
"Kita mau kemana dulu Er?" Tanya Albi di tengah perjalanan.
"Gue pengen langsung pulang aja Bi, kepala gue agak pusing." Jawab Erina.
"Oh, ya udah." Albi sedikit menambah laju kecepatan motornya, tak berselang 15 menit, motor itu berhenti tepat di depan gerbang rumah Erina. Erina turun segera.
Albi terdiam sambil memperhatikan wajah Erina yang sembab.
"Makasih ya Bi udah mau anterin gue." Ucap Erina lesu, tak ada semangat-semangatnya.
"Iya sama-sama. Loe beneran sakit Er? Muka loe pucat." Jawab dan tanya Albi.
"Gue nggak apa-apa kok Bi, cuma butuh istirahat aja." Jawab Erina sambil memaksakan untuk tersenyum.
Albi paham, akhir-akhir ini Erina sedang banyak pikiran dan mungkin batinnya tertekan setelah mendapatkan teror yang bertubi-tubi. Dan untuk itu semua, Erina masih belum menemukan titik terang tentang siapa pelaku sebenarnya.
Di tambah lagi perubahan sikap Ameera, sahabat yang Erina harapkan dapat membatunya memecahkan masalah ini, justru meragukan kesetiaan Erina. Albi merasa sangat prihatin, apalagi dirinya belum berhasil mengorek informasi dari Dea. Lantas, apa yang bisa Albi perbuat untuk mengurangi sedikit beban pikiran Erina?
"Loe yang kuat ya Er, loe nggak sendirian menghadapi masalah ini. Masih banyak kok orang-orang yang perduli sama loe dan berdiri di belakang loe. Gue salah satunya." Albi menyentuh pundak Erina.
Erina terdiam, lalu menatap tangan Albi yang nemplok di bahunya.
"Iya Bi." Jawab Erina.
"Ya udah, loe istirahat ya. Jangan lupa makan siang dulu habis itu minum obat. Gue ada nih obat penghilang rasa sakit kepala." Albi merogoh tas punggungnya, setelah menemukan apa yang dia cari, Albi menyodorkannya pada Erina. Erina menerimanya dengan ragu.
"Ini ampuh banget lho Er, gue kalau pusing suka minum obat ini terus tidur, pas bangunnya kepala gue langsung sembuh." Ujar Albi.
"Oh ya? Ya udah nanti gue coba." Balas Erina.
"Bang, abaaaang!" Suara imut itu berteriak dari arah rumah. Sontak Albi dan Erina menoleh. Terlihat Baim sedang berlari dengan semangatnya ke arah mereka.
"Baim!" Seru keduanya bersamaan. Dalam hitungan detik, Baim sudah berada tepat di hadapan Albi dan Erina.
"Bang, kapan kita ke pasar malam lagi?" Tanya Baim, nafasnya masih terdengar memburu.
"Pasar malam ya? Abang liat pasar malam yang kemarin udah di bongkar bos." Jawab Albi so akrab, pakai panggil bos segala lagi. Erina geleng-geleng kepala mendengar percakapan konyol mereka.
"Yaah, gimana dong? Baim pengen naik kuda-kudaan lagi." Baim nampak lesu, semangatnya pudar setelah mendengar penuturan Albi.
"Iya, abang juga pengen main kuda-kudaan lagi bareng kakak kamu ini." Balas Albi sambil melirik Erina dengan tatapan nakalnya.
__ADS_1
Erina sontak saja menghadiahi Albi dengan pelototan. Maksudnya apa coba? Sikap menyebalkannya sedang kambuh sepertinya.
Albi terkekeh saat melihat wajah merah padam Erina. Itu sangat konyol menurutnya, Erina seperti sedang kekesalan yang tak bisa dia ungkapkan.
"Tapi bos nggak usah khawatir. Nanti abang bakalan cari informasi pasar malam itu pindahnya kemana. Nanti kita pergi kesana ya. Kita naik ombak banyu sama kincir juga. Tapi kamu jangan ngantuk kayak kemarin lagi ya?!" Ucap Albi yang mampu membangkitkan kembali semangat Baim.
"Beneran bang? Asiiiiik." Loncat-loncat kegirangan.
Astaga! Dasar bocil! Si Albi juga kenapa suka sekali main ke pasar malam? Apa semasa kecilnya tak pernah main ke tempat semacam itu? Masa kecilnya kurang bahagia kali ya!
***
Rembulan kini menggeser posisi matahari merajai langit, tabur bintang seolah menjadi pengawal setia sang bulan.
Erina dan keluarganya baru saja selesai menikmati makan malam. Mereka kini sedang berkerumun di ruang tengah. Semua nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mama Sofi menonton sinetron kesayangannya, papa Heri sibuk dengan laptopnya, katanya ada pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini juga. Baim terlihat sedang menggambar sambil tengkurapan di atas karpet. Sedangkan Erina sedang memainkan ponselnya sambil tiduran di atas paha mama Sofi.
Sampai akhirnya suara imut Baim memecah kesibukan mereka dan itu berhasil membuat semua penghuni rumah menatap ke arah bocah itu.
"Kak, Baim suka deh sama abang pengamen itu. Baim pengen kak Er pacaran sama dia, biar Baim di teraktirin ice cream sama di ajakin jalan-jalan terus." Ucap Baim sambil tak beranjak dari posisi tengkurapannya.
Erina tercengang mendengar pertanyaan Baim, bocah ini pasti sudah termakan dengan semua bujuk rayu Albi. Astag! Pikiran Baim yang polos sekarang sudah terkontaminasi dengan hasutan dari Albi.
"Iya, dia itu baik banget sama Baim."
"Baik karena ada maunya. Lagian ya, kamu itu masih bocil, jangan pikirin pacar-pacaran." Ucap Erina.
"Bukan Baim, tapi kakak. Baim suka banget sama si abangnya." Baim membela diri.
"Hey Ibrahim! Kalau kamu suka sama dia, kamu aja yang pacaran sama dia sana! Nyebelin gitu orangnya." Ucap Erina sewot.
"Kamu lagi deket sama dia Er?" Tanya mama Sofi kepo.
"Nggak kok ma." Kilah Erina.
"Bohong ma, tadi aja kak Er di anterin pulang sama si abang. Si abang baik banget nanti Baim mau di ajakin ke pasar malam lagi." Sambar Baim.
"Hey Ibrahim! Udah deh ya kamu nggak usah berlebihan muji-muji cowok itu. Nanti orangnya terbang. Lagian ya, si Albi itu ngibulin kamu. Dia nggak bakalan ajak kamu ke pasar malam sekarang-sekarang. Dia kan lagi fokus belajar buat ujian nasional. Nanti emaknya marah kalau dia kelayapan terus." Ucap Erina panjang lebar.
"Hmm, ya udah deh. Biar nanti aja kalau si abangnya udah selesai ujian." Balas Baim, sambil tangannya tak henti menggambar di atas kertas.
"Kamu beneran nggak pacaran sama anak itu Er?" Tanya mama Sofi.
__ADS_1
"Ya nggak lah ma." Jawab Erina.
"Yah, sayang sekali ya. Padahal mama berharap kamu ada yang jaga lho. Mama takut si peneror itu mencelakai kamu, kalau kamu ada pacar kan mama nggak terlalu khawatir." Balas mama Sofi.
"Astaga ma! Erina udah besar kali. Erina bisa jaga diri sendiri. Buktinya sampai saat ini Erina masih sehat walafiat." Balas Erina.
"Mama kamu benar Er, kamu butuh pacar buat melindungi kamu." Papa yang masih berkutat dengan laptopnya ikut menimbrung.
Hey hey hey! Tunggu dulu, apa-apaan ini? Kenapa semua orang mendesaknya untuk pacaran? Bukan kah biasanya orang tua itu suka melarang anak-anaknya untuk pacaran? Kenapa orang tua Erina malah sebaliknya?
***
Erina membuka pintu kamarnya, ini waktunya untuk belajar. Ujian nasional akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi. Dia harus benar-benar fokus agar mendapatkan nilai yang memuaskan nanti. Dia tak berharap akan menjadi yang terbaik, karena Erina sadar dia tidak pintar-pintar amat. Lagi pula, di kelasnya terlalu banyak saingan.
Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi meja belajar, membuka buku pelajaran yang akan diikut sertakan dalam ujian nanti. Kalau tidak salah ada tiga mata pelajaran.
Drrttttt, drrttttt.
Baru satu buku yang di baca, ponsel yang ia letakan di samping bukunya bergetar. Erina segera meraihnya.
Dahinya mengerut saat mendapati nama Ameera terpampang di layar ponselnya. Ameera menelponnya? Untuk apa? Bukan kah tadi siang Ameera sudah habis-habisan memarahinya? Menuduhnya yang tidak-tidak. Ameera membenci Erina sekarang.
Kesedihan yang sempat Erina lupakan kini kembali merasuki hatinya saat mendapat telpon itu. Dia menatap sendu layar ponselnya. Sampai akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya.
Namun tak berselang lama, ponselnya kembali berdering. Ameera menelponnya lagi.
Mau apa dia sebenarnya? Apa dia mau menuduh Erina lagi dan memarahinya?
Namun Erina mengenyampingkan pikiran negatifnya, lalu berpikir ulang dan berpositif thinking kalau Ameera menelponnya untuk meminta maaf. Iya, dan setelah ini hubungan persahabatan mereka akan kembali menghangat seperti dulu.
Segera Erina menggeser icon hijau di layar ponselnya.
"Ya, halo Meer?"
"Er, Er, plis bantu gue Er!" Suara Ameera terdengar gemetar dan ketakutan. Jauh berbeda dengan nada bicaranya tadi siang saat memarahi Erina.
"Bantu apa Meer? Loe kenapa?" Tanya Erina ikut panik.
___________________
Tetap tinggalkan jejak setelah membaca... Boleh dong kasih vote sama hadiahnya ðŸ¤ðŸ˜„
__ADS_1