya.
"Gue curiga sama si Dea. Gue rasa Ameera tau dan punya bukti kalau Dea yang udah neror gue selama ini, dan si Dea merasa kalau posisinya terancam karena bisa aja Ameera bocorin rahasianya itu ke gue dan ke semua orang. Jadi dia bunuh Ameera buat menghilangkan saksi." Erina mengemukakan ekspetasinya.
"Masuk akal juga sih." Via mangut-mangut.
"Kenapa Dea harus neror loe? Apa untungnya buat dia coba?" Tanya Albi.
"Mungkin aja si Dea itu anaknya bokap gue dari istri pertamanya. Mungkin dia mau balas dendam sama keluarga gue. Karena yang di teror itu bukan cuma gue, nyokap, bokap sama Baim juga kena." Jawab Erina.
"Tapi kan kita belum tau anaknya bokap loe itu cewe atau cowo." Ucap Via.
"Loe bener Vi. Makanya gue harus selidiki si Dea itu buat membuktikan kalau dugaan itu bener." Erina.
"Tapi beb, kok gue curiga sama Violla sama ibunya ya?" Via mengemukakan kecurigaannya.
Albi dan Erina menatap Via bersamaan. Merasa kalau perkataan Via ada benarnya juga, karena selama ini kedua nama itu sangat tidak menyukai Ameera. Mereka ingin menyingkirkan Ameera dan menguasai harta milik ayahnya Ameera. Kecurigaannya kepada Dea dan Violla kini 50% 50%. Kemungkinannya sama besar.
"Loe bener. Oke, target gue sekarang ada dua orang. Dea sama Violla. Gue bakalan nyelidikin mereka mulai sekarang."
"Loe tenang aja, gue bakalan bantu loe Er." Ucap Albi .
"Gue juga. Kita selidiki kasusnya Ameera sama-sama." Via berseru dengan semangat.
__ADS_1
Erina tersenyum melihat kedua orang di hadapannya, seperti menemukan kembali tujuan hidupnya. Mungkin sedikit keberuntungan masih tertinggal, Erina masih di kelilingi oleh orang-orang tulus yang.
Terkadang, jatuh itu perlu agar kita tahu tangan mana yang terulur dan membantu kita untuk kembali bangkit.
"Thanks ya guys. Kalau kalian nggak ada, gue nggak yakin kalau gue bisa melalui ini sendirian."
"It's oke beb. Kita harus mengungkap kebenarannya dan menegakkan keadilan untuk Ameera." Seru Via.
***
Pagi itu, Erina memutuskan untuk kembali ke sekolah. Dia tak bisa hanya berdiam diri saja di rumah sedangkan waktu terus bergulir. Dia harus segera menemukan siapa orang yang sebenarnya telah membunuh Ameera agar dirinya bisa selamanya terbebas dari jeratan hukum.
Niatan ingin fokus belajar untuk ujian nasional, pikirannya kini malah harus terbagi dua. Mungkin ujian hidup lebih berat dari pada ujian matematika. Pikir Erina.
Dia berjalan sendirian, sedangkan Via sedang memarkirkan sepeda motornya.
Baru saja kakinya menginjak halaman, dia sudah disambut dengan tatapan tidak mengenakan dari para murid yang juga hendak memasuki gedung sekolah.
Tatapan mereka seakan mengintimidasi Erina. Erina baru sadar, kalau kini hidupnya takan sama seperti kemarin lagi. Perempuan itu merogoh masker di dalam saku kemudian memakainya, melanjutkan langkahnya sambil menunduk. Untuk menghindari mata mata jahat yang terasa menusuk ke dalam hati.
BUKK!
"Aww." Erina dan orang yang ia tabrak menjerit kesakitan, sampai masker yang Erina kenakan terlepas begitu saja.
"Astaga! Loe?! Berani-beraninya loe nunjukin muka loe di sekolah ini lagi? Setelah apa yang udah loe lakuin ke Ameera?"
Erina menoleh, ternyata orang yang baru saja ia tabrak itu adalah Violla. Tiga temannya terlihat mengintil di belakangnya. Dan kata-katanya itu berhasil membuat Erina terkejut. Violla adalah orang pertama yang terang-terangan memojokkan dirinya.
"Loe kalau nggak tau apa yang sebenernya terjadi, mendingan jangan ikut berkomentar deh. Oke." Ucap Erina berusaha untuk tak terpancing emosi.
"Apa loe bilang? Semua orang di muka bumi ini juga udah pada tau kalau loe yang udah bunuh Ameera. Dan sekarang loe masih berani menginjakkan kaki busuk loe itu di sekolah ini? Nggak punya malu banget sih loe jadi orang. Seharusnya sekarang itu loe ada di penjara, bukan disini." Nada bicara Violla cukup keras sehingga mengundang murid lain untuk ikut merundung Erina.
Erina merasa terpojok saat beberapa siswa lain ikut mengerumuni dirinya. Erina mundur satu langkah, jumlah mereka terlalu banyak untuk Erina lawan sendirian. Jika Violla dan gengnya masih bisa Erina tangani sendiri.
"Gila ya loe Er. Gue bener-bener nggak nyangka loe bisa setega itu bunuh Ameera. Ameera itu sahabat loe lho, kalian tiap hari jalan bareng, kumpul bareng. Loe emang nggak punya perasaan ya Er!" Hani berkoar sambil menatap Erina penuh kebencian. Erina menggeleng untuk menyangkal perkataannya.
"Di sekolah ini udah nggak aman guys, ada pembunuh berdarah dingin. Enaknya kita apain ya si PEMBUNUH ini?" Tanya Violla, sengaja ia menekan suaranya pada kata pembunuh.
__ADS_1
"Iya, kita harus hati-hati mulai sekarang guys, Ameera aja yang temen deketnya bisa dia bunuh apa lagi kita. Ihh, ngeri banget ya."
"Keliatannya aja mukanya polos, ternyata hatinya busuk ya."
Erina benci situasi ini, dia tak bersalah, namun seluruh dunia menghakiminya. Kata-kata cacian dan makian terus mereka layangkan kepada Erina, Erina menelan semua hinaan itu dengan getir. Beberapa saat dia terdiam dan menerima semua tuduhan itu. Sebelum akhirnya...
"Terserah kalian semua mau bilang apa tentang gue. Tapi satu hal yang perlu gue tegaskan disini, bukan gue yang bunuh Ameera. Kalian cuma bisa menilai dari apa yang kalian dengar. Apa kalian ada waktu kejadian itu? Hah? Nggak kan? Jadi nggak usah ikut-ikutan menghakimi gue!" Ucap Erina dengan lantang. Dia berani karena dia memang tidak bersalah. Dia harus membungkam mulut-mulut usil temannya itu.
"Alah, mana ada pembunuh mau ngaku. Kalau ada, penjara bisa jadi tempat wisata, iya kan guys?" Dengan bangganya Violla berseru dan meminta pendapat rekan-rekannya dalam membuli Erina.
"Udahlah, kita timpukin aja! Seraaaaang!"
Buk!
Buk!
Buk!
Buk!
Erina memejamkan matanya rapat-rapat saat kertas-kertas yang di buat menyerupai bola pingpong melayang ke udara dan mendarat tepat di wajahnya. Bahkan ada beberapa dari siswa itu yang melempar botol bekas minuman pada Erina.
Astaga!
Tak terkira jika ini adalah hal ter-menyedihkan yang pernah Erina alami. Kemana perginya rasa hormat mereka terhadap Erina? Bukankah selama ini mereka selalu segan kepada dirinya?
Dimata mereka kini Erina terlihat seperti seorang penjahat. Sementara mereka terus saja melempar kotoran itu padanya. Baru kali ini Erina diperlakukan layaknya topeng monyet. Rasanya itu benar-benar menusuk hingga ke tulang-tulang. Sekuat tenaga Erina menahan agar air matanya tidak jatuh.
Dia sudah bersumpah, apapun keadaannya, bagaimanapun situasinya. Erina harus kuat, dia tidak boleh cengeng. Atau semua orang akan selamanya menganggap dirinya bersalah.
Hap!
Erina bisa merasakan ada sepasang tangan yang merengkuh tubuhnya, dan saat itu pula kertas-kertas dan sampah berhenti menghujam tubuhnya.
Tentu saja, karena sampah-sampah yang masih saja di layangkan mereka tertahan oleh pemilik tangan yang merengkuh tubuh Erina. Perlahan dia membuka mata saat indra penciumannya menangkap sebuah wangi yang khas.
"Bi!"
__ADS_1
_________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...